Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Tekno

Gubes Ilkom Unair: Starlink Berbahaya Bagi Indonesia 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

20 - May - 2024, 18:49

Placeholder
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Henri Subiakto. (Foto: situs milik Henri Subiakto)

JATIMTIMES - Penyedia jasa internet berbasis satelit, Starlink, dipastikan beroperasi di Indonesia. Bahkan secara khusus pemiliknya yaitu pebisnis asal AS Elon Musk meresmikan layanan tersebut di Bali pada Minggu (19/5) siang.

Merespons hadirnya Starlink di Indonesia, beberapa pengamat pun turut menyampaikan keresahannya. Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Henri Subiakto tidak setuju Starlink diizinkan beroperasi di Indonesia. 

Baca Juga : Flushing Bendungan Wlingi dan Lodoyo di Blitar: Upaya Pemulihan Kapasitas Waduk dan Pengendalian Banjir

"Starlink tak hanya berpotensi membangkrutkan perusahaan nasional di bidang telekomunikasi & internet service provider. Seperti group telkom, indosat dll, tapi Starlink jg bisa dimanfaatkan kekuatan sparatisme seperti KKB/OPM dll, untuk komunikasi mereka tanpa terdeteksi negara atau pemerintah Indonesia. Starlink berpotensi akan mengoyak NKRI," jelas Henri, melalui akun X pribadinya pada Senin (20/5). 

Lebih lanjut, pegiat sosial di X itu juga menyebut jika di dunia, Starlink lebih banyak digunakan oleh negara-negara satelit atau pendukung Amerika Serikat. Pasalnya, satelit Starlink memiliki perbedaan signifikan dibandingkan satelit biasa seperti Palapa, Satria, Kacific, Telkom 1 & satelit-satelit lain milik Eropa maupun AS di luar Starlink.

Henry pun membandingkan kualitas dan kinerja antara Starlink dengan satelit komunikasi konvensional. 

"Starlink itu satelit Low Earth Orbit (LEO) yg beroperasi dg ketinggian sekitar 340 hingga 1.200 km di atas permukaan bumi. Starlink ukurannya kecil jumlahnya ribuan dirancang bekerja bersama secara sinkron menyediakan layanan internet. Mereka seolah seperti BTS terbang," jelasnya. 

Sementara itu, kata mantan Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika RI sejak 2007 tersebut satelit komunikasi konvensional ditempatkan di orbit geostasioner (GEO) sekitar 35.786 kilometer di atas khatulistiwa bumi. Di mana satelit ini berada di satu titik relatif tetap dari permukaan bumi untuk bisa melayani publik butuh perangkat stasiun bumi.

Selain itu, Henry juga menjelaskan bahwa setiap satelit Starlink beratnya sekitar 260 kilogram. Sedangkan, satelit GEO lebih besar dan mahal karena teknologi dan perlengkapan lebih kompleks, dengan kebutuhan bertahan di orbit yang lebih tinggi.

"Starlink pakai teknologi phased-array untuk antena, yg memungkinkan satelit mengarahkan sinyal tanpa harus memindahkan satelit itu sendiri. Sistem ini dirancang utk latency rendah & kecepatan tinggi. Alat penangkap sinyal satelit hanya menggunakan antena kecil & alat seukuran laptop besar yg bisa dipindah2kan," ujarnya. 

"Sedang Satelit GEO hrs pakai antena besar yang tetap utk komunikasi berkapasitas tinggi. Karena itu satelit konvensional butuh mitra utk mendistribusikan layanannya ke masyarakat. Itulah perusahaan operator seluler & ISP yg menjadi mitranya," imbuhnya. 

Kebutuhan dengan operator seluler tersebut, kata Henry, beda dengan Starlink yang tidak butuh mitra. Sehingga menurut dia, hadirnya Starlink bisa mematikan perusahaan lain di bidang internet, seluler dan internet. 

"Mereka bisa melayani langsung ke publik tanpa pihak ketiga. Maka masuknya Starlink bisa jadi awal kematian perusahaan2 nasional di bidang internet, seluler & jg satelit," jelasnya. 

Baca Juga : Jembatan Lembayung Menganga, Warga Resah Tak Kunjung Ada Perbaikan

"Jadi starlink bkn sekedar perusahaan perangkat & layanan satelit semata, tp Starlink jg berfungsi sebagai perusahaan internet service provider, bahkan bisa berfungsi sbg platform digital, mengingat Elon Musk juga memiliki perusahaan X (dulu Twitter) yg sekaranf tak sekedar medsos tp juga mengarah jadi platform media komunikasi," tambahnya. 

Pria yang juga sempat menjabat sebagai Komisaris PT Metra Digital (Telkom Group) pada 2013 itu menegaskan bahwa Starlink membahayakn. Di mana perusahaan Starlink trafik dan kontennya di luar jangkauan yuridiksi, kedaulatan digital & kewenangan hukum nasional, selain bisa dimanfaatkan untuk melawan kedaulatan negara dan juga dapat mengancam keamanan nasional.

"Perusahaan Starlink sebagai perusahaan AS dilindungi US Cloud Act 2018. Data yg mereka kumpulkan atau berada di perusahaan itu tidak boleh diakses negara lain (termasuk Indonesia), tp harus terbuka pada Pemerintah & penegak hukum AS. Persoalannya Starlink apa mau nurut hukum di Indonesia atau hukum AS?," ungkapnya. 

Jika Starlink melayani Papua atau daerah konfik lain, menurut Henry, datanya bisa diakses intelejen dan pemerintah AS untuk kepentingan politiknya. Sebaliknya, data-data itu tidak bisa diakses pemerintah Indonesia. "Disitulah kenapa Starlink berbahaya bagi NKRI, saat melayani wilayah gunung2 dan pedalaman Papua," pungkasnya.

Seperti yang terjadi di Ukraina, dijelaskan Henry bahwa Starlink dipakai tentara Ukraina melawan Rusia. Hal tersebut membuat Rusia kewalahan, sebab pergerakan pasukannya bisa terpantau tentara Ukraina. 

"Lalu apa jadinya kalau OPM/KKB juga pakai fasilitas Starlink? Terlebih kalau gerakan itu didukung asing, siapa yg tanggung jawab jika menjadi makin besar, canggih dan mampu melawan TNI/Polri atau kekuatan negara," jelasnya. 

"Bagi rakyat kecil tahunya internet murah & sampai pelosok2 pasti didukung. Tapi bagaimana konsekuensinya, itu yg harus dipikirkan. Agak mending kalau Elon bersedia setuju dan komitmen tunduk pada UU Indonesia. Lalu wilayah layanan tidak mencakup wilayah rawan seperti Papua? Apakah Elon Musk mau? Silahkan ditanyakan pada mereka!!," pungkas Henry. 


Topik

Tekno Starlink bahaya starlink Henri Subiakto



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni