Ilustrasi salat berjamaah. (Foto: istimewa).
Ilustrasi salat berjamaah. (Foto: istimewa).

Masa transisi new normal atau kelaziman baru hidup di tengah pandemi covid-19 di Malang Raya berlangsung sejak kemarin (Senin, 1/6/2020).

Pelaksanaan peribadatan menjadi salah satu perhatian apakah bisa diakses secara bebas. Di Kota Malang, tempat ibadah sudah mulai ada yang beraktivitas. Seperti gereja, yang sebelumnya menerapkan virtual kini juga sudah mulai dibuka meski pada dasarnya dari awal memang tidak ada larangan untuk melaksanakan ibadah di tempat ibadah asalkan menerapkan protokol kesehatan covid-19.

Namun, pada masa ini, ada aturan yang diwajibkan bagi semua tempat ibadah apabila akan beroperasional sebagaimana mestinya.

Hal itu tercantum di salah satu pasal dalam Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 19 Tahun 2020 tentang Pedoman Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Beberapa persyaratan tersebut yakni harus menyediakan fasilitas kesehatan covid-19 di semua tempat ibadah seperti thermo gun, hand sanitizer, dan tempat cuci tangan. Pengunjung juga diwajibkan memakai masker.

"Pengurus atau penanggung jawab rumah ibadah memiliki kewajiban menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah. Kemudian, melakukan pembersihan dan penyemprotan disinfeksi secara berkala," bunyi beberapa ayat 3 pasal 18 dalam Perwal tersebut.

Kemudian, setiap tempat ibadah harus menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai atau kursi dengan jarak minimal 1 meter. Juga mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi ketentuan kesempurnaan beribadah.

"Tempat ibadah harus tetap menjalankan protokol covid-19 dengan baik. Kami sudah sepakat bersama tokoh agama bahwa setiap tempat ibadah juga harus menyediakan thermo gun," tegas Wali Kota Malang Sutiaji, belum lama ini.

Jika tempat peribadatan tidak dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam aturan perwal tersebut, maka belum diperbolehkan beroperasional di masa new normal mendatang.

"Gereja, masjid, musala, dan tempat ibadah lainnya kami pantau. Jika tidak memenuhi persyaratan, maka belum diperbolehkan beroperasional," tandasnya.