Kurangi Kasus Tabrakan, Daop 7 Madiun Tutup Puluhan Palang Pintu Liar | Jatim TIMES

Kurangi Kasus Tabrakan, Daop 7 Madiun Tutup Puluhan Palang Pintu Liar

Nov 15, 2020 17:06
Giat sosialisasi keselamatan di palang pintu sebidang Tulungagung (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Giat sosialisasi keselamatan di palang pintu sebidang Tulungagung (Joko Pramono for Jatim TIMES)

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 7 Madiun telah menutup puluhan perlintasan kereta api tanpa palang pintu atau liar di wilayah Daop 7 Madiun.

Hal itu diungkapkan  Humas Daop 7 Madiun Ixfan Hendriwintoko saat melakukan giat sosialisasi keselamatan di palang pintu sebidang  di JPL 249 utara Stasiun Tulungagung, Minggu (15/11/20).

Baca Juga : Long Weekend, KAI Tambah Jadwal Perjalanan Malang-Jakarta

“Selama Januari hingga sekarang (November) sudah ada sekitar 39 (perlintasan tanpa palang pintu) yang sudah kami tutup,” ujarnya.

Menurut Ixfan, penutupan perlintasan kereta api tanpa palang pintu ataupun cikal bakalnya bertujuan untuk meminimalisasi kasus temperan atau kasus tabrakan kereta di palang pintu tersebut.

Dari data yang dimilikinya, di seluruh Daop 7 ada sekitar 220 perlintasan. Dari jumlah itu, 15 di antaranya tak teregistrasi oleh Daop 7. “Yang teregistrasi itu seperti ini (perlintasan milik PT KAI), terus yang ada palangnya dan EWS serta rambu-rambu saja,” paparnya.

Dari datanya, jumlah kasus tabrakan pada 2020 dibanding tahun 2019 mengalami penurunan. Tahun 2019 di rentang waktu yang sama terjadi 42 kejadian. Sedang 2020 terjadi 38 kejadian. “Terjadi penurunan sekitar 9 persen,” terangnya.

Kejadian temperan biasanya terjadi di perlintasan kereta api tanpa palang pintu atau penjaga.

Ixfan melanjutkan, kejadian temperan tak hanya terjadi di jalur tanpa palang pintu. Kejadian temperan juga terjadi di palang inti resmi milik PT Kereta Api Indonesia (PT. KAI). “Karena disiplin masyarakat dalam berlalu lintas kaki anggap masih kurang,” katanya.

Untuk itu,  penting bagi pihaknya untuk terus mengingatkan masyarakat tentang kesadaran berlalu lintas, khususnya di perlintasan kereta api.

Baca Juga : Penumpang Kereta Api Meningkat 83 Persen di Masa Libur Panjang

Aturan ini diterangkan dalam Pasal 114 UU no 22 Tahun 2009 tentang LLAJ bahwa pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai menutup, dan/atau isyarat lain. “Mendahulukan kereta api, serta memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dulu melintasi rel,” jelas Ixfan.

Selain itu, diatur dalam peraturan Dirjen Perhubungan Darat Nomor: SK.047/AJ.401/DRJD/2018 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Lalu Lintas di Ruas Jalan Pada Lokasi Potensi Kecelakaan di Perlintasan Sebidang dengan Kereta Api.  

“Pada pasal 11 huruf e dikatakan bahwa pengemudi kendaraan wajib menghentikan kendaraan sejenak sebelum melewati perlintasan sebidang, serta menengok ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada kereta api yang akan melintas,” pungkas Ixfan.

 

Topik
berita tulungagung

Berita Lainnya