Surat pernyataan tahun 2005 dan lapangan di Petilasan ( Anang Basso / Tulungagung TIMES)
Surat pernyataan tahun 2005 dan lapangan di Petilasan ( Anang Basso / Tulungagung TIMES)

Pembangunan lapangan olahraga Poerbo Koesoemo, dengan tambahan lapangan bola voli dan bangunan mirip panggung di Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, terus memanas. 

Raden Dicky Chandra Yunusa yang merupakan keluarga besar Jayeng Kusumo dari keturunan Hyang Prawiro atau kakak kandung Hyang Poerbo, menuding pembangunan lapangan itu tidak berdasarkan izin. Dirinya menunjukkan perjanjian berupa surat pernyataan yang dibuat oleh keluarga besarnya dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Demuk pada tahun 2005 lalu.

Baca Juga : Listrik Mati karena Layang-Layang, Ganggu Pembelajaran Daring di Tulungagung

Dikutip dari isi surat, pihak keluarga besar almarhum RM Poerbokoesoemo bersepakat tidak mewakafkan tanah di muka balai desa Demuk kepada siapapun termasuk pada pihak desa.

Dijelaskan, tanah yang dimaksud hanya diperuntukkan sebagai petilasan yang tetap dikuasai oleh keluarga dan diawasi pihak desa. Penandatangan surat pernyataan itu adalah Kepala Desa Demuk saat itu atas bernama Riyanto dan pihak keluarga RA Soesupti, pada tanggal 25 Agustus 2005.

"Ini surat pernyataannya, dan saya tegaskan bahwa yang akan menuntut itu keluarga Margono Poerbo Koesoemo yang dari Jakarta," kata Raden Dicky Chandra Yunusa sekaligus sebagai ralat untuk berita sebelumnya, Selasa (22/09/2020).

Menanggapi hal itu, Suari Kepala Desa Demuk, menerangkan, jika surat yang dimaksud Dicky adalah surat yang dibuat pada tahun 2005. Sedangkan dasar melakukan pembangunan cagar budaya adalah surat tahun 2016.

"Ini surat (tahun) 2005. (saat itu) Kadesnya Slamet Riyanto. (Sedangkan) yang baru surat tahun 2016 atas nama Kades Mahroji," ungkap Suari.

Bukan isapan jempol belaka, Suari menegaskan, pihak desa masih menyimpan arsip yang dimilikinya itu. "Arsip masih ada, silakan ke kantor desa jika ingin melihatnya," ujarnya.

Baca Juga : TKSK Rejotangan Ungkap Indikasi Dua KPM di Tulungagung Dipersulit Ambil Bansos

Polemik pembangunan bangunan mirip lapangan dan panggung ini rencananya akan dibawa ke jalur hukum. Pasalnya, pihak Pemdes Demuk tidak punya izin keluarga besar ketika membangun tempat itu.

Permintaan pinjam pakai yang pernah dikeluarkan Kepala Desa sebelumnya hanya sebatas hak pakai bukan hak menguasai. Kini, bangunan cagar budaya yang seharusnya terbuka dibangun tembok keliling, panggung permanen dan lapangan bola voli.