Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo (foto: Joko Pramono/ JatimTIMES)
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo (foto: Joko Pramono/ JatimTIMES)

Bupati Tulungagung, Maryoto Burowo menyesalkan terjadinya insiden pembantingan toples dan botol bir di Pendopo Tulungagung, yang diduga dilakukan oleh anggota dewan dan temannya pada Jum'at petang (29/5/20) lalu.

"Kita menyesalkan kejadian itu, seharusnya bisa dibicarakan baik-baik," ujar Maryoto, Rabu (3/6/20) di Pendopo Tulungagung.

Kejadian ini membuat suasana di Pendopo diliputi ketegangan.

Baca Juga : Bahaya! RS Rujukan Berpotensi Jadi Kluster Baru Penyebaran Covid-19 di Malang

Maryoto ungkapkan jika kejadian itu sudah dibicarakan dengan Ketua DPRD Tulungagung, Marsono pada Selasa (2/6/20) kemarin. Pembicaraan ini atas inisiatif dari ketua dewan.

Dari pembicaraan dengan Marsono itu, DPRD Tulungagung akan menindaklanjuti kejadian itu.

"Pak Dewan (DPRD) akan membicarakan dengan lingkungan DPRD Tulungagung," terang Maryoto.

Dalam pembicaraan itu DPRD Tulungagung akan melakukan rapat internal, mulai akan membawa permasalahan ini ke ranah tata tertib dan pembahasan di Dewan Kehormatan DPRD Tulungagung.

Maryoto menjelaskan kronologi kejadian itu. Pada Jum'at (29/5/20) sore, SH datang ke pendopo bersama temanya mencari dirinya.

Saat itu Maryoto tak ada di tempat. Kemudian Maryoto di telepon oleh keponakannya jika dicari oleh SH dengan kondisi marah.

Lalu Maryoto menjawab 5 menit lagi akan sampai di pendopo.

"Setelah saya sampai di sini (pendopo) ternyata (SH) sudah pulang," terang bupati.

Maryoto sendiri tidak tahu latar belakang kejadian ini. Menurutnya hubungannya dengan SH selama ini baik-baik saja.

Namun diakui jika dirinya memang lama tidak bertemu dengan SH.

Disinggung apakah akan ada rencana membawa masalah ini ke jalur hukum, Maryoto lebih memilih membicarakan di tingkat partai, lantaran baik SH maupun dirinya bernaung di bawah partai yang sama.

"Kami kepala daerah diusung oleh partai, dibicarakan di tingkat partai dan tingkat dewan," tutur Maryoto.

Disinggung apa yang dilakukan oleh SH dianggap mencederai Pemkab Tulungagung lantaran dilakukan di pendopo yang menjadi simbol pemerintahan, Maryoto menegaskan masih dibicarakan di tingkat partai.

"Kaget, mestinya bisa dibicarakan," ujarnya.

Pasca kejadian itu dirinya tidak ada komunikasi dengan SH.

Informasi yang sempat berkembang di masyarakat, tindakan SH dipicu oleh tidak diakomodirnya calon kepala dinas yang diusung SH dalam bursa calon kepala dinas di lingkup Pemkab Tulungagung.

Namun dengan tegas Maryoto membantahnya. Pemilihan kepala dinas tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini.

Baca Juga : Menuju New Normal, Bantuan bagi Warga Terdampak Covid-19 Terus Bergulir

Pengisian jabatan, lanjut Maryoto saat ini ditangani oleh panitia seleksi dan diuji oleh panitia sesuai dengan aturan.

"Tidak berpengaruh, tetap berjalan," kata Maryoto.

Dengan kejadian ini, pihaknya akan memperketat akses masuk pendopo.

Sementara itu SH saat berita ini ditulis masih belum bisa dikonfirmasi. Dua nomer teleponnya pun juga tidak dak bisa dihubungi.

Begitu juga dengan Ketua DPRD Tulungagung, Marsono dan Ketua DPC PDI P Tulungagung, Susilowati yang nomer HPnya tidak aktif.

Sebelumnya, seorang anggota DPRD Tulungagung bersama seorang temannya ngamuk di Pendopo Tulungagung, Jum'at (29/5/20) malam lalu.

Kejadian itu membuat suasana di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, Tulungagung diselimuti ketegangan.

Tindakannya mendapat kecaman dari beberapa pihak seperti dari praktisi hukum sekaligus pegiat Aliansi Masyarakat Peduli Tulungagung (AMPTA), Heri Widodo.

"Saya mengecam aksi koboi di Pendopo Kabupaten Tulungagung," terang Heri, saat dihubungi Senin (1/6/2020).