Dosen Fakultas Syariah sekaligus Direktur Pascasarjana UIN Malang Prof Dr Umi Sumbulah MAg. (Foto istimewa)
Dosen Fakultas Syariah sekaligus Direktur Pascasarjana UIN Malang Prof Dr Umi Sumbulah MAg. (Foto istimewa)

Kitab suci Al-Qur'an disebut sebagai mukjizat yang paling besar nan agung. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Prof Dr H M Zainuddin MA di sini. 

Namun, mengapa Al-Qur'an disebut sebagai mukjizat? Sementara mukjizat yang kita tahu selama ini misalnya Nabi Musa yang bisa membelah lautan, Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati, dan lain-lain.

Baca Juga : Profesor UIN Malang Ungkap Keistimewaan Mukjizat bagi Nabi Muhammad

Dosen Fakultas Syariah UIN Malang Prof Dr Umi Sumbulah MAg membeberkannya lebih jauh. Ia menyatakan, mukjizat ada dua macam, yakni mukjizat hissiyah dan mukjizat maknawiyah.

"Mukjizat hissiyah adalah mukjizat yang sifatnya indrawi, yang bisa dilihat, seperti membelah laut, kemudian kalau Nabi Muhammad itu misalnya keluar air dari sela-sela jemarinya, kemudian bisa membelah bulan, dan seterusnya. Tetapi itu sifatnya temporal (dan lokal). Sekarang juga sudah tidak bisa kita saksikan," papar perempuan yang juga menjabat sebagai direktur Pascasarjana UIN Malang tersebut.

Sementara mukjizat maknawiyah, kata Umi, bersifat universal, immaterial, serta eternal. Jadi selamanya kita bisa menyaksikan.

"Mukjizat yang paling besar yang kita bisa saksikan karena bentuknya adalah immaterial, kemudian juga universal, dan juga eternal itu adalah Al-Qur'an," timpalnya.

Lantas mengapa Al-Qur'an disebut immaterial? Dijelaskan Umi, kemukjizatan Al-Qur'an hanya bisa didekati dengan aqliyah. Yakni memaksimalkan akal kita untuk memahami apa yang ada di dalam Al-Qur'an.

Mukjizat Al-Qur'an sendiri ada tiga aspek, yakni i'jaz al-lughawi, i'jaz al-ilmi, dan i'jaz al- tasyri'i.

I'jaz al-lughawi adalah kemukjizatan dari aspek bahasa. "Bahasa Al-Qur'an adalah memang bahasa yang betul-betul dari Tuhan dan karena itu ketika orang kafir ditantang oleh Nabi Muhammad untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Qur'an, kemudian yang semisal dengan 10 surat, maupun semisal dengan satu surat saja ternyata mereka tidak mampu untuk mewujudkan. Padahal bahasa Al-Qur'an adalah bahasa mereka," beber Umi.

I'jaz al-ilmi adalah kemukjizatan pada aspek isyarat dan pembicaraan Al-Qu'an tentang sains dan alam. Al-Qur'an mengandung isyarat ataupun pembicaraan tentang sains dan alam yang secara saintifik baru dibuktikan di kemudian hari jauh setelah turunnya Al-Qur'an.

Baca Juga : Kali Ini, Harkitnas dan Dies Natalis Diperingati dengan Cara Beda oleh Unikama

Sementara I'jaz al-tasyri'i adalah kemukjizatan pada aspek syariat, bahwa setiap ketentuan, aturan dan ketetapan dalam Al-Qur'an mengandung hikmah, kebenaran, dan kemaslahatan bagi makhluk. 

Dalam sejarah kehidupannya, manusia telah banyak mengenal berbagai macam doktrin, pandangan hidup, sistem dan perundang-undangan yang bertujuan membangun hakikat kebahagiaan individu di dalam masyarakat. Namun tidak satupun daripadanya yang dapat mencapai seperti yang dicapai Al-Qur'an dalam kemukjizatan tasyri'i.

Prof Umi menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tematik "Al-Qur'an dan Mukjizat" pada acara Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. Acara yang disiarkan di TV setiap hari ini digelar di hall Rektorat UIN Malang. Jumlah peserta yang datang terbatas dan tetap memperhatikan physical distancing. Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bertindak langsung sebagai host.

"Al-Qur'an menjadi mukjizat yang terbesar dan dari semuanya, dari sisi bahasa, isi, dan yang lain-lain," pungkas Prof Haris menyimpulkan. <