Rimba (masker hitam) saat rilis di Mapolres Tulungagung, nampak Kapolres tunjukan ciu yang dilabeli oleh Rimba (Joko Pramono for JatimTIMES)
Rimba (masker hitam) saat rilis di Mapolres Tulungagung, nampak Kapolres tunjukan ciu yang dilabeli oleh Rimba (Joko Pramono for JatimTIMES)

Seorang pemuda Blitar bernama Nanang Dwi Susilo alias Koneng (29), warga Desa Pandanarum, Kecamatan Sutojayan, Blitar pada Senin (7/9/20), ditangkap Satreskoba Polres Tulungagung.  

Pasalnya Koneng mempunyai bisnis sampingan menjual minuman keras jenis ciu. Koneng ditangkap di Desa Karangsari, Kecamatan Rejotangan-Tulungagung saat menawarkan ciu miliknya.

Baca Juga : Polisi Kantongi Identitas Bandar Pil Koplo yang Dikemas Buah Salak ke Lapas Jombang

 

Dari tangan Koneng, petugas menyita 149 botol ciu, yang dikemas dalam 125 botol 500 ml dan 24 botol 1.500 ml.

Uniknya, ciu milik Koneng diberi label mirip obat kepala dan mempunyai rasa lecy dan pisang. Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia dalam rilisnya mengatakan, pengungkapan ini berdasarkan informasi dari masyarakat.

Selain itu, razia terhadap peredaran ciu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan jelang acara pengesahan anggota baru salah satu perguruan silat.

“Tidak boleh ada miras di Tulungagung,” ujar Kapolres.

Dari informasi yang dihimpun, Koneng mendapat ciu dari wilayah Solo. Koneng sendiri sudah menjalani bisnis haram ini sejak 6 bulan lalu.

“Dia melabeli saja, dia membeli dari Solo sesuai dengan rasanya,” terang Kapolres.

Selanjutnya ciu yang sudah dibeli dicampur dengan air oleh Koneng. Satu botol ciu ukuran 500 ml dijual oleh Koneng dengan harga 10 ribu rupiah, sedang botol kemasan 1.500 ml dijual dengan harga 25 ribu rupiah.

Baca Juga : Kejari Tulungagung Tetapkan Karyawan PDAM Tersangka Korupsi

 

Dari penjualan itu, Koneng mendapat untung 5 ribu rupiah per botol. “Yang besar 25 ribu, yang kecil 5 ribu,” kata Kapolres.

Sementara itu Koneng saat dimintai keterangan oleh awak media, ciu itu dijual kepada teman-temannya.

Meski demikian, satu orang bisa membeli hingga satu kardus berisi 12 botol. “Hanya ke teman-teman (jualnya),” ujar Koneng.

Akibat perbuatannya, Koneng dijerat dengan pasal 142 Jo 91 ayat (1) UU RI nomor 18 tahun 2012 tentang pangan, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.