Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Tangkal Hoaks hingga Penyalahgunaan AI, AJI Malang Latih Cek Fakta Tingkat Menengah Bagi Jurnalis

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

21 - Apr - 2024, 18:57

Placeholder
Peserta Intermediate Fact Checking Training menyampaikan presentasi konten debungking atau cek fakta yang telah beredar di masyarakat Malang Raya. (Foto: Prasetyo Lanang/ JatimTIMES)

JATIMTIMES - Penyebaran informasi hoaks di tengah masyarakat dinilai masih mengkhawatirkan. Terlebih dengan perkembangan media sosial sekarang dan adanya penyalahgunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelegents (AI).

Untuk edukasi pelaku jurnalisme modern, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang melakukan pelatihan cek fakta tingkat menengah pada 20-21 April 2024.

Baca Juga : Single 'Just Be Happy', Cara Miss Whida Beri Motivasi untuk Semangat dan Ceria Jalani Kehidupan

Dalam pelatihan bertajuk Intermediate Fact Checking Training itu, puluhan jurnalis dibekali pembelajaran detail aktivitas pemeriksaan kebenaran di media sosial, penyusunan konsep, alat pencarian dan konten cek fakta. Peserta diberikan materi-materi yang sudah mengalami pembaharuan dalam perkembangan perangkat teknologi terkini untuk membantu kerja jurnalis.

"Teknik pembuatan berita cek fakta berbeda dengan kerja jurnalisme pada umumnya. Oleh karena itu, sumber daya manusia yang memproduksi berita cek fakta harus memiliki kapasitas mumpuni. Termasuk untuk menjelaskan bagaimana langkah-langkah yang ia lakukan hingga bisa menyimpulkan fakta sebenarnya sebuah informasi," ujar Ketua AJI Malang Benni Indo, Minggu (21/4/2024).

Dikatakan Benni, secara bertahap, jurnalis yang memiliki ketertarikan terhadap cek fakta semakin banyak. Tak terkecuali di Malang Raya. Menurutnya, ketertarikan jurnalis belajar cek fakta karena berkaitan erat dengan pekerjaannya. Banyak media yang sering sekali mengambil sumber dari media sosial hal tersebut perlu ketelitian dan disiplin verifikasi.

"Jika jurnalis di perusahaan media tersebut memiliki kemampuan cek fakta, maka ia bisa membuat berita yang informasinya akurat. Pasalnya, tidak sedikit informasi di media sosial tersebut hoaks," jelasnya.

Dengan kemudahan mendapatkan informasi di era internet saat ini, lanjut Benni, jurnalis memiliki tanggungjawab moral terhadap publik untuk memberikan informasi akurat dari berita-berita yang dibuat. "Jika media tidak menangkal informasi hoaks, dampaknya sangat merugikan karena bisa memengaruhi pola pikir mereka di masyarakat," bebernya.

Aghnia Adzkia, jurnalis BBC Indonesia yang juga pelatih cek fakta mengungkapkan, jurnalis saat ini perlu memiliki pengetahuan mengenai cara menangkal informasi hoaks yang menyebar di media sosial. Katanya, jurnalis menjadi garda terdepan yang bisa melakukan itu, penangkalan informasi hoaks.

Menurut pengalamannya, sudah mulai banyak jurnalis yang tertarik untuk mendalami ilmu cek fakta. Dibanding sekitar tujuh tahun lalu, jumlahnya terlihat meningkat pesat. Kata Aghnia, kondisi itu berpengaruh terhadap masyarakat. Dalam pelatihan yang berlangsung di Hotel Alana, Kota Malang, Aghnia membagikan materi mengenai perkembangan ragam hoaks berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Baca Juga : Perjuangan dan Dilema RA Kartini: Menolak Poligami tapi Jadi Istri ke-4 Anak Patih Kabupaten Blitar

"Jurnalis diberi pemahaman bagaimana cara mendeteksi konten tersebut benar atau tidak. Apakah itu dibuat oleh kecerdasan buatan atau tidak. Lalu pemahaman citra satelit yang sangat mendukung kerja cek fakta," kata Aghnia.

Materi tentang menginvestigasi iklan politik di sejumlah platform media sosial juga tak luput diberikan. Aghnia menyampaikan kepada para peserta alat-alat yang bisa digunakan untuk menelusuri pihak terkait di belakang iklan politik. Salah satu cara yang ditunjukan melalui penelusuran di situ well-known.dev.

"Kami juga belajar menelusuri Keterkaitan situs abal-abal, bahkan menguak pemiliknya," paparnya. Selain Aghnia, Amalia Nurul Muthmainnah dosen dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya juga turut berbagi ilmu dengan para jurnalis.

Rizal Adhi, salah satu peserta menyampaikan bahwa setelah mengikuti pelatihan yang didukung oleh AJI Indonesia dan Google News Initiative itu, ia lebih percaya diri menelusuri informasi menggunakan berbagai macam aplikasi. Ia tertantang untuk mempelajari lebih jauh alat-alat penelusuran di internet demi memperoleh informasi yang akurat.

"Ternyata ada alat-alat yang dikhususkan mencari informasi ini hoaks atau tidak. Katakanlah seperti penggunaan SunCalc, saya baru tahu Narasi TV menggunakan alat itu untuk membongkar kasus Sambo," kata Rizal. "Dari sini saya belajar agar tidak mudah gampang percaya. Saya harus memahami karakteristik informasi. Mana yang palsu dan asli," imbuhnya.


Topik

Peristiwa Jurnalis pelatihan jurnalistik menangkal hoaks aji



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Sri Kurnia Mahiruni