rapat pembahasan pembatasan aktivitas saat idul fitri di Desa Tiudan (ist)
rapat pembahasan pembatasan aktivitas saat idul fitri di Desa Tiudan (ist)

Pemdes Tiudan Kecamatan Gondang berencana melakukan ronda siang dan malam, untuk mencegah orang lain desa masuk ke desanya saat idul Fitri. Hal itu dilakukan untuk memutus rantai penularan Covid19.

Rencana itu dimatangkan dalam rapat yang melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat pada Sabtu (16/5/20) kemarin lusa.

Baca Juga : Petani di Kabupaten Madiun Kewalahan Hadapi Serangan Hama Tikus

Kades Tiudan, Muji Rahayu Kundari mengatakan, ada beberapa poin yang dihasilkan dari rapat tersebut, mulai dari peniadaan takbir keliling, kemudian larangan untuk membunyikan petasan menyambut lebaran. Kemudian untuk sholat ied pihaknya mengikuti aturan pemerintah dan menerapkan protokol kesehatan serta mengimbau kepada warganya untuk memanfaatkan teknologi dalam bersilaturahmi.

“Ada beberapa keputusannya, mulai dari larangan untuk takbir keliling, larangan bermain petasan. Kalau salat ied di masjid harus dengan protokol kesehatan dan untuk silaturahmi kita sarankan dengan menggunakan teknologi saja,” ujarnya.

Pembentukan ronda ini sebagai bentuk implementasi keputusan Bupati untuk membatasi aktivitas saat idulfitri. Meskipun masih memperbolehkan pelaksanaan takbir dan sholat Ied di masjid dan mushala dengan protokol kesehatan yang ketat.

Melalui imbauan yang dibuat oleh Bupati, sikap Pemkab Tulungagung untuk pelaksanaan silaturahmi adalah mengimbau masyarakat untuk meminimalkan silaturahmi yang memungkinkan potensi pertemuan secara fisik dan menggantinya dengan silaturahmi melalui teknologi atau daring.

Himbauan tersebut diterjemahkan beragam oleh sejumlah pemerintah desa, mulai dari menerapkan silaturahmi antar warga tanpa salaman, hingga gerakan menutup pintu usai salat idulfitri.

Bagi warga desa Tiudan sendiri pihak desa masih menolerir jika melakukan kunjungan silaturahmi dengan berkunjung antar warga dengan syarat penerapan protokol kesehatan, namun tidak untuk warga desa lain yang akan bersilaturahmi ke desa Tiudan.

Pihanya telah membentuk tim ronda siang malam, yang akan berjaga di perbatasan desa, yang bertugas untuk menghalau warga desa lain yang akan bersilaturahmi ke desa Tiudan.

Baca Juga : Warga Padati Toko Baju, TNI-Polri di Blitar Lakukan Penertiban Cegah Covid-19

“Sudah kita bentuk semacam pecalang kalau di daerah bali itu ya, tujuanya untuk meminta warga desa lain agar mengurungkan niatnya bersilaturahmi ke desa Tiudan, agar memanfaatkan teknologi saja,” ungkapnya.

Muji menjelaskan, tim ini terdiri dari relawan covid19 desa Tiudan sebanyak lebih kurang 50 orang yang disiagakan selama satu minggu untuk berjaga selama 24 jam di 5 titik keluar masuk desa Tiudan.

“Ada lebih kurang 50 orang relawan yang kita libatkan, untuk menjaga 5 titik keluar masuk desa selama seminggu setiap hari, 24 jam,” tegasnya.