05/12/2022 Reklamasi JIIPE Penyebab Jebolnya Ratusan Hektar Tambak di Mengare | Jatim TIMES

Reklamasi JIIPE Penyebab Jebolnya Ratusan Hektar Tambak di Mengare

Jun 13, 2022 17:20
Proses audensi antara perwakilan Desa Watuagung, Kramat dan Tajung Widoro dengan JIIPE dan beberapa perusahaan di dalam kawasan JIIPE, Senin (13/6/2022). (Foto : Syaifuddin Anam/Jatimtimes).
Proses audensi antara perwakilan Desa Watuagung, Kramat dan Tajung Widoro dengan JIIPE dan beberapa perusahaan di dalam kawasan JIIPE, Senin (13/6/2022). (Foto : Syaifuddin Anam/Jatimtimes).

Pewarta: Syaifuddin Anam | Editor: Dede Nana

JATIMTIMES - Ratusan warga Mengare, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik menuntut Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) ikut bertanggungjawab atas jebolnya ratusan hektare (ha) tambak di Pulau Mengare.

Masyarakat setempat menuding, banyaknya tambak jebol diakibatkan adanya reklamasi yang terus berlangsung di pelabuhan Internasional tersebut. Sejak reklamasi berlangsung, ratusan ha tambak berubah menjadi daratan. Laut mengalami pendangkalan yang berdampak pada pendapatan nelayan semakin menurun.

Baca Juga : Mayat Pria Bertato Ditemukan Mengapung di Sumberpucung, Polisi Cari Identitas Korban

"Sehingga gelombang yang harusnya mengarah ke wilayah JIIPE berbalik ke tambak warga," kata Kades Tajungwidoro Mastain usai audensi dengan perwakilan JIIPE di Balai Desa Watuagung, Senin (13/6/2022).

Sementara Abdul Amin menambahkan, banjir rob memang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Bahkan sebelum JIIPE berdiri di Gresik. Namun, dampaknya tidak sampai ada tambak jebol.

"Sejak ada reklamasi JIIPE ketika banjir rob banyak tambak yang jebol dan terlihat seperti lautan. Jumlahnya mencapai ratusan ha," imbuhnya.

Oleh sebab itu, warga Mengare komplek yang terdiri dari Desa Watuagung, Kramat dan Tajung Widoro menuntut JIIPE bertanggungjawab. Melakukan normalisasi kali dengan cara pengerukan dan memperbaiki tanggul tambak yang jebol. "Jika tidak segera ditangani dampaknya semakin parah. Ratusan tambak terancam tenggelam," katanya.

Selain itu, tuntutan masyarakat Mengare selanjutnya adalah penyerapan tenaga kerja yang selama ini dinilai tidak jelas. Banyak warga Mengare yang melamar kerja di lingkungan JIIPE tidak diterima dengan alasan tidak ada lowongan.

"Harus ada mekanisme yang jelas dalam penyerapan tenaga kerja. Sehingga alurnya jelas kemana warga akan mencari pekerjaan," imbuhnya.

Kemudian, penyaluran Corporate Sosial Responsibility (CSR) selama ini juga tidak jelas, tidak berdampak langsung kepada masyarakat. "Harus ada prioritas kepada masyarakat Mengare," ujarnya

Pihaknya menegaskan, ketiga tuntutan masyarakat Mengare harus direalisasikan. Mereka memberikan waktu tiga hari ke depan untuk memberikan kepastian. "Kalau tiga hari kedepan belum ada jawaban yang jelas, masyarakat Mengare akan turun jalan," tandasnya.

Menanggapi tuntutan tersebut, perwakilan JIIPE Mifti Haris mengatakan, tiga poin aspirasi akan disampaikan ke direksi. Supaya ada bantuan berupa penanganan normalisasi dan perbaikan tanggul tambak. Namun, secara teknis dibutuhkan pembahasan lanjutan yang lebih detail. Sebab, medannya tidak bisa dilalui oleh alat berat. Oleh karena itu, dirinya membutuhkan data terkait lokasi yang mengalami kerusakan.

"Untuk menentukan mekanisme perbaikannya. Mana yang membutuhkan alat berat mana yang tidak," kata Mifti.

Baca Juga : Heboh Khilafatul Muslimin Terbitkan NIW Sebagai Ganti e-KTP

Terkait penyaluran CSR, Mifti berdalih tidak pernah meninggalkan wilayah Mengare. Namun, untuk saat ini memang CSR yang diberikan belum optimal. Sesuai dengan kemampuan perusahaan.

"Tetap kita salurkan CSR sesuai dengan kebutuhan warga dan kemampuan kita," sambung Mifti.

Soal penyerapan tenaga kerja, Mifti menambahkan, sebagai pengelola kawasan JIIPE dirinya tidak bisa memastikan. Namun, dirinya selalu meminta kepada perusahaan di dalam kawasan JIIPE untuk memprioritaskan warga lokal.

"Penyerapan tenaga kerja menyeluruh untuk seluruh masyarakat Gresik. Tapi, prioritas tetap sekitar kawasan," imbuhnya.

Mifti membantah tudingan reklamasi jadi penyebab jebolnya ratusan ha tambak di wilayah Mengare. Menurutnya, dampak reklamasi dapat diketahui jika sudah melalui studi dan kajian-kajian.

"Sepanjang pantura mengalami hal yang sama, semuanya rob. Bahkan, Surabaya dan Semarang. Semua murni faktor alam," pungkasnya.

Diketahui, di dalam kawasan JIIPE sendiri terdapat 16 perusahaan yang sudah berkomitmen. 5 perusahaan beroperasi, 2 lainnya sedang proses konstruksi. "Sisanya 9 perusahaan masih menunggu," tandasnya.

Judul berita Reklamasi JIIPE Penyebab Jebolnya Ratusan Hektar Tambak di Mengare.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Topik
Java Integrated Industrial and Port Estate tambak pulau mengare

Berita Lainnya