Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hukum dan Kriminalitas

Direktur Properti Bodong di Malang Diringkus Polisi, Tipu Pembeli Tanah Kavling Hingga Ratusan Juta

Penulis : Ashaq Lupito - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

16 - May - 2024, 16:06

Placeholder
Kasatreskrim Polres Malang AKP Gandha Syah Hidayat (tengah) saat konferensi pers penipuan tanah kavling yang berlangsung, Kamis (16/5/2024). (Foto: Ashaq Lupito/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Polres Malang menetapkan Direktur PT Hadara Propertindo Jaya, Tomy Bachtiar Safitri sebagai tersangka kasus penipuan penjualan tanah kavling. Berdasarkan perkembangan penyidikan polisi, korban diperkirakan berjumlah puluhan orang. Sedangkan total kerugian yang dialami para korban diperkirakan mencapai ratusan juta.

"Tersangka telah melakukan penjualan tanah kavling kepada para korban. Status tanah yang dijual tersangka tersebut belum jelas, karena tersangka belum membayar lunas kepada pemilik lahan," ungkap Kasatreskrim Polres Malang AKP Gandha Syah Hidayat dalam konferensi pers yang berlangsung pada Kamis (16/5/2024).

Baca Juga : 5 Wilayah di Jawa Timur dengan Produksi Padi Tertinggi dan Terendah 

Tanah kavling yang dijual tersangka tersebut berlokasi di Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Sedangkan salah satu korban yang membuat laporan kepolisian bernama Winarti Juliana. Wanita 51 tahun tersebut berasal dari Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.

Sementara itu, kronologi bermula saat korban melalui anaknya pada 14 Maret 2022 membeli dua tanah kavling kepada tersangka. Tanah kavling yang dibeli oleh korban tersebut berada di Green View, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

"Tersangka menjual tanah kavling kepada korban seharga Rp 298 juta. Kemudian korban pada saat itu melakukan pembayaran uang tanda jadi sebesar Rp 5 juta," ujar Gandha.

Setelah uang tanda jadi diterima oleh tersangka, korban diminta untuk mengangsur pembelian tanah kavling secara bertahap. Di sela korban mencicil pelunasan tanah kavling, tersangka sempat menerbitkan Surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli pada tanggal 12 April 2022.

"Pembayaran terakhir yang diserahkan korban kepada tersangka totalnya sebesar Rp 215 juta," jelas Gandha.

Pembayaran terakhir yang mencapai Rp 215 juta tersebut, sejatinya telah melebihi ketentuan yang ditetapkan tersangka. Yakni, tersangka menjanjikan kepada korban akan dilakukan pembangunan apabila pembayaran sudah mencapai 50 persen.

"Namun oleh tersangka ternyata tidak dilakukan pembangunan," ujar Perwira Polri dengan pangkat tiga balok ini.

Korban kemudian menanyakan kejelasan pembangunan rumah di tanah kavling yang telah dia beli. Namun tersangka justru menawarkan agar tanah kavling yang telah disepakati untuk dibeli korban diganti ke lokasi lainnya. Yakni di D’orange Village, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

"Tersangka pada saat itu beralasan ada masalah. Namun kenyataannya pembelian tanah kavling dari korban kepada tersangka tersebut tidak ada kejelasannya," ujar Gandha.

Baca Juga : Berangkatkan CJH, Pj Wali Kota Wahyu Hidayat Titip Doa agar Kota Malang Lebih Baik

Merasa ada yang janggal, korban akhirnya menagih uang yang telah dibayarkan kepada tersangka. Namun ketika ditagih, tersangka selalu berkilah dan berjanji akan mengembalikan uang dari korban.

Lantaran janji yang disampaikan tersangka tak kunjung terealisasi, korban akhirnya memilih untuk membuat laporan kepada pihak kepolisian.

"Akibat kejadian tersebut pelapor (korban) mengalami kerugian sebesar Rp 215 juta," imbuh Gandha.

Polres Malang yang mendapatkan laporan kemudian melakukan serangkaian penyelidikan. Hingga akhirnya Unit 4 Satreskrim Polres Malang yang saat itu dipimpin Iptu Ahmad Taufik akhirnya berhasil menangkap tersangka.

"Terhadap tersangka saat ini sudah dilakukan penahanan di Rutan Polres Malang, guna kepentingan proses penyidikan lebih lanjut," ujar Gandha.

Tersangka dijerat Undang-undang tentang Perumahan dan Penipuan. Yakni sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 378 KUHP dan atau pasal 154 Juncto Pasal 137 Undang-undang Nomor 1 tahun 2011, tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

"Sedangkan ancaman pidana terhadap tersangka paling lama lima tahun penjara," pungkas Gandha.


Topik

Hukum dan Kriminalitas Usaha Properti usaha properti bodong peniuan properti malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Ashaq Lupito

Editor

Sri Kurnia Mahiruni