Wajah Baru Alun-alun Utara
Wajah Baru Alun-alun Utara

Vakumnya aktivitas wisata di tengah pandemi Covid-19 dimanfaatkan untuk penataan kembali berbagai tujuan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bukan hanya Malioboro yang diprogramkan pemerintah untuk ditata ulang, tetapi obyek-obyek lain juga menjadi target renovasi dan revitalisasi.

Contoh terbaru adalah pengembalian Alun-Alun Utara Yogyakarta alias altar untuk dikembalikan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I. Bentuk perubahan yang dilakukan adalah dengan pemagaran kembali di sekeliling alun-alun.

Baca Juga : Terdampak Pandemi Covid-19, Pendapatan Pajak Hotel Berkurang Rp 2,2 Miliar 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 

 

Berdasarkan pantauan YogyakartaTIMES, saat ini pemagaran altar telah mencapai sekitar 70 persen. Perubahan ini juga mulai terlihat saat melintas atau dari foto-foto yang beredar di media sosial.

Pemagaran keliling seluruh alun-alun utara dilakukan dari bagian ujung depan keraton bagian timur melingkar hingga ujung bagian barat. Sesuai rencana Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta, alun-alun utara dipagari dengan besi setinggi sekitar 1 meter.

Adapun bagian tengah akan dikembalikan dengan menghilangkan rumput untuk diisi pasir halus. Renovasi untuk memberikan wajah baru ini telah dimulai pada awal Juni dan direncanakan akan selesai pada akhir Juli 2020.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho mengungkapkan, pada saat perencanaan, ukuran tinggi dan lebar antara pagar dibuat sama dengan model pagar yang berada di utara Pagelaran Kraton Yogyakarta.

"Ukuran, tinggi dan lebar antara pagar satu dengan yang lain juga sama," terang Aris pada sosialisasi sebelum pelaksanaan.

Aris menyebut, tujuan perubahan ini seperti diungkapkan GKR Mangkubumi pada awal pelaksanaan proyek, adalah untuk mendapatkan pengakuan heritage dari UNESCO.

Sebelumnya, dalam pertemuan di Aula Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta, bulan Juni lalu, putri sulung Sultan Hamengku Buwono X ini mengungkapkan, Kraton Yogyakarta ingin mengembalikan alun-alun utara seperti masa lalu yaitu pemagaran keliling yang terakhir pada masa Sultan Hamengku Buwono I.

Baca Juga : Pansel Umumkan Hasil Seleksi Sekda Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat Urutan Pertama 

 

Sebenarnya terkait masalah ini, telah beredar berbagai pandangan masyarakat sejak sebelum dimulai. Salah satunya masyarakat ada yang khawatir tidak bisa beraktivitas lagi di alun-alun utara.

Namun, Raja Kraton Yogyakarta yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan, tujuan pemagaran yakni sebagai upaya mengembalikan wajah alun-alun seperti masa lalu meski tak sama persis.

“Tujuannya kembali ke yang dulu. Saat awal alun-alun dipageri, tidak hanya alun-alun tembok masuk Rotowijayan, ke utara ke kantor pos itu dulu ada pintu gerbang semua,” ungkap Sultan pada wartawan pada awal pengerjaan proyek bulan lalu.

Terkait kekhawatiran masyarakat yang akan kehilangan ruang publik, Sultan menyampaikan nantinya tetap akan ada pintu pagar yang memungkinkan akses.

“Tetap ada pintu karena untuk upacara seperti grebeg dan sebagainya juga kan tetap bisa,” pungkas Sultan.