JATIMTIMES - Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang mengapresiasi masyarakat yang selama ini sudah berani melaporkan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Donny Sandito Widoyoko menyampaikan, berdasarkan rekapitulasi data yang masuk di UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos-P3AP2KB Kota Malang pada semester pertama tahun 2025 tercatat terdapat 93 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan oleh masyarakat ke Dinsos-P3AP2KB Kota Malang.
Baca Juga : Korban Pencabulan Oknum ASN di Kota Batu Mulai Dapat Pendampingan Psikologis
"Kurang lebih (selama semester pertama) ada 93 kasus kekerasan (terhadap) anak dan perempuan. Kalau kami lihat perbandingannya dengan tahun 2024, memang ada kenaikan. Kalau sampai tahun ini hampir 50 sampai 70 persen," ungkap Donny.
Pejabat yang dulunya pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Humas (sekarang Protokol Komunikasi Pimpinan) Sekretariat Daerah Kota Malang ini mengatakan, dengan adanya kenaikan jumlah kasus kekerasan yang terlaporkan di UPT PPA Dinsos-P3AP2KB Kota Malang justru berdampak positif.
"Dengan adanya kenaikan ini justru berdampak positif dan bisa langsung harus kami tindak lanjuti. Karena dengan banyaknya laporan dari masyarakat, berarti masyarakat lebih berani terbuka, berani speak up (bersuara)," ujar Donny.
Menurut Donny, jumlah laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang sedikit belum tentu menunjukkan tindakan kekerasan juga sedikit. Donny menyebut, bisa jadi korban atau saksi belum berani melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya ke UPT PPA Dinsos-P3AP2KB Kota Malang maupun ke pihak Polresta Malang Kota.
"Naiknya angka laporan bukan berarti kekerasan meningkat, tapi bisa juga berarti masyarakat kini lebih terbuka dan sadar untuk melapor," kata Donny.
Sehingga dengan masyarakat yang saat ini lebih berani melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak kepada UPT PPA Dinsos-P3AP2KBKota Malang maupun kepada pihak kepolisian, petugas dari Dinsos-P3AP2KB Kota Malang dapat langsung mengambil tindakan cepat, tepat dan terukur untuk menyelamatkan korban.
"Jadi kami bisa langsung mengambil tindakan untuk menyelamatkan si korban. Baik itu KDRT ataupun kekerasan pada anak," tutur Donny.
Lebih lanjut, berdasarkan hasil pendalaman yang dilakukan oleh petugas dari UPT PPA Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Malang terjadi di lingkungan keluarga yang mampu maupu tidak mampu dari segi ekonomi.
Baca Juga : Sekolah Rakyat Kota Batu Kedatangan 51 Siswa Susulan, Sebagian Anak Putus Sekolah
"Kasusnya biasanya kekerasan fisik. Kalau yang sudah dilaporkan ke kami itu kebanyakan kekerasan fisik. Yang melakukan cenderung keluarga terdekat, baik itu KDRT ataupun kekerasan seksual. Yang sering terjadi, pelakunya adalah keluarga terdekat," jelas Donny.
Sementara itu, meskipun dirinya menilai kenaikan laporan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan hal yang positif dari segi mental para korban maupun saksi yang berani melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun jajaran Dinsos-P3AP2KB Kota Malang terus melakukan sosialisasi dan aksi nyata dengan menjalankan berbagai program kerja untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
"Ya untuk kampanyenya yang pertama adalah menguatkan peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam membentuk perilaku," ujar Donny.
Pihaknya pun mendorong masyarakat di Kota Malang agar lebih fokus mengurusi masing-masing keluarga daripada mengurusi keluarga orang lain. Kecuali, ketika di lingkungan keluarga orang lain terdapat tindak kekerasan yang tampak, diharapkan masyarakat dapat membantu korban untuk melaporkan ke UPT PPA Dinsos-P3AP2KB Kota Malang ataupun ke Polresta Malang Kota.
"Kita tidak perlu melihat suami/istri orang lain, tapi mengurusi istri atau suami kita sendiri, kemudian perhatikan anak-anak kita sebelum anak-anak kita diperhatikan oleh orang lain. Jadi lebih ke penguatan keluarga. Kemudian mengenalkan ke anak-anak terkait edukasi seksual, kekerasan dan lain sebagainya," pungkas Donny. (ADV)