Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Sejarah Pabrik Gula Garoem di Blitar: Dari Kejayaan hingga Kejatuhan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

15 - May - 2024, 13:30

Placeholder
Suasana pesta giling dj Pabrik Gula Garoem.(Foto: Tropen Museum)

JATIMTIMES - Di Blitar, pernah berdiri sebuah pabrik gula yang produksinya mampu menembus pasar mancanegara. Namanya Pabrik Gula Garoem. 

Beroperasi sejak awal abad ke-20, pabrik ini menjadi simbol kemajuan industri gula di Indonesia pada masanya. Dengan teknologi canggih dan kapasitas produksi yang besar, Pabrik Gula Garoem tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mengekspor gula ke berbagai negara. 

Baca Juga : Tengkes Meningkat Tajam, Pemkab Blitar Bergerak Cepat Tangani Stunting

Meski kini hanya tinggal kenangan, sejarah pabrik ini masih tercatat sebagai bagian penting dari perjalanan industri gula di Blitar dan Indonesia.

Terletak sekitar 8 kilometer dari pusat pemerintahan dan persis di depan Halte Garoem milik SS, Pabrik Gula Garoem menjadi saksi bisu perjalanan industri gula di Indonesia sejak awal abad ke-20. 

Konsesi pembangunan pabrik ini diberikan kepada Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) pada akhir tahun 1904, dengan pembangunan yang dimulai pada tahun 1905 dan rampung sesuai target pada musim giling tahun 1906.
Pabrik Gula Garoem dibangun dengan harapan mampu menggiling hingga 15.000 pikul tebu per hari. Untuk mendukung kapasitas ini, HVA menyewa tanah seluas 2.082 bouw di berbagai wilayah seperti Blitar, Srengat, Wlingi, dan Gandoesari. 

Harga sewa tanah bervariasi antara f 25 hingga f 60 per bouw per tahun panen, dengan jangka waktu sewa yang bervariasi dari 8 hingga 15 bulan dan kemudian diperpanjang menjadi 5 tahunan.

Untuk mendukung distribusi gula, dibangun pula percabangan rel dari SS yang memecah lintas utama (Blitar - Malang) menuju ke dalam emplasemen pabrik. 

Setiap hari, setidaknya 16 gerbong barang mengangkut gula untuk diekspor ke mancanegara. Bangunan utama pabrik menggunakan rangka besi dan atap lengkung baja seluas 7.090 m², diproduksi oleh N.V. Ned. Ind. Industrie di Surabaya. Mesin produksi berasal dari N.V. Machinefabriek Gebr. Stork & Co. di Hengelo, Belanda, dan pabrik ini dilengkapi dengan 7 unit tungku pembakaran ampas produksi O. Dunkerbeck & Co.

Meski awalnya sukses, pabrik ini menghadapi berbagai tantangan. Dalam kurun waktu 1906 hingga 1918, Pabrik Gula Garoem terus melakukan perluasan kebun dengan dukungan fasilitas yang memadai. Pada tahun 1915, pabrik ini memperluas lahan hingga ke Blitar selatan, menghubungkan kawasan utara dan selatan sungai dengan jalur lori.

Namun, antara tahun 1911 dan 1918, puluhan hingga ratusan bouw lahan tebu terbakar setiap bulannya, terutama karena cuaca panas. 

Pada tahun 1917 saja, tercatat 110 kasus kebakaran yang mengakibatkan 158 bouw lahan tebu terbakar. Selain kebakaran, pencurian tebu juga meningkat, meski motif dan jumlah kerugian tidak tercatat dengan jelas. 

Untuk mengatasi masalah ini, pabrik menganggarkan sekitar f 20.000 untuk biaya keamanan dan mengeluarkan ancaman hukuman berat bagi pelaku pencurian dan pembakaran lahan.

Pada tahun 1918, angka kebakaran menurun menjadi 30 kasus, meski penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Pabrik menduga abu pembakaran kayu atau batu bara dari kereta api yang melintas dapat menyulut api pada dedaunan kering.

Belum tuntas menghadapi pencurian dan kebakaran tebu, Pabrik Gula Garoem dihadapkan dengan bencana alam. Pada tanggal 20 Mei 1919, Gunung Kelud meletus, merusak lahan pertanian dan perkebunan, memutus jalur transportasi, dan menutup Blitar dengan abu tebal. 

Baca Juga : Pesona Alami Kali Kebo: Destinasi Wisata yang Masih Asri di Blitar

Beruntung, Pabrik Gula Garoem tidak terkena dampak serius karena jalur lahar hujan bergerak menjauhi pabrik. Namun, produksi tetap terganggu dan pabrik hanya bisa memulai giling kembali pada 10 Juni 1919 dengan kapasitas terbatas, menyebabkan kerugian sekitar 4 juta gulden.

Letusan ini juga menyebabkan beberapa pabrik gula lain bangkrut, termasuk Pabrik Gula Papoh di Gandoesari. Seluruh kawasan perkebunan tebu yang dimiliki oleh Pabrik Gula Papoh kemudian diakuisisi oleh Pabrik Gula Garoem.

Pada dekade 1920-an, Pabrik Gula Garoem mulai mengalami kemunduran akibat surplus pasokan gula dan jatuhnya harga gula di pasar internasional, ditambah konflik internal perusahaan. 

Di Blitar, paham komunis tumbuh subur dan banyak buruh pabrik ingin bergabung dengan Serikat Boeroeh Goela (SBG) dan organisasi lainnya. Namun, perusahaan melihat komunisme sebagai ancaman. Pada tahun 1922, tujuh pegawai pabrik diberhentikan karena terlibat dalam SBG, yang memicu protes keras dari pekerja lain.

Setidaknya 22 orang pekerja yang kontra terhadap perusahaan melakukan aksi demo menuntut keadilan dan kesejahteraan. Perseteruan antara pimpinan pabrik dan para pekerja menyebabkan produksi menjadi kurang produktif. Pada tahun 1929, pendapatan pabrik mulai menurun drastis, dan pada tahun 1934 hingga 1935, pabrik bahkan tidak mampu melaksanakan produksi. Produksi utama dipindahkan ke Pabrik Koenir di Ngunut, Tulungagung, dan banyak pekerja dirumahkan.

Pada tahun 1936, Pabrik Gula Garoem mencoba bangkit kembali dengan sumber daya yang terbatas. Usaha ini berlangsung hingga tahun 1942. Dokumen terakhir yang tercatat adalah pengajuan perpanjangan izin untuk rel lori sepanjang 1.170 meter pada tahun 1941, yang disetujui pada 9 Januari 1942 dan berlaku hingga 27 September 1971. Namun, tidak ada dokumen lain yang menunjukkan keberadaan pabrik ini setelahnya.

Pabrik ini akhirnya runtuh saat Belanda melakukan aksi bumi hangus agar Jepang tidak menggunakan aset-aset pentingnya, termasuk Pabrik Gula Garoem. Karena kerusakannya yang cukup parah, pabrik ini kemudian tidak digunakan kembali.

Saat ini, Pabrik Gula Garoem tidak bersisa sama sekali, hanya beberapa sisa fondasi jembatan yang dapat ditemukan di beberapa kawasan sekitar Kecamatan Garum.

Meski Pabrik Gula Garoem kini tinggal kenangan, jejak sejarahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Blitar dan sekitarnya. Dari masa kejayaan sebagai salah satu pabrik gula terbesar hingga kemundurannya yang dipenuhi tantangan dan konflik, perjalanan Pabrik Gula Garoem mencerminkan dinamika industri gula di Indonesia pada awal abad ke-20.Keberadaannya tidak hanya mengubah lanskap ekonomi Blitar, tetapi juga meninggalkan warisan sejarah yang tak terlupakan.

Meskipun pabrik ini sudah tidak ada lagi, kisah perjuangan, tantangan, dan perubahan yang dialaminya akan selalu menjadi bagian penting dari sejarah industri gula di Indonesia.


Topik

Peristiwa pabrik gula garoem



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana