Calon Wali Kota Machfud Arifin
Calon Wali Kota Machfud Arifin

Rencana perpindahan Ibu Kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur sudah menjadi perhatian Calon Wali Kota Surabaya Machfud Arifin. Dia memprediksi, pada tahun 2021 mendatang atau ketika pandemi Covid-19 sudah mulai terkendali, proses perpindahan ibu kota bakal berlanjut.

Surabaya harus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan itu. Menjadi penopang sekaligus memaksimalkan peluang yang ada untuk akselerasi pembangunan Kota Pahlawan.

Baca Juga : Bahas 34 Ranperda Tahun Depan, Berikut Catatan Fraksi PKS untuk Skala Prioritas Pembahasan

”Surabaya adalah kota penghubung. Bisa jadi tumpuan Indonesia timur," kata Machfud Arifin dalam diskusi dengan masyarakat Logistik kemarin.

MA mencontohkan, selama ini Surabaya menjadi tempat transit perdagangan dari kawasan timur ke barat Indonesia. Pun demikian halnya produk-produk dari luar negeri.

Pengusaha dan pedagang di Indonesia timur kalau mencari barang juga di Surabaya. Meski dalam beberapa tahun terakhir, posisi tersebut sedikit menurun karena matinya Pasar Turi.

”Cengkeh dari Maluku Utara, kayu dari Papua masuk ke Surabaya,” bebernya.

Nah, ke depan,  peran Surabaya akan semakin besar jika ibu kota jadi pindah ke Kalimantan Timur. ”Barang dari Jatim maupun luar negeri, maupun tenaga kerja ahlinya banyak dibutuhkan dari Jatim, Surabaya. Karena paling dekat Surabaya, Jawa Timur yang paling dekat,” lanjut dia.

Untuk menyiapkan hal ini, Machfud mengaku sudah menyerap sebagian ilmu dari mantan Gubernur Jatim, Soekarwo. ”Pakde Karwo saat jadi gubernur bercerita, bahwa ketergantungan orang-orang Indonesia timur ke Jawa Timur, dan Surabaya sangat tinggi. Macetnya Surabaya berimbas pada Indonesia timur," bebernya.

MA memang dikenal dekat dengan Soekarwo. Mereka adalah duet gubernur-kapolda yang dikenal solid.

Baca Juga : Di Gedung Cagar Budaya, Ratusan Warga Tinggal tapi Cuma Miliki 2 Jamban Bikin Prihatin

Untuk meningkatkan peran Surabaya sebagai hub perekonomian Indonesia timur, Machfud menilai salah satu kendala terbesarnya adalah kemacetan. ”Harus ada penguraian. Kedepan kita harus membangun kawasan pergudangan di lokasi yang tepat, tidak boleh lagi kawasan pergudangan dan bongkar muat di tengah kota," kata arek asli Ketintang ini.

Machfud mencontohkan, kawasan kota tua di Kembang Jepun, itu adalah salah satu pusat perdagangan dan pergudangan. Truk-truk besar setiap hari bongkar muat di sana. Omzetnya setiap bulan triliunan.

”Ke depan akan kita tata, dengan teknologi yang ada sekarang, gudang tidak perlu di tengah kota, bisa di pinggir di lokasi yang ditentukan. Kawasan tengah seperti Kembang Jepun tetap jadi tempat bisnis, sekaligus destinasi wisata yang tidak macet,” paparnya.

Kota Surabaya yang semakin padat dan maju, ke depan harus benar-benar dibangun dengan perencanaan yang matang. Setiap ruang yang ada dimaksimalkan untuk kemajuan dan kemakmuran warga.