Debat pamungkas Pilkada Kota Blitar digelar KPU di Gedung Kesenian Aryo Blitar. (Foto: Dokumen JatimTIMES)
Debat pamungkas Pilkada Kota Blitar digelar KPU di Gedung Kesenian Aryo Blitar. (Foto: Dokumen JatimTIMES)

Tahap debat calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Blitar telah berakhir ditandai dengan debat pamungkas yang berlangsung di Gedung Kesenian Kota Blitar pada Selasa (24/11/2020) malam. 

Dengan mengambil tema Ekonomi dan Pembangunan, Debat Publik Pilwali Kota Blitar edisi ketiga ini kembali mempertemukan dua kubu. Yakni, pasangan calon (paslon) nomor urut 01 yaitu Henry Pradipta Anwar-Yasin Hermanto dengan paslon nomor urut 02 Santoso-Tjujuk Sunaryo.

Baca Juga : Dukungan Bertambah, Relawan Nelayan Bangkit Komitmen Menangkan Paslon LaDub 

 

Sejumlah pengamat menilai debat tersebut menjadi milik pasangan Nomor Urut 1, Henry Pradipta Anwar-Yasin Hermanto. Sementara pasangan Santoso-Tjujuk Sunario terlihat kelabakan sejak awal.

Pengamat Sosial Politik dari Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, Hery Basuki mengungkapkan, di sesi debat ketiga secara keseluruhan paslon nomor urut 01 terutama Henry Pradipta Anwar menunjukkan performa yang luar biasa. Selain menguasai jalanya debat, Hery melihat paslon nomor urut 01 konsisten dengan sikap dan gaya milenialnya. 

“Saya rasa seluruh orang sepakat dengan performa luar biasa paslon nomor urut 01, terutama Henry,” ungkap Hery Basuki, Minggu (29/11/2020). 

Hery juga memuji diplomasi politik yang ditunjukkan Henry Pradipta Anwar di debat pamungkas. Putra sulung mantan Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar dinilai memiliki ketrampilan mumpuni dalam diplomasi politik.

“Sempat terjadi adegan sengit, paslon nomor urut 02 berkilah ‘saya mulai dilantik di waktu sekian, sementara program itu tinggalane Pak Samanhudi. Dibalekne karo Thole (panggilan akrab Henry P Anwar), ‘Pak Santoso sebagai petahana ngakoni to terhadap karyanya Pak Samanhudi’. Nah, ini menunjukkan ketrampilan gaya berdiplomasi politik Henry Pradipta Anwar,” tukasnya.

Terkait dengan performa paslon nomor urut 02, Hery Basuki melihat Calon Wali Kota Santoso sangat kental dengan gaya birokrat murni yang sangat normatif. Sementara Calon  Wakil Wali Kota  Tjujuk Sunario terlihat tidak cukup menguasai materi tentang pembangunan Kota Blitar. 

“Di sinilah Henry tampil kritis. Terutama dalam mengkritisi dan merasionalisasi program-program kubu paslon 02, di antaranya terkait implementasi program 100 juta untuk RT/RW nantinya akan seperti apa,” imbuh Hery. 

Baca Juga : Maksimalkan Sektor Pertanian, Paslon SanDi Bakal Produksi Bibit Buah di Kabupaten Malang 

 

Bertolak belakang dengan program kubu paslon 02 yang dinilai sangat konservatif, kubu paslon 01 Henry-Yasin menawarkan sejumlah program-program terobosan untuk pembangunan Kota Blitar di masa depan. Di antaranya program infrastruktur digital. 

“Memang kalau melihat realitas Kota Blitar sebagai kota kecil yang banyak perkampungan dan pemukiman, program-program terobosan seperti yang ditawarkan Henry-Yasin ini harus menjadi fokus. Program-program yang ditawarkan paslon 01 benar-benar program baru. Program baru ini akan diintegrasikan dengan program-program lama APBD Pro Rakyat karya Wali Kota Samanhudi yang tentunya akan sangat bagus jika dilanjutkan lagi,” tandasnya. 

Dominasi Henry-Yasin di debat pamungkas ini juga terlihat di sesi penggunaan Bahasa Jawa. Di sesi ini lagi-lagi Calon Wakil Wali Kota dari kubu paslon 02 Tjujuk Sunario kurang cakap menampilkan performa. 

Berasal dari Surabaya yang dalam keseharianya berbahasa Jowo Arek, Tjujuk dinilai kurang mahir berbahasa Jowo Mataraman yang jadi ciri khas Bahasa keseharian masyarakat Kota Blitar.

“Suroboyo itu kan Jowo Arek, sementara yang digunakan disini Jowo Mataraman. Ini secara sosiologis nggak sambung. Nampak betul ketika dialog dan memberikan jawaban, beruntung Pak Santoso bisa menutupi kekurangannya Tjujuk. Tapi secara keseluruhan tingkat konvidensinya kubu paslon 01 memang luar biasa dibandingkan kubu paslon 02," pungkasnya.