kisah kontemplatif
kisah kontemplatif

Gus Arif turun dari mobil di depan sebuah bengkel. Dengan penampilannya, orang tidak akan mengenal kualitas Gus Arif. Seorang anak kyai atau gus, yang sangat layak disebut kyai. Karena umurnya yang muda, layak disebut kyai muda. Namun bagi yang mengenalnya lebih dari dalam, Gus Arif layak menjadi salah seorang yang disebut kyai sepuh. 

Saiful tidak mengetahui sejauh itu. Saiful mengenalnya sebagai seorang gus atau anak kyai besar, dan layak mewakili dan menggantikan ayahnya. Gus Arif mampu bergaul dengan siapa saja. Pandai menempatkan dirinya di mana ia berada. Ia mampu mendengarkan orang lain dengan baik. Ia juga mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan orang lain dalam mengurai permasalahannya.

Baca Juga : Bengkel Ma'a: Seri Kimia Kebahagiaan (2)

Gus Arif tidak pernah memaksakan pendapat dan kehendaknya kepada orang lain. Menurutnya, setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri. Ia hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan dengan variabel-variabel yang sering tidak disadari orang lain. 

Seperti contohnya ketika Saiful bercerita tentang kejadian yang dialami temannya yang sakit Migrain. Sakitnya tidak kunjung sembuh setelah bertahun-tahun dan telah berobat kemana-mana. Saat itu Gus Arif mengatakan sambil tertawa, “Lha gimana mau sembuh, karena virusnya diberi makanan terus. Obat yang diminum melemahkan penyakitnya, namun di sisi lain virusnya diberi vitamin yang banyak sehingga penyakitnya berkembang lebih kuat terus, ha ha ha.”

Saat itu Saiful penasaran dan bertanya, “Maksudnya gimana Gus?” Mendengar pertanyaan Saiful, Gus Arif menghentikan tawanya dan kemudian meminum kopinya sedikit. “Migrain itu sumbernya utamanya kecemasan. Kalau kecemasannya tidak diatasi, maka obat-obat itu hanya melemahkan sementara. Saat kecemasannya muncul atau meningkat, maka migrainnya kumat lagi, ha ha ha,” kata Gus Arif menjelaskan.

Saiful mengangguk-angguk. Saiful berpikiran agak nakal, dan kemudian bertanya, “Kok Gus Arif tahu, pengalaman ya, ha ha ha?!” Gus Arif dengan wajah serius berkata, “Kecemasan itu karena kurang keyakinan. Kurang keyakinan itu karena kurang mengenal. Kurang mengenal itu karena malas belajar dan mengamalkan. Seorang yang mengamalkan akan berpengalaman. Orang yang bijak belajar dari pengalamannya agar tidak terperosok di lubang yang sama berkali-kali.” 

Setelah mengatakan hal serius itu, wajah Gus Arif kembali ceria. Ganti Saiful yang wajahnya menegang. Apa yang diucapkan oleh Gus Arif adalah prinsip umum, banyak orang memahami hal itu, namun entah kenapa mendengar Gus Arif yang mengucapkannya terasa berbeda.

Melihat Saiful terdiam, Gus Arif kemudian berkata, “Kamu tidak usah bingung Saiful!” Saiful menjawab, “Saya tidak bingung Gus, tapi mikir, ha ha ha.” Sejak itu, Saiful lebih serius mengamati apa yang dikatakan Gus Arif. Seringkali Saiful kalau berhari-hari memikirkan ucapan-ucapan Gus Arif, dan menemukan ilmu baru.  

Baca Juga : Bengkel Ma'a: Seri Kimia Kebahagiaan (1)

Setelah turun dari mobil, Gus Arif tidaklangsung masuk ke bengkel. Ia mengamati orang-orang yang bekerja di bengkel itu. Seorang bapak-napak mendekatinya dan mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum Gus, monggo masuk Gus!” Gus Arif menjawab salam, “Wa’alaikumussalam, njih mongo-monggo.” Mereka berdua berjalan memasuki bengkel itu. Terlihat mereka berbicang sambil jalan, dan sesekali mereka berdua tertawa.

(Bersambung)