Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar memberikan bantuan buku untuk bacaan  kampoeng Jadoel art.(ist)
Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar memberikan bantuan buku untuk bacaan kampoeng Jadoel art.(ist)

Keberadaan taman baca masyarakat (TBM) dinilai turut berpengaruh terhadap literasi warga Kota Kediri. Seperti yang dilakukan Taman Baca Kampoeng Jadhoel Art yang berlokasi di Kelurahan Tinalan Kota Kediri. 

Taman baca yang dikelola secara mandiri oleh Budi Santoso itu pun mendapat apresiasi dari Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar. Tak hanya mendapat kunjungan dari orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri, hari ini (Kamis, 24/9/2020) taman baca tersebut juga mendapat bantuan 100 eksemplar buku. 

Baca Juga : Permudah Pengurusan Tanah, Pemkot Probolinggo Gelar PTSL

Saat mengunjungi taman baca ini, Mas Abu, sapaan akrab wali kota, berkeliling untuk melihat beberapa spot yang ada. Misalnya tempat membaca buku dan sekolah daring, gubuk yang berisi barang-barang tempo dulu seperti radio, kaset dan jam beker. 

Selain itu, dia juga mengunjungi taman yang biasa untuk anak-anak belajar menanam. Mas Abu pun sempat ikut melihat anak-anak yang sedang bermain permainan tradisional di halaman luar taman baca.

Abu menilai bahwa taman baca ini merupakan langkah positif yang dilakukan oleh Budi Santoso sebagai pendiri. Sehingga, anak-anak sekitar dapat mengembangkan kreativitas secara bebas di sini. 

Dia juga berharap, keberadaan taman baca juga secara signifikan bisa meningkatkan minat baca anak-anak dan warga pada umumnya. “Saya harap ini dapat memicu tumbuhnya taman baca yang lain di Kota Kediri,” ujarnya. 

Sementara itu, Budi Santoso pemilik taman baca menceritakan awal mula berdirinya Taman Baca Kampoeng Jadhoel Art karena keinginannya sejak kecil. 

“Dulu saya setiap hari lari ke perpustakaan waktu istirahat sekolah untuk baca. Pulang sekolah juga gitu, makan terus ke taman baca. Tapi untuk menyewa buku, saya tidak bisa karena tidak punya uang. Karena tiap hari baca buku di taman baca, yang punya tahu jadi saya diminta bantu-bantu menata buku di sana," kenangnya. 

"Dari dulu memang hobi baca, jadi kalau punya gubuk pengennya ada taman baca. Akhirnya kesampaian di tahun 2013 saya punya taman baca sendiri,” lanjut Budi.

Di awal berdirinya taman baca itu, hanya tersedia 30 sampai 40 macam buku. Nanti, saat ini koleksi buku semakin banyak dan ada kurang lebih 400 macam buku yang terdiri dari buku anak-anak hingga buku politik. 

Baca Juga : Pandangan Umum Fraksi DPRD Atas Perubahan APBD Tahun 2020, Ini Jawaban Wali Kota Kediri

Taman baca ini juga sering dikunjungi oleh anak-anak sekitaran maupun di luar lingkungan Dadapan untuk membaca buku. 

Pada masa pandemi ini, taman baca juga menyediakan Wi-Fi gratis sehingga anak-anak bisa bersekolah daring. Selain itu, anak-anak juga diajarkan cara menanam tanaman, membuat batik, membuat kompos, serta diajak membuat dan memainkan permainan tradisional. 

Budi Santoso mengungkapkan alasan juga mengajarkan membuat dan memainkan permainan tradisional karena permainan tradisional lebih bagus, dan agar anak-anak tidak ketergantungan dengan gawai. Di tengah pandemi seperti ini taman baca tetap buka dan setiap yang berkunjung harus mematuhi protokol kesehatan.

Pada akhir kunjungan, Budi Santoso memberikan buku jadul terbitan ahun 1926 tentang hukum dan ekonomi kepada Wali Kota Kediri. 

Turut serta dalam kegiatan ini Plt Asisten Administrasi Umum Chevy Ning Suyudi, Plt Dinas Arsip dan Perpustakaan Enny Endarjati, dan Kepala Dinas Pendidikan Siswanto.