Surat yang dikirim Tri Rismaharini mendapat komentar dari Mas Seno
Surat yang dikirim Tri Rismaharini mendapat komentar dari Mas Seno

Awal bulan Desember ini masyarakat Surabaya dikagetkan dengan beredarnya surat ajakan untuk memilih dalam Pilwali Surabaya 2020 dari Tri Rismaharini. Surat tersebut mengajak warga Surabaya untuk memilih pasangan calon Eri-Armuji pada tanggal 9 Desember nanti.

"Surat dari Bu Risma dikirimkan ke warga Surabaya, yang mengajak kita semua menjemput kemenangan. Menjemput masa depan bersama yang lebih baik, di tangan Eri Cahyadi-Armuji, paslon yang teruji, memiliki kompetensi dan amanah. Bu Risma mengajak masyarakat datang ke TPS-TPS, dan tidak golput!," kata Achmad Hidayat, Jubir Tim Pemenangan Eri-Armuji membenarkan adanya surat yang disebar tersebut.

Beredarnya surat itu mendapat sorotan dari putra sulung Ir Sutjipto, salah satu pendiri PDI Perjuangan, Jagad Hariseno. "Risma menggunakan kekuatan politiknya tanpa melihat kapasitasnya sebagai Wali kota. Ini bentuk pemaksaan dalam tanda kutip," katanya, Rabu (2/12/2020).

Dikatakan Mas Seno (Sapaan Jagad Hariseno), kondisi tersebut sudah menunjukkan kepanikan luar biasa dalam memenangkan kepentingan Oligarki Risma.

Selain itu, munculnya surat ajakan untuk memilih paslon penerus Risma dinilai menabrak aturan pasal 4 dan pasal 67 (4) PKPU Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Kampanye Pemilihan Kepala Daerah.

Di dalam pasal 67 disebutkan, Gubernur atau Wakil Gubernur, Bupati atau Wakil Bupati, dan Wali Kota atau Wakil Wali Kota dilarang menggunakan kewenangan, program, dan kegiatan yang menguntungkan atau merugikan salah satu Pasangan Calon baik di daerah sendiri maupun di daerah lain dalam waktu 6 (enam) bulan sebelum tanggal penetapan Pasangan Calon sampai dengan penetapan Pasangan Calon terpilih.

Menurut alumnus ITS Surabaya ini, Risma sudah menyadari bahwa calon yang diusung oleh PDIP bakal kalah dari paslon Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno. "Tanpa disadari meski di dalam surat kapasitasnya sebagai kader PDIP, namun jabatan wali kota itu melekat. Ini sudah menunjukkan bahwa Risma tidak netral. Dan mengalami sindrom panic attack," terang Seno.

Kakak pertama dari Wakil Wali Kota Whisnu Sakti Buana ini bahkan mendengar informasi bahwa pengiriman surat bukan melalui Relawan Eri-Armuji. Melainkan kurir yang dibayar Rp 2 ribu setiap suratnya. "Jadi mulai terbuka sekarang. Bahwa Risma mulai tidak mempercayai struktur partai, namun hanya menggunakan mesin partai untuk ngotot memenangkan kepentingannya," terang Seno.