Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Lebih Berbahaya Merokok Atau Vaping? Berikut Penjelasannya

Penulis : Kristian Armando Purnama - Editor : Dede Nana

14 - May - 2024, 14:35

Placeholder
Rokok dan vape. Sumber gambar: google.com

JATIMTIMES - Menikmati sebatang rokok sambil berbincang dengan teman adalah salah satu bentuk "healing" anak muda zaman sekarang. Banyak anak muda yang menjadikan rokok sebagai hobi untuk beberapa penikmatnya. Merokok tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa melainkan banyak juga dilakukan oleh anak-anak di bawah umur yang menjadikan merokok sebagai alasan untuk terlihat keren. 

Dilansir dari Dataindonesia.id, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang merokok sebesar 28,62% pada 2023. Persentase tersebut meningkat 0,36% poin dari tahun lalu yang sebesar 28,26%. 

Baca Juga : Berawal dari Kebumen, Ini Sejarah Munculnya Trah Kolopaking

Berdasarkan jenis kelaminnya, persentase laki-laki di dalam negeri yang merokok mencapai 56,36%. Sementara, hanya 1,06% perempuan Indonesia yang merokok pada tahun ini. Menurut tempat tinggalnya, penduduk perdesaan yang merokok sebesar 31,09%. 

Persentase itu lebih tinggi dibandingkan di wilayah perkotaan yang sebesar 26,87%. Dilihat dari wilayahnya, Lampung menjadi provinsi dengan persentase penduduk merokok paling tinggi di Indonesia, yakni 34,08%. Posisinya diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dengan persentase sebesar 32,79%. 

Sebanyak 32,78% penduduk Jawa Barat juga merokok. Kemudian, persentase penduduk yang merokok di Bengkulu dan Sumatera Selatan masing-masing sebesar 31,86% dan 30,91%. Sementara, Bali menjadi wilayah dengan persentase penduduk merokok paling sedikit, yakni 18,9%. Di atasnya ada Kalimantan Selatan dan Papua dengan persentase penduduk merokok berturut-turut sebesar 22,24% dan 22,3%.

Dengan banyaknya perokok yang ada di Indonesia memunculkan banyaknya merek rokok di pasaran dengan suguhan rasa berbeda-beda, menambahkan kesan yang lebih modern. Pada abad SM, manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. 

Menurut laman Wikipedia, ada lebih dari 10 jenis rokok dilihat dari bahan pembungkusnya, bahan bakunya ataupun proses pembuatannya, semua memiliki nama yang berbeda-beda.

Namun perokok saat ini mulai berganti haluan pada alternatif lain yang dicap sebagai rokok sehat. Vape elektrik mulai merambah di Indonesia mulai tahun 2012 dan makin menjadi super star di kalangan remaja Indonesia. Sudah muncul dari tahun 1930 dan terus dikembangkan, awalnya hanya dipandang sebelah mata. 

Vape elektrik atau rokok elektrik mulai memiliki banyak peminat karena umumnya dianggap kurang berbahaya daripada merokok dengan tembakau dan sering digunakan sebagai alat untuk membantu berhenti merokok. Bentuknya yang mudah dibawa, baterai yang memudahkan, dan pilihan cairan pengganti tembakau pada rokok yang relatif lebih murah. Tercatat jika Indonesia menjadi negara yang menjadi konsumen terbanyak rokok dan vape yaitu sebanyak 25% pengguna. 

Belum lagi penawaran berbagai macam liquid yang lebih beragam dari rokok, membuat vape lebih diminati. Saking terkenalnya vape saat ini, banyak artis-artis dunia mulai mengeluarkan isian vape elektrik merk mereka masing-masing, dikutip dari Vape Magazine banyak artis Indonesia yang merambah dunia ini.

Karena banyak bermunculan berbagai jenis rokok dan vape ditengah masyarakat, muncul sebuah pertanyaan mengenai apa yang lebih berbahaya merokok atau menggunakan rokok ekektrik "ngevape"? 

Dalam sebuah artikel kesehatan yang diunggah oleh fdw.co.id menjelaskan bahwa Rokok atau vape adalah artis yang mempunyai penggemar setia dengan jumlah yang tidak main-main. Kedua barang tersebut telah menjadi barang populer dan favorit bagi hampir lebih dari 60 juta masyarakat sesuai dengan data survey yang diselenggarakan oleh Global Adult Tobacco Survey (GATS) Kemenkes di tahun 2021, meski begitu masih sedikit yang paham bahwa rokok dan vape memiliki banyak perbedaan. 

Rokok yang bahan utamanya adalah daun tembakau kering yang telah dicacah dan dibungkus dengan kertas, menjadi pemeran utama bagi pecinta barang ini. Beberapa komposisi alami didalamnya dicap mampu menghangatkan badan dan memberikan rasa rileks saat dikonsumsi. Hal tersebut merupakan salah satu alasan banyak pengguna rokok tetap bertahan dan tidak beralih ke vape. Kenikmatan saat membakar kertas rokok berisi daun tembakau tidak mampu digantikan oleh vape.

Berbeda cerita dengan pengguna vape, mereka lebih menyukai vape karena lebih ekonomis. Adanya berbagai mesin vape yang disuguhkan juga cairan isian vape yang memiliki berbagai rasa yang di luar nalar menjadi daya tarik tersendiri. Hanya dengan 1 botol cairan vape, mereka sudah bisa menikmati berbagai varian buah, kue, bahkan minuman beralkohol di dalam 1 mesin. Kemudahan lain yang dimiliki vape adalah mesin yang mampu digunakan berulang kali dan dapat bertahan lebih dari 1 tahun dinilai lebih ekonomis dibandingkan rokok yang hanya berisi 12 batang dengan keadaan sekali habis setelah digunakan.

Baca Juga : Kecelakaan Bus Pariwisata Subang Masih Jadi Sorotan, Ini 3 Doa Bepergian agar Selamat 

Sebenarnya bahan kimia yang terkandung pada rokok konvensional maupun vape sama-sama menghasilkan tar dan berbagai zat-zat beracun lainnya. Pada rokok gulung, tembakau merupakan bahan utamanya. Dari tembakau inilah tar juga zat-zat mematikan lain dihasilkan. Berbeda dengan vape, senyawa nikotin terdapat bukan pada irisan tembakau kering tetapi pada cairannya yang sekaligus juga mengandung propilen glikol dan ribuan zat berbahaya lain. Penelitian ilmiah memperlihatkan jika 76,5% pengguna vape mempunyai ketergantungan nikotin lebih tinggi dari rokok biasa. Pada rokok asap sedangkan pada vape adalah uap cairan tersebut yang dihirup oleh penggunanya.

Baik rokok ataupun vape memiliki dampak yang tidak main-main bagi tubuh penggunanya. Rokok yang berdampak menimbulkan serangan jantung, asam lambung, gangguan kesuburan, permasalahan kandungan, diabetes, masalah mulut dan kulit ternyata tidak mampu menghentikan penggunaanya. Label yang tertulis jelas mengenai dampak yang timbul pada kemasan, hanyalah sebuah peringatan pasif akibat dari efek kecanduan akibat konsumsi jangka panjang.

Sama halnya dengan rokok, bahaya vape bagi kesehatan juga menghantui para penggunanya. Layaknya rokok yang memicu berbagai macam penyakit, efek vape juga tidak boleh dianggap main-main. Pengguna vape dibayangi oleh banyak penyakit baik fisik maupun mental. Penggunaan vape jangka panjang berdampak sangat buruk bagi tubuh, mulai dari suara yang serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, bahkan batuk yang bisa tidak berhenti. Dampak yang sebenarnya juga timbul dari konsumsi rokok, muncul juga pada pengguna vape.

Berbagai percobaan sebenarnya telah banyak dilakukan, misalnya pada rokok yang membuat gigi kuning dan membuat paru-paru hitam. Hanya saja pada percobaan vape, warna kuning pada gigi ataupun warna hitam yang timbul pada paru-paru menjadi nihil sehingga banyak penggunanya melupakan dampak negatif vape.

Baik rokok atau pun vape tentu saja tidak ada yang mampu memuat lonjakan kesehatan pada tubuh. Meski vape dianggap lebih sehat, namun efek kesehatan yang dialami oleh penggunanya hampir serupa dengan pengguna rokok pada umumnya. Ternyata vape lebih berbahaya dari rokok konvensional, vape lebih merusak paru-paru penggunanya. Menjadi alat hiburan murah dan menyenangkan tidak menjadikan vape berubah menjadi alat kesehatan. Belum lagi limbah plastik dan limbah berbahaya yang diciptakan oleh baterai vape yang sudah tidak digunakan. Sayangnya hal ini masih menjadi isu miring bagi penggunanya yang tidak bisa lepas dari mesin ini.

Semua hal yang timbul akibat dari penggunaan dua barang tersebut harus menjadi titik berat sebelum mengambil keputusan untuk menggunakan rokok atau vape. Membuat rencana perlindungan juga tidak kalah penting disaat kita sudah terjun dalam kelompok pengguna aktif maupun pasif. 

Memiliki asuransi perlindungan penyakit kanker merupakan hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri. Mengikuti gaya hidup yang sehat seharusnya menjadi pilihan yang tepat saat ini, mengikuti komunitas pendukung yang mendukung perubahan pola hidup dan memberikan edukasi mengenai risiko kesehatan dari efek vape dan rokok, mampu menjadikan kita lebih berani dalam mengambil keputusan untuk berhenti menggunakan vape dan rokok.

 

 


Topik

Kesehatan bahaya rokok bahaya vape sejarah rokok dan vape



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Kristian Armando Purnama

Editor

Dede Nana