Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Prabowo di Rakernas LDII Singgung soal Bangsa yang Kurang Menghargai Pemimpin Sendiri

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

07 - Nov - 2023, 13:17

Placeholder
Prabowo Subianto di Rakernas LDII. (Tangkapan layar YouTube LDII TV)

JATIMTIMES - Menteri Pertahanan (Menhan) sekaligus bakal capres Prabowo Subianto menghadiri Rakernas LDII di Jakarta Timur, Selasa (7/11/2023). 

Pada kesempatan itu, Prabowo menyinggung soal sifat bangsa Indonesia yang kerap kagum ketika melihat hasil karya bangsa lain. Prabowo menganjurkan belajar dari pihak mana pun dan tak anti dengan asing.

Baca Juga : Mengintip Keindahan Pantai Mutiara, Surga Pasir Putih di Kabupaten Trenggalek

Prabowo juga menyebut, bangsa Indonesia memiliki sejumlah kekurangan termasuk kurangnya menghargai pemimpin sendiri.

"Satu, kadang-kadang memang kurang semangat. Kedua kurang menghargai rekan sendiri, kurang menghargai pemimpin sendiri, kurang menghargai bangsa sendiri," kata Prabowo dalam pidatonya.

Lebih lanjut, Prabowo menuturkan bangsa Indonesia kurang menghargai bangsa sendiri dibanding bangsa asing. Ia juga tidak pernah mengajarkan untuk menghargai bangsa lain.

"Yang dikagumi yang asing. Iya kan? Saya demi Allah tidak mengajarkan kita untuk anti-asing, tidak. Kita harus belajar dari mana pun," ucapnya.

Tak berhenti di situ saja, ia juga menyinggung soal bangsa Indonesia yang kerap merasa rendah diri. Yaitu ketika melihat apapun selalu kagum.

"Tapi ada sifat bangsa Indonesia yang sebenarnya kalau Bahasa Belanda itu bunyinya minderwaardigheidscomplex itu Bahasa Belanda dengan logat Banyumas. Artinya rendah diri. Kita kalau lihat ini kagum, lihat itu kagum," terang dia.

Pria yang menjabat sebagai Menhan itu juga bercerita bahwa ketika muda dirinya juga kagum saat melihat kondisi Eropa. Namun, Prabowo belajar dari hal itu dan paham bahwa kekayaan itu berasal dari Indonesia.

"Waktu aku muda, sekarang masih muda, saya waktu muda saya berdosa saya, aku gumunan aku kagetan aku terlalu kagum, waktu di Eropa pertama kali saya lihat 'Waduh gedung-gedung bagus istana-ikana hebat, versailles, luver, Amsterdam, Buckingham Palace' itu kagum, lama-lama setelah saya belajar sejarah eh kekayaan itu dari kita semua. Mereka bikin itu Amsterdam semua dengan kekayaan dari Nusantara dari pulau-pulau kita karet teh kopi lada semua dari Nusantara," ungkapnya.

Pada kesempatan itu juga, Prabowo mengungkapkan untuk apa dirinya menjadi pemimpin jika kondisi dalam negeri gaduh. Ia menyebut, rakyat Indonesia membutuhkan seluruh elite rukun dan bekerja sama meski itu sulit dilakukan.

"Rakyat kita membutuhkan seluruh elite rukun, seluruh elite bisa kerja sama. Kadang-kadang sulit, kadang-kadang tidak gampang. Karena sifat manusia, tapi itu yang diharapkan oleh rakyat kita semuanya," ujar Prabowo.

Baca Juga : Candi Kalicilik Blitar: Jejak Misteri Ken Arok dan Tribhuwana Tunggadewi

Prabowo juga mengatakan jangan sampai ada pikiran elite yang terlalu sempit. Yaitu pikiran yang tidak mengerti bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya, dan memiliki ambisi masing-masing.

"Jangan sampai terjadi pemikiran-pemikiran yang terlalu sempit. Tidak mengerti negara kita luar biasa. Tidak mengerti negara kita begitu kaya, dan sifat ego sifat ambisi kelompok yang merupakan fenomena wajar, setiap manusia berambisi, punya cita-cita," tuturnya.

Lebih lanjut, Prabowo mengatakan dirinya berpikir tidak mau jadi presiden jika Indonesia penuh dengan kegaduhan dan kekerasan. Untuk itu, dirinya mengatakan Indonesia harus penuh dengan persatuan dan persaudaraan.

"Tetapi waktu itu di benak saya, untuk apa saya jadi presiden kalau negara kita penuh dengan kerusuhan, kegaduhan dan kekerasan. Saya tidak mau, saya tidak mau," ucapnya.

Dirinya menyebut selalu melakukan persuasi dengan berdiskusi meskipun hal itu melelahkan. Menurutnya memberikan pendapat jauh lebih baik dibanding bertengkar.

"Maaf tapi, dengan hubungan baik, dengan persaudaraan, dengan, persuasi, dengan bicara itu saya belajar bahwa kadang-kadang capek, bicara, bicara tapi bicara meyakinkan memberi argumen memberi data memberi pandangan memberi pendapat jauh lebih baik daripada gontok-gontokan," tuturnya.

"Saya kira para ulama yang paling tahu, ini pun ajaran dari para-para ulama saya. Bahwa kalau bisa kita membuat perbaikan perubahan dengan kata-kata dengan meyakinkan, dengan mempengaruhi," tambahnya.


Topik

Peristiwa Prabowo Subianto capres gibran rakabuming raka capres cawapres



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni