Kue semprit yang menjadi salah satu andalan Marga Rasa Malang (Istimewa).
Kue semprit yang menjadi salah satu andalan Marga Rasa Malang (Istimewa).

Perayaan Idul Fitri menjadi hari yang sangat dinantikan umat muslim di seluruh dunia. Bukan hanya itu, di hari kemenangan ini juga banyak dinantikan oleh para pengusaha. Pasalnya, ada banyak keberkahan yang terasa begitu kental.

Salah satunya yang paling merasakan keberkahan itu adalah para pengusaha kue kering. Karena selama perayaan hari kemenangan, pengusaha kue kering akan kebanjiran order. Lantaran sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia, saat Hari Raya Idul Fitri, kue kering harus dihidangkan di setiap meja.

Baca Juga : Bosan Sama Nastar atau Kastengel, Coba Bikin Palm Cheese Ball Cookies yang Manis Gurih Ini

Namun perayaan hari kemenangan tahun ini nampaknya sedikit berbeda. Di tengah pandemi covid-19, banyak pengusaha yang merasa sangat terpuruk dengan kondisi yang ada sekarang. Penjualan kue kering mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Salah satunya dirasakan Marga Rasa, salah satu pabrik kue kering ternama di Kota Malang. Usaha yang didirikan sejak 1930 ini mengalami penurunan penjualan hingga 70 persen. Tentu penurunan yang sangat luar biasa dibanding dengan penjualan lebaran dan hari-hari normal sebelumnya.

Cucu pemilik usaha Marga Rasa, Narastra Chandra Ghani Anandita menyampaikan, saat Idul Fitri, penjualan kue kering khas yang dipertahankan sejak 90 tahun lalu itu terbilang sangat laris. Namun selama pandemi, pelanggan yang juga berasal dari luar Malang dan luar Jawa menurun signifikan.

"Sampai sekarang terus produksi. Pelanggan dari luar daerah biasanya pesan banyak, namun pandemi ini turun 50 persen hingga 70 persen," katanya.

Meski begitu, produksi tetap dijalankan di tengah pandemi covid-19. Namun peoduksi memang tak dilakukan setiap hari seperti sebelumnya. Melainkan hanya dilakukan saat ada pelanggan yang memesan.

"Kalau memasarkan di toko-toko belum. Karena dari dulu pelanggan yang membeli dalam jumlah besar dan datang langsung ke pabrik," imbuhnya.

Baca Juga : Menggoda, Yuk Cobain Resep Monde Cookies “Janda Genit” Ini

Lebih jauh perempuan yang akrab disapa Nara itu menjelaskan, semprit dan kue kering yang diproduksi secara turun temurun itu memiliki sejarah yang panjang. Sehingga, usaha yang dirintis oleh kakek dan neneknya itu terus dipertahankan hingga sekarang.

"Dan dari dulu kami mempertahankan rasa. Kami menggunakan tepung larut yang langsung anyes di mulut saat dikunyah. Dan ini kami pertahankan untuk pelanggan," jelasnya.

Selama pandemi, menurutnya memang dilakukan beberapa upaya promosi. Salah satunya dengan menambah varian pack. Jika sebelumnya dijual per kilogram, maka saat ini sudah ada banyak varian pack yang bisa dipilih pelanggan.

Diantaranya yang paling banyak diburu adalah varian 250 gram yang dibandrol Rp 13 ribu dan varian 500 gram seharga Rp 25 ribu. Sedangkan untuk yang seberat satu kilogram biasa dibandrol Rp 50 ribu.