Lapas Klas 1 Malang, saat mendapat Kunjungan dari Dirjen Pemasyarakatan (Doc MalangTIMES)
Lapas Klas 1 Malang, saat mendapat Kunjungan dari Dirjen Pemasyarakatan (Doc MalangTIMES)

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Ya Lapas secara garis besar merupakan tempat pembinaan bagi mereka yang telah terbukti salah dan telah mendapatkan vonis dari hakim terhadap kesalahannya. Kemudian dibina untuk dikembalikan lagi kepada masyarakat.

Para penghuni Lapas ini disebut sebagai narapidana atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Selain dihuni narapidana, Lapas juga dihuni oleh tahanan titipan, di mana orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim. 

Konsep pemasyarakatan sendiri, dilansir dari Wikipedia, pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada tahun 1962. Ia menyatakan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, melainkan juga tugas yang jauh lebih berat adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke dalam masyarakat. Dengan demikian, selama narapidana berada di dalam Lapas akan mendapatkan pembinaan untuk persiapan dimasyarakatkan kembali.

Berbicara Lapas, di Malang terdapat sebuah tempat yang memang menjalankan fungsi tersebut. Lapas itu adalah Lapas Klas 1 Malang yang dikenal dengan Lapas Lowokwaru. Lapas Lowokwaru berada di Jalan Asahan Nomor 7, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Berada di tengah-tengah permukiman padat Kota Malang.

Lapas ini dihuni oleh mereka yang telah divonis oleh hakim untuk mendapatkan pembinaan, menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat sehingga tidak lagi mengulangi lagi perbuatannya. Saat ini, Lapas Lowokwaru dihuni 3.000 ribu lebih narapidana. 

Lapas ini dibangun pada zaman Belanda tahun 1912 ketika Pemerintah Belanda membangun perumahaan di daerah celaket Malang. Penjara ini telah mengalami pergantian tiga masa, yakni Masa penjajahan Belanda, jepang dan masa kemerdekaan. Pada saat masa Jepang, tempat ini digunakan sebagai tempat penampungan para pejuang kemerdekaan untuk diinterogasi. 

Pada masa perjuangan kemerdekaan, tempat ini pernah dibakar oleh para pejuang hingga tinggal menyisakan tembok penyekatnya saja. Hal ini dilakukan agar bangunan yang dinilai strategis tersebut tak bisa dikuasai dan digunakan kembali oleh Belanda.

Kini, Lapas Lowokwaru digunakan untuk pembinaan para narapidana. Kehidupan di Lapas Lowokwaru sama halnya dengan kehidupan dalam bermasyarakat di luar Lapas. Tak lagi seperti dahulu. Saat ini Lapas Lowokwaru lebih memanusiakan penghuninya. Meski para penghuni kehilangan kekebesan bergerak, mereka tetap bisa menjalani beragam aktivitas bermasyarakat. Mulai dari beribadah, berolahraga, bekerja, makan bersama, bersih-bersih hingga bercocok tanam dan masih banyak kegiatan lainnya yang bisa dilakukan di dalam Lapas.

Bukan hanya itu, kegiatan seni pun turut disediakan oleh pihak Lapas. Mulai dari bermusik hingga seni melukis dan ukir tersedia pada bengkel seni Lapas Lowokwaru. Hal itu untuk mengakomodir para WBP yang mempunyai minat dan bakat dalam bidang tersebut. 

Kegiatan-kegiatan tersebut memang sudah diarahkan ketika pertama kali mereka masuk ke dalam Lapas. Upaya pengarahan tersebut tentunya juga untuk tetap membuat para napi tetap produktif dan tidak mati kreativitas setelah nantinya kembali ke masyarakat. 

Selain untuk membina para WBP menjadi lebih baik lagi ketika nantinya mereka keluar, kegiatan-kegiatan tersebut tentunya bertujuan untuk membuat para napi mempunyai kesibukan sehingga situasi dalam Lapas bisa tetap kondusif. Jalannya kegiatan tersebut tentu tetap dengan pengawasan petugas Lapas yang biasa disebut Sipir.

Lalu apa saja bentuk pembinaan dan pelayanan nyata  yang dilakukan Lapas Klas 1 Malang untuk membina para narapidana dan mempersiapkannya untuk kembali ke masyarakat?.  Simak terus Informasinya hanya di MalangTIMES.com