Ketua DPC IBI Kabupaten Malang, Endah Pujiati saat ditemui awak media di salah satu hotel di Kota Malang, Kamis (17/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Ketua DPC IBI Kabupaten Malang, Endah Pujiati saat ditemui awak media di salah satu hotel di Kota Malang, Kamis (17/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Jumlah bidan yang membuka praktik mandiri di Kabupaten Malang terus bertambah tiap tahun. IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Kabupaten Malang mencatat sekitar 75 persen dari total 1.700 bidan telah mengantongi izin Praktik Mandiri Bidan (PMB).

Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) IBI Kabupaten Malang Endah Pujiati mengatakan, praktik ribuan bidan tersebut tersebar di 33 kecamatan di wilayah itu. "Hampir semua ya. Dari 1.700, lebih dari 1.200-an itu sudah punya izin praktik (mandiri)," ungkapnya ketika dikonfirmasi pewarta, Jumat (18/9/2020).

Baca Juga : Masker belum Efektif Cegah Covid, Kadinkes Arbani Imbau Utamakan Jaga Jarak

Sementara sisanya, sekitar 500 bidan baru memiliki izin praktik di sarana kesehatan (sarkes). Sehingga, mereka tetap bisa memberikan layanan pada masyarakat.

Banyaknya bidan yang membuka layanan mandiri, lanjut Endah, diharapkan dapat semakin menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sebab, bidan bisa memberi layanan di luar jam kerja kedinasan, juga secara lokasi praktik mandiri akan lebih dekat dengan masyarakat.

Endah menyebut, DPC IBI Kabupaten Malang mencatat AKI dan AKB selama tahun 2020 menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya. Untuk AKI, turun menjadi 14 kasus dibanding 2019 lalu sebanyak 27 ibu meninggal.

Sedangkan untuk AKB, di tahun 2020 tercatat 62 bayi yang meninggal. Meski demikian, Endah tidak merinci jumlah kematian bayi pada 2019 lalu. "Rentang penurunannya jika dipersentasekan mencapai 50 persen," ujarnya.

Pihaknya berharap, setiap tahun AKI dan AKB di Kabupaten Malang bisa ditekan hingga nihil kasus. Penurunan tersebut juga didorong dengan upaya dari para bidan yang bekerja keras dalam menyosialisasikan program-program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Salah satunya, berupa screening tahap awal.

"Kita screening mulai dari ibu hamil, itu harus periksa minimal 4 kali. Karena pada kontak pertama itu harus kita screening dan menemukan risiko tinggi deteksi dini untuk ibu hamil," jelasnya.

Upaya lain untuk penanganan terhadap ibu hamil, yakni adanya kelas ibu hamil. Dalam kelas itu, ibu hamil sendiri menerima pemaparan dari para bidan yang membuka praktik mandiri maupun yang berada di klinik.

Baca Juga : Akhirnya, Mesin PCR Milik Pemkab Malang Sudah On Air, tapi Belum Berjalan Maksimal

"Biasanya ibu hamil manut sama bidan, itu punya kelas ibu hamil. Dengan inovasi-inovasi seperti itu, bagaimana mewujudkan keluarga yang sehat, ada di kelas ibu hamil," jelasnya.

Selain kelas ibu hamil, terdapat pembinaan dua bulan sekali kepada anggota DPC IBI Kabupaten Malang yang bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja dari para bidan dalam membantu proses kelahiran seorang bayi, baik dari pra hingga pasca kelahiran.

Endah pun menekankan pentingnya pendidikan terkait kesehatan ibu dan anak sejak dini. Misalnya, pemberian sosialisasi bagi para remaja putri (rematri). Sedangkan khusus bagi calon pengantin (catin) laki-laki maupun perempuan, bidan-bidan anggota IBI juga gencar melakukan sosialisasi.

"Dari rematri kita sudah mulai meningkatkan stabilitas atau kondisi calon seorang ibu itu harus mulai SMP (Sekolah Menengah Pertama, red)," ujarnya.

Kemudian untuk catin sendiri, kedua calon mempelai harus ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. "Itu kerja sama dengan KUA (Kantor Urusan Agama, red). Jadi laporannya nanti dengan KUA kita saling terkait," pungkasnya.