Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Sejarah Panjang TNI AU pada 9 April 1946 Silam

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

09 - Apr - 2024, 15:10

Placeholder
TNI AU (foto: Pinterest)

JATIMTIMES - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI) AU tepat berusia 78 pada Selasa (9/4/2024). Banyak sejarah panjang diciptakan pasukan yang terkenal dengan baret biru dan juga baret jingga untuk Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) sejak pertama kali dibentuk pada 9 April 1946 silam.

Sejarah lahirnya TNI AU tidak terlepas dari proklamasi Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Saat itu, Tanah Air membutuhkan pasukan yang memperkuat keamanan negara.

Baca Juga : Asal Usul dan Sejarah Ketupat, Makanan Khas yang Identik dengan Lebaran

Melansir tni-au.mil.id, tak lama setelah proklamasi tepatnya pada 23 Agustus 1945, saat itu pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Hal itu guna memperkuat Armada Udara yang saat itu sangat kekurangan pesawat terbang hingga fasilitas-fasilitas lainnya.

Sejalan dengan perkembangannya, BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada tanggal 5 Oktober 1945, jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Kemudian pada 23 Januari 1946, TKR ditingkatkan lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara, maka pada 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti dengan Angkatan Udara Republik Indonesia.

Oleh karena itulah, 9 April 1946 diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Selain hari ulang tahun, TNI AU juga memperingati Hari Bhakti yang setiap tahunnya diperingati pada 29 Juli. Menariknya, dua peristiwa itu dilatarbelakangi oleh dua peristiwa besar yang terjadi dalam satu hari yakni 29 Juli 1947.

Pertama ada peristiwa tiga kadet penerbang TNI AU, diantaranya Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit.

Tiga kadet itu menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei untuk melakukan pengeboman pada kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat yakni di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Baca Juga : 10 Negara Kunci Penyebaran Islam di Dunia, Indonesia Salah Satunya?

Kedua, jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA yang mengakibatkan gugurnya tiga perintis TNI AU masing-masing Adisutjipto, Abdurrahman Saleh dan Adisumarmo. Bahkan, tiga nama tersebut saat ini diabadikan menjadi nama bandara. Bandara Adisutjipto di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bandara Abdurrahman Saleh di Malang dan Bandara Adisumarmo di Solo.

Pesawat Dakota yang jatuh di daerah Ngoto, selatan Yogyakarta itu, bukanlah pesawat militer, melainkan pesawat sipil yang disewa oleh pemerintah Indonesia untuk membawa bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya.

Penembakan dilakukan oleh dua pesawat militer Belanda jenis Kittyhawk, yang merasa kesal atas pengeboman para kadet TNI AU pada pagi harinya.

Untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan ketiga perintis TNI AU tersebut, sejak Juli 2000, di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA (Ngoto) telah dibangun sebuah monumen perjuangan TNI AU.

Lokasi tersebut juga dibangun tugu dan relief tentang dua peristiwa yang melatar belakanginya. Di lokasi monumen juga dibangun makam Adisutjipto dan Abdurrahman Saleh beserta istri-istri mereka.


Topik

Peristiwa TNI hut tni sejarah tni



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Sri Kurnia Mahiruni