Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Ngerinya Perang Giyanti, Pangeran Mangkubumi Rayakan Kemenangan dengan Kanibalisme

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

09 - Jun - 2023, 16:57

Ilustrasi.(Foto : Instagram @kratonjogja)
Ilustrasi.(Foto : Instagram @kratonjogja)

JATIMTIMES - Pangeran Mangkubumi yang baru saja mendeklarasikan diri sebagai Susuhunan baru di Yogyakarta kembali ke medan perang, pasca dikukuhkanya Pakubuwono III di Surakarta oleh VOC. Perang Suksesi Jawa III kembali berlanjut dan berjalan lebih mengerikan.

Ya, Mangkubumi seperti benar-benar menunjukkan kemarahannya. Perang Suksesi Jawa III sempat rehat sejenak ketika Pakubuwono II, saudara Mangkubumi, mengalami sakit keras dan kemudian meninggal dunia. Berharap bisa menggantikan saudaranya sebagai Susuhunan, Mangkubumi justru tidak mendapatkan restu dari VOC. Di suksesi ini, VOC lebih memilih putra mahkota sebagai Pakubuwono III, hal yang membuat Mangkubumi marah besar dan kembali mengobarkan genderang perang.

Baca Juga : Jelang Ajal Menjemput, Pakubuwono II Serahkan Negara Surakarta pada VOC

Perang Suksesi Jawa III atau yang di beberapa sumber disebut Perang Giyanti dimulai lagi pada awal 1750. Permusuhan Mangkubumi dengan Kasunanan Surakarta berlanjut dengan perang yang lebih besar. Babad Giyanti melaporkan, dalam perang ini Mangkubumi memiliki 11.600 pasukan berkuda plus pasukan infanteri yang jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung.

Mangkubumi dalam perang ini juga membawa 480 panji pertempuran dan ditemani oleh instrumen musik untuk perang. Instrumen itu meliputi gong perang bendhe dan beri yang tak terhitung jumlahnya. Empat orchestra gamelan yang dipasang diatas kuda dalam berbagai gaya berbeda, genderang-genderang ala eropa, 400 seruling dan empat genderang besar.

Hingga Juli 1750, tak satupun dari keberhasilan kompeni dan sekutu-sekutu Jawa dan Maduranya yang bisa menghentikan para pangeran pemberontak dan Mangkubumi, raja pemberontak baru yang lebih dipercaya rakyat Mataram ketimbang Raja Surakarta Pakubuwono III. Kondisi ini benar-benar membuat Gubernur pertama VOC di pesisir timur laut JawaVan Hohendorff frustasi.

Perang yang berkepanjangan menimbulkan kepahitan diantara mereka yang berseteru. Perang sedemikian sengitnya sampai-sampai memunculkan sebuah fenomena yang jarang dalam masyarakat Jawa yakni kanibalisme ritual.

Fenomena kanibalisme ritual ini direkam oleh Babad Giyanti. Babad mengabarkan bagaimana Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mempersembahkan pada Mangkubumi telinga musuh yang telah mati. Telinga itu kemudian diolah menjadi sup yang sangat enak (langkung eca), dimakan bersama kerupuk udang dan sambal. Ini disajikan pada pasukan Bagelen yang kinerjanya buruk di medan tempur.

Dalam babad versi ini, Mangkubumi bertanya kepada pasukannya, menurut mereka terbuat dari apakah sup yang lezat itu. Mereka tidak tahu, kemudian Mangkubumi memberi tahu pasukannya jika sup yang lezat itu terbuat dari telinga manusia. Mangkubumi berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

Penduduk Bagelen yang pengecut dan takut dengan Belanda itu akhirnya tahu yang mereka makan adalah telinga-telinga orang Madura. Sembari meludah, penduduk Bagelen berjanji untuk dapat diandalkan dalam pertempuran di masa depan, suatu hal yang menyenangkan bagi Mangkubumi.

Sebuah versi yang agak berbeda dalam autobiografi Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said, Mangkunegara I) mencatat aksi-aksi Mangkubumi. Dilaporkan setelah Pangeran Sambernyawa mengalahkan pasukan VOC dan sekutu Jawa dalam sebuah pertempuran kecil sekitar tahun 1750, telinga-telinga musuh yang tewas dipotong. Telinga terpotong itu kemudian digantung bersama-sama dan dipersembahkan sebagai trofi untuk Mangkubumi bersama-sama dengan tawanan musuh yang diikat.

Mangkubumi, si raja pemberontak itu kemudian memerintahkan agar telinga-telinga itu dicincang halus, dicampur dengan daging kerbau dan bumbu-bumbu, dan diolah menjadi sup. Masakan ini disajikan dengan nasi kepada pasukannya yang menghindari pertempuran, yang gagal mendapatkan telinga dalam pertempuran.

Baca Juga : Gaya Nyeleneh Mirip Kondom, Baju Istri Kanye West Jadi Sorotan Saat ke Gereja

ā€œIni dimaksudkan agar pasukan berdiri kokoh di medan tempur. Mereka yang takut akan dipaksa, sehingga semua memakan sup telinga, yang dibagikan secara merata diantara anggota pasukan,ā€ jelas Sejarawan M.C Ricklefs dalam buku Sambernyawa.

Walaupun perang membuat situasi menjadi serba darurat, masih ada kesempatan untuk mengadakan perayaan yang menggembirakan. Pangeran Sambernyawa mencatat keramahtamahan di Kabanaran pada Garebeg Pasar pada 1 November 1750. Sambernyawa bersama para pembesar lainnya menunjukkan rasa hormat bersama pasukan mereka pada Mangkubumi. Orang-orang Belanda yang membelot kepada Sambernyawa digambarkan memakai pakaian yang sangat indah. Pada malam hari, Mangkubumi bergabung dengan Sambernyawa untuk menari dengan diiringi oleh bunyi gamelan.

Pesta di tengah-tengah peperangan nampaknya memang menjadi hal yang biasa dalam Perang Suksesi Jawa III. Menurut Babad Giyanti dan Serat Babad Pakunegaran, Mangkubumi memerintahkan Sambernyawa untuk bergerak menghadapi pasukan VOC dan Keraton Surakarta di Gondang. Saat tiba disana, Sambernyawa mengumpulkan para komandan pasukannya beserta anggota pasukannya pada sebuah malam yang diisi dengan hiburan berupa musik dan para gadis yang menari dalam rangka meningkatkan semangat mereka untuk berperang.

Sebagai informasi, peperangan Suksesi Jawa III dimulai pada 11 Desember 1749 hingga 13 Februari 1755. Dalam perang tersebut, rakyat Mataram memberikan dukungan penuh kepada Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) yang berjuang melawan kolonialisme Belanda dan sekutunya Keraton Kasunanan Surakarta.

Selain rakyat Mataram, kelompok pejuang dibawah pimpinan Mangkubumi juga mendapat dukungan dari rakyat Jawa Timur salah satunya dari Madiun. Dalam perang ini, salah satu tokoh penting namun jarang terekspos yang menjadi andalan Mangkubumi adalah Raden Ronggo Prawirosentiko (setelah 1758 bernama Raden Ronggo Prawirodirdjo I dan menjabat Bupati Wedana Madiun).

Puncak dari perang yang melelahkan ini adalah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian ini sepakat memecah Mataram menjadi dua kerajaan, Kasunanan Surakarta yang dipimpin Pakubuwono III dan kerajaan baru Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

Negara baru Kesultanan Yogyakarta dengan warisan spirit perjuangan Sultan Hamengkubuwono I yang anti bangsa penjajah, kelak kemudian hari melahirkan tokoh-tokoh revolusioner yang kemudian menjadi pembaharu peradaban menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Anak cucu Mangkubumi itu tampil sebagai ksataria bangsa dengan meneruskan perjuangan leluhurnya melalui perang. Para revolusioner sejati itu antara lain Raden Ronggo Prawirodirdjo III (bupati wedana Madiun), Pangeran Diponegoro (pemimpin Perang Jawa 1825-1830), Sentot Ali Basyah Abdul Mustopo Prawirodirdjo (panglima perang Diponegoro) dan Sultan Hamengkubuwono IX. 


Topik

Serba Serbi pangeran mangkubumi yogyakarta perang giyanti


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya