Lestarikan Budaya Nusantara, Ki Tulus Pilih menjadi Perajin Kuda Lumping | Jatim TIMES

Lestarikan Budaya Nusantara, Ki Tulus Pilih menjadi Perajin Kuda Lumping

May 15, 2021 08:50
Tulus Indrawan atau yang akrab disapa Ki Tulus saat membuat kerajinan kuda lumping. (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES)
Tulus Indrawan atau yang akrab disapa Ki Tulus saat membuat kerajinan kuda lumping. (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sebagai bentuk dedikasi tinggi ingin melestarikan budaya nusantara, Tulus Indrawan memilih untuk menjadi perajin kuda lumping. Hal itu ia pilih untuk terus melestarikan budaya tradisi kearifan lokal, khususnya yang ada di Kota Malang. 

"Saya ingin bisa terus meneruskan ini, melestarikan sampai anak cucu saya. Mewariskan budaya tradisi ini, jangan sampai meninggalkan budaya ini. Kalaupun ada orang lain yang mau belajar, pintu saya juga selalu terbuka," ungkapnya. 

Baca Juga : Indahnya Quba, Masjid Pertama yang Didirikan Rasulullah

Ki Tulus menjelaskan kecintaannya terhadap kesenian kuda lumping atau jaranan sudah ada sejak dirinya duduk di kelas 6 SD (sekolah dasar). Terlebih lagi, pendidikan terhadap seni kuda lumping juga dilakukan oleh orang tua Ki Tulus. Akhirnya membuat ia semakin memiliki motivasi tinggi untuk menggeluti dunia seni kuda lumping. 

"Saya mulai tahun 1976 menggeluti ini, dulu saya diajari orang tua saya, warisan lah. Kuda lumping itu sebuah kesenian dan budaya Jawa yang sudah ada sejak jaman kerajaan. Sebelum kakek saya lahir pun sudah ada, makanya kita tinggal melestarikan saja," ujarnya. 

Lalu Ki Tulus pun sedikit mengulas sejarah singkat kesenian kuda lumping. Dahulu kata Ki Tulus bahwa kuda lumping digunakan untuk hiburan. Bahkan saat Indonesia berjuang ketika dijajah oleh kolonial Belanda, kesenian kuda lumping menjadi hiburan para tamu agung. 

Namun, saat ini menurut Ki Tulus peminat kesenian kuda lumping semakin menurun utamanya pada generasi muda yang terbius oleh perkembangan zaman yang terus berubah di setiap eranya. 

"Kalau sudah tidak suka ya tidak bisa dipaksakan, kadang lihat aja gak mau. Tapi bagi yang senang, bisa meresapi, seni ini ada sentuhan rohaninya," tuturnya. 

Ki Tulus mengatakam bahwa dirinya bertahan hingga menginjak di usia 60 tahun ini untuk mengenalkan kesenian kuda lumping ke masyarakat umum utamanya pada generasi muda. Agar kesenian kuda lumping tidak punah termakan oleh perkembangan zaman. 

"Saya bertahan ini juga sebagai salah satu upaya memperkenalkan ke generasi muda agar tidak hilang. Saya juga mengajarkan ke anak saya sendiri cara membuat kuda lumping. Bahkan saya juga memberi contoh cara menari jaranan jawa, senterewe, pegon dan yang lain," katanya. 

Lanjut Ki Tulus bahwa sebagian besar daerah di Jawa Timur memiliki ciri khas masing-masing dalam bentuk kuda lumping yang digunakan. Terkait perbedaan itu, ia pun tak mempermasalahkan. Yang paling terpenting bagaimana seluruh komponen masyarakat tetap peduli dan melestarikan kesenian kuda lumping. 

Baca Juga : Kolaborasikan Seni Lukis dengan Anyaman Bambu, Ibu Rumah Tangga Hasilkan Souvenir Berharga

"Jadi tiap jaranan itu ada ciri khasnya sendiri-sendiri. Bahkan membuat kuda lumping ini juga ada ciri khasnya sendiri. Kalau kuda lumping Malangan itu ciri khasnya ada di irah-irahan atau mahkota. Ada corak mahkota di kepala kuda lumping," jelasnya. 

Dalam sehari Ki Tulus dapat menghasilkan 10 buah kuda lumping yang berbahan dasar bambu apus sebagai bahan baku anyaman kuda lumping. Menurutnya, jika tidak terbiasa akan terluka atau tergores dalam menyayat bambu menjadi bahan anyaman. 

"Mengirat atau memotong bambu menjadi titis itu sulit. Membelah bambu ini kalau tidak biasa ya susah, gak gampang dan gak semua orang bisa. Ini bambu apus yang saya pakai untuk bahannya, kalau yang lain gak bisa karena keras. Saya beli dikampung kampung, memotong sendiri, memilih sendiri. Motongnya juga tidak bisa sembarangan, ada hitungan harinya juga," terangnya. 

Sementara itu sebagai perajin, produksi kuda lumping buatan Ki Tulus pun sudah banyak dikenal oleh masyarakat di berbagai daerah bahkan hingga tembua ke pasar luar negeri. 

"Harga kuda lumping buatan saya bervarisi mulai Rp 25 ribu sampai Rp 200 ribu. Saya memasarkan langsung melalui kediaman saya dan juga melalui online," tuturnya. 

"Penjualan saya ada yang sampai Kalimantan, Sumatra, Sulawesi. Ini kan juga dipasarkan secara online. Saudara saya juga ada yang membawa ke Australia dan Suriname. Di sana kan juga banyak orang Jawa, saya pernah kesana, di sana juga ada kuda lumping," pungkasnya.

Topik
Kuda Lumping kuda lumping malang seni kuda lumping

Berita Lainnya