Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hukum dan Kriminalitas

Update Kasus Pengeroyokan Santri hingga Tewas, Kejari Blitar Segera Limpahkan Berkas untuk Persidangan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

05 - Apr - 2024, 09:53

Placeholder
Kantor Kejaksaan Negeri Blitar (nampak depan).(Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kasus tragis pengeroyokan yang menimpa salah satu santri di pondok pesantren di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar pada Januari 2024 lalu, masih menjadi sorotan utama di wilayah tersebut. Meskipun 17 tersangka pelaku pengeroyokan tidak ditahan, proses hukumnya terus berjalan dengan penuh kehati-hatian.

Menurut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Blitar, Agus Kurniawan, pihaknya telah melakukan pemberkasan untuk pelimpahan perkara ke Pengadilan Negeri (PN) Blitar. "Ada 17 tersangka dalam kasus pengeroyokan di pondok pesantren di Sutojayan Kabupaten Blitar, yang mengakibatkan salah satu santri meninggal dunia," ujar Agus pada Kamis (4/4/2024).

Baca Juga : Update Gate 13 Stadion Kanjuruhan: Tak Jadi Dibongkar

Setelah penyidik Kepolisian Resort (Polres) Blitar melakukan penyidikan, kasus tersebut dilimpahkan ke kejaksaan. "Jadi telah menjadi kewenangan kami karena sudah tahap II," jelasnya.

Meskipun para tersangka tidak ditahan selama penanganan kasus, Agus menegaskan bahwa proses hukum tetap berjalan. Alasan tidak ditahannya tersangka adalah karena beberapa pertimbangan, termasuk UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang mengatur tentang tidak ditahannya anak sebagai tersangka. 

Kini, Kejari Blitar sedang melakukan persiapan untuk membawa kasus tersebut ke persidangan. "Kami tinggal mempersiapkan pelimpahan ke pengadilan, untuk dilakukan proses persidangan," ungkap Agus.

Terlepas dari keputusan hukum yang diambil, pihak keluarga korban mungkin memiliki keberatan. Namun, Agus menekankan bahwa sistem peradilan pidana pada anak telah diatur dalam undang-undang, dan penahanan merupakan upaya terakhir.

"Terlepas dari keputusan hukum yang diambil, pihak keluarga korban mungkin memiliki keberatan. Namun, saya ingin menekankan bahwa sistem peradilan pidana pada anak telah diatur secara jelas dalam undang-undang. Penahanan merupakan upaya terakhir yang harus dipertimbangkan dengan cermat dalam konteks perlindungan hak anak,” tegasnya.

Agus juga menegaskan bahwa proses persidangan belum berjalan dan belum tuntas, sehingga masih perlu diikuti dan dilihat bagaimana putusan majelis hakim nanti.

"Proses persidangan belum berjalan dan belum tuntas. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk tetap mengikuti perkembangan persidangan dan melihat bagaimana putusan yang akan diambil oleh majelis hakim nanti. Keadilan harus ditegakkan dengan sepenuhnya, dan hal ini hanya dapat dicapai melalui proses hukum yang transparan dan adil,” imbuhnya.

Sebagai langkah preventif, pasca kejadian tersebut, pihak Kejari Blitar bersama Kementerian Agama Kabupaten Blitar, melakukan upaya sosialisasi untuk mencegah terjadinya kekerasan dan pelanggaran pidana di lingkungan pondok pesantren melalui Program Jaksa Masuk Pesantren.

Baca Juga : Pemkab Malang Terapkan Biosecurity Guna Antisipasi PMK hingga LSD

Diberitakan sebelumnya, sebuah tragedi menyelimuti Pondok Pesantren di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Santri bernama MAR (14) yang sebelumnya menjadi korban pengeroyokan oleh teman-temannya usai dituduh mencuri uang sesama santri, akhirnya meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit. Insiden yang mengguncang ini terjadi pada Rabu, 3 Januari 2024, saat MA dikeroyok dan kemudian pingsan. Ia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Namun, nasib tragis menimpanya ketika pada Minggu, 7 Januari 2024, MAR dinyatakan meninggal dunia setelah berjuang keras melawan akibat dari serangan yang dialaminya. Pengeroyokan terhadap korban terjadi setelah para santri kembali ke pondok pesantren setelah libur panjang. Sekitar pukul 23.00 WIB, setelah para santri kembali ke pondok pesantren, korban dihadapkan pada tuduhan mencuri uang milik sesama santri.

Pengeroyokan terjadi sebagai respons terhadap dugaan pencurian tersebut, menandai insiden tragis dalam kehidupan pondok pesantren. Tidak berselang lama setelah kejadian, sekitar pukul 24.00 WIB, korban tak sadarkan diri akibat serangan yang dialaminya. Upaya membawanya ke rumah sakit di Kecamatan Sutojayan untuk mendapatkan perawatan mendesak tidak berjalan lancar. 

Pihak rumah sakit menolak menerima korban karena tidak ada yang bersedia bertanggung jawab atas pasien dalam kondisi darurat. Situasi semakin genting ketika pesantren terpaksa menghubungi keluarga korban, mendesak mereka untuk segera memberikan pertolongan medis yang diperlukan.

Ketika orang tua korban tiba dan menyaksikan kondisi yang mengenaskan yang dialami anak mereka, keberatan tak terelakkan. Mereka memutuskan untuk melaporkan insiden yang menimpa anaknya ke Polsek Lodoyo Timur, memulai langkah hukum sebagai respons atas kejadian tragis tersebut.

Dari kasus ini, Unit PPA Satreskrim Polres Blitar menetapkan 17 santri sebagai Anak Berhadapan dengan Hukum, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara sesuai Pasal 80 ayat 3 Undang-undang Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak.


Topik

Hukum dan Kriminalitas kabupaten blitar santri pengeroyokan santri penganiayaan santri



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya