Suasana saat petugas kesehatan melakukan rapid test kepada pengunjung kafe di kawasan Jl Kendalsari Kota Malang, Selasa malam (7/7). (Foto: Humas Pemkot Malang).
Suasana saat petugas kesehatan melakukan rapid test kepada pengunjung kafe di kawasan Jl Kendalsari Kota Malang, Selasa malam (7/7). (Foto: Humas Pemkot Malang).

Petugas operasi gabungan penertiban kembali menggelar operasi ke area tongkrongan cafe ala Jepang di Jalan Kendalsari, Kota Malang, semalam (Selasa, 7/7/2020).

Dalam giat operasi gabungan yang dilakukan oleh jajaran Polresta Malang Kota, Kodim 0833, hingga petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang itu kembali dilakukan rapid test terhadap 143 orang, mulai dari pengunjung hingga pegawai cafe. Hasilnya, ada 3 orang yang kedapatan reaktif. 

Baca Juga : 30 Karyawan BRI Kanwil Malang Dikabarkan Positif Covid-19, Sutiaji: Bisa Iya, Bisa Tidak

Tak seperti operasi di hari-hari sebelumnya, tiga orang yang kedapatan reaktif tersebut langsung dilakukan tes swab oleh petugas untuk mengetahui kondisi klinisnya lebih lanjut. Di samping, ketiganya juga dikirim ke rumah isolasi yang berada di Jalan Kawi.

Wali Kota Malang Sutiaji kali ini berkesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan operasi tersebut. Di mana, dalam operasi kali ini masih ditemui juga masyarakat yang tak disiplin protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Seperti masih adanya pengunjung yang tidak memakai masker, bahkan pengelola cafe juga tidak menerapkan protokol jaga jarak sama sekali.

Hal itu terlihat dari bagaimana pengunjung yang datang tampak duduk berdekatan tanpa jarak. Di area cafe juga tidak ada tanda pembatas, bahkan ada yang membawa anak bayi di tempat yang padat dengan kerumunan orang ini.

Pria yang akrab disapa Aji ini merasa prihatin akan sikap masyarakat yang seakan abai dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Apalagi, banyak juga kasus positif yang berasal dari kategori OTG (Orang Tanpa Gejala) di Kota Malang.

"Bisa jadi itu aman bagi dia (OTG), tapi bahaya bagi orang lain. Karena ketika di rapid pun biasanya non reaktif tapi kalo di swab positif. Hari ini ada 3 yang kita swab," ujarnya.

Meski pengelola cafe tak ada yang kedapatan reaktif rapid test, namun tempat usaha tersebut juga langsung dilakukan penutupan. Sebab, transmisi dari kunjungan orang yang belum diketahui dari mana asalnya ini dikhawatirkan akan menjadi kluster baru.

"Cafenya saya minta ditutup kenapa, walaupun pengelolanya tidak reaktif tapi ini pengunjungnya tadi nempati yang mana belum tahu, transmisinya belum tahu, maka ini ditutup dulu," tegasnya.

Baca Juga : Demo Tunggal Hingga Gunakan Uang Bansos untuk 'Liwetan', Begini Aksi Protes Warga di Jombang

Hal ini juga sebagai bentuk tindakan tegas Pemkot Malang dalam memberikan sanksi bagi pengelola usaha yang seakan masih acuh untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 saat beroperasional.

Terlebih, kapasitas dari pengunjung cafe juga tak ada pembatasan. Yang mana seharusnya hanya diperbolehkan 50 persen dari kapasitas totalnya.

"Pemerintah hadir, karena ini untuk memberikan jaminan bagi masyarakat supaya disini maksudnya boleh buka tapi dijaga, kalo sudah penuh bilang aja dan separo dari kapasitas normal," tandasnya.

Sementara itu, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata menyampaikan dalam operasi gabungan kali ini juga digunakan sebagai sarana komunikasi dan edukasi terhadap masyarakat.

Sehingga masyarakat semakin waspada dalam menjalankan aktivitas dengan selalu menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan. Mengingat jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Malang masih terus meningkat hingga mencapai angka 290.

"Jadi jangan biarkan waktu kosong, begitu sudah dilaksanakan rapid maka lakukan sosialisasi di sana. Berikan pemahaman-pemahaman kepada masyarakat, apa yang kita kerjakan ini adalah wujud cinta kasih kita kepada mereka. Bukan karena kita benci, tapi kita sayang sama nyawa. Jadi pesan pentingnya, Kita menjaga setiap nyawa yang ada di Kota Malang," ungkapnya.