Ilustrasi stres wfh. (Foto: ayojakarta.com)
Ilustrasi stres wfh. (Foto: ayojakarta.com)

Sudah berbulan-bulan lamanya kita melakukan physical distancing untuk memutus penyebaran Covid-19. Segala hal dilakukan di rumah, mulai dari sekolah, bekerja, belanja, olahraga, dan lain sebagainya. Namun hingga kini, wabah ini masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sementara, semakin lama "di rumah aja" semakin berdampak besar terhadap kesehatan mental. Psikologi Universitas Brawijaya (UB) Ary Pratiwi SPsi MPsi mengatakan bahwa kondisi Covid-19 yang menyebabkan harus stay at home atau "di rumah aja" memunculkan stressor atau tekanan baru.

Baca Juga : Dinkes Kabupaten Ponorogo Lakukan Tes Cepat Covid-19, Bagaimana Hasilnya?

Kata Ary, tekanan ini tidak hanya muncul pada orang dewasa, namun juga anak-anak, terutama dengan banyaknya tugas yang diberikan dari pihak sekolah. 

"Dengan adanya tugas yang biasanya dikerjakan di sekolah dan saat WFH harus mengerjakan berbagai macam tugas sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, ditambah harus online di jam yang ditentukan membuat anak punya tekanan sendiri," papar Ary. 

Sementara itu, kerja di rumah menyebabkan pola jam kerja berubah. Apabila normalnya kerja pagi sampai siang, dengan diberlakukannya work from home ini kerja bisa sampai malam, bahkan tengah malam.

Nah, untuk mengantisipasi terjadinya stres, Ary berharap agar para orang tua tetap meluangkan waktu bermain bersama keluarga.

"Hal ini utamanya untuk menciptakan hati yang gembira. Karena hati yang gembira adalah obat di masa pandemi seperti saat ini," tuturnya.

Meski memunculkan tekanan sosial baru, Pengamat Komunikasi UB Maulina Pia Wulandari SSos MKom PhD mengakui kerja di rumah akibat pandemi Covid-19 membuat intensitas komunikasi antara anggota keluarga mengalami peningkatan. 

"Anggota keluarga yang biasanya hanya berinteraksi pada malam hari di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini akan lebih banyak bertemu dan berkomunikasi. Sepasang suami istri yang biasanya bertemunya cuma pada malam hari maka ketika ada penerapan WFH akan bertemu mulai pagi sampai paginya lagi hingga akhirnya bisa memperlihatkan sifat asli masing-masing,'' bebernya. 

Baca Juga : Ditutup 2 Minggu, Puskemas Simo Dibuka Lagi

Sayangnya, peningkatan intensitas komunikasi tersebut tidak selalu dibarengi dengan kualitas komunikasi. Kondisi ini bergantung pada kondisi psikologi masing-masing keluarga. 

Kita tahu, akibat adanya wabah ini banyak masyarakat yang terkena PHK. Nah, anggota keluarga (misal ayah) yang baru saja mengalami PHK ini tentu akan berpengaruh terhadap pola komunikasi. 

Oleh karena itu, harus ada rambu-rambu yang harus dipahami saat berkomunikasi terutama menyangkut hal-hal yang sifatnya sensitif.