Johans Maras Ponda selaku Kasi Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri membeberkan potensi bencana alam yang disebabkan oleh fenomena La Nina kepada JatimTimes.com. (Foto: Bams Setioko/ JatimTIMES)
Johans Maras Ponda selaku Kasi Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri membeberkan potensi bencana alam yang disebabkan oleh fenomena La Nina kepada JatimTimes.com. (Foto: Bams Setioko/ JatimTIMES)

Memasuki bulan November, BPBD Kabupaten Kediri beberkan Ppotensi bencana alam akibat fenomena La Nina. Johans Maras Ponda selaku Kasi Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri membeberkan potensi bencana alam yang disebabkan oleh fenomena La Nina kepada JatimTimes.com.

Johans mengatakan, bencana alam seperti banjir, tanah longsor hingga angin kencang diprediksi akan terjadi di Kabupaten Kediri yang meliputi Kecamatan Mojo, Banyakan, Papar, Pare dan Purwoasri. Fenomena alam La Nina diprediksi berlangsung pada November 2020 hingga  Februari 2021 mendatang yang merupakan puncak musim hujan.

Baca Juga : Jalan Setapak Dilebarkan, Bangunan Rumah Warga Kota Batu Ambrol

Fenomena La Nina sendiri diketahui merupakan fenomena iklim global yang ditandai dengan adanya anomali suhu muka air laut di Samudera Pasifik tengah ekuator. Di lokasi tersebut, suhu muka air laut lebih dingin dari biasanya.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terhadap indikator laut dan atmosfer menunjukkan suhu permukaan laut mendingin -0.5C hingga -1.5C selama 7 dasarian terakhir (70 hari), diikuti oleh dominasi aliran zonal angin timuran yang merepresentasikan penguatan angin pasat. Bagi Indonesia, La Nina yang terjadi pada periode awal musim hujan ini berpotensi meningkatkan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah.

"Jadi La Nina tersebut berdampak pada penambahan uap air dan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia yang sebetulnya saat ini sudah terjadi penguapan yang intensif dan pembentukan awan hujan akibat dari masuknya musim hujan. Sehingga terjadi penambahan yang diprediksi menambah akumulasi curah hujan bulanan dan musiman yang meningkat sampai 40% di atas normal," katanya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi bencana ini BPBD telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait khususnya berkoordinasi dengan desa-desa yang berpotensi terjadi bencana itu.

“Kami bekerjasama dengan tim bencana desa. Itu yang senantiasa menjadi mitra kami di desa-desa,” tambahnya.

Baca Juga : Bukan Pasutri Berduaan di Hotel, Muda-Mudi Ini Digerebek Satpol PP Kota Kediri

Lebih lanjut Johans Maras Ponda menyebut telah telah menjalin kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Tujuannya untuk menginvertarisir terhadap pohon tumbang yang bisa saja terjadi akibat angin kencang.

"Jadi untuk di awal ini kami meminta kepada DLH untuk melakukan pemotongan terhadap sejumlah pohon yang dinilai rapuh maupun lapuk," terangnya.

"Juga tidak kalah pentingnya BPBD juga senantiasa berkoordinasi dengan TNI-Polri yang juga sama-sama sebagai rekan mitra kerja kami," imbuhnya.