Penelitian Gempa Jawa Timur Tahun 1970-2017 di Bulan Qomariah/Jawa. (Foto: Doc. Prof Adi)
Penelitian Gempa Jawa Timur Tahun 1970-2017 di Bulan Qomariah/Jawa. (Foto: Doc. Prof Adi)

Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Umat Islam menganggap bulan ini bulan penuh ampunan dan penuh berkah. Di bulan ini, mereka diwajibkan melakukan puasa sehingga setiap amalan yang dilakukan akan dilipat gandakan nilainya. Umat Islam juga percaya bahwa di bulan ini setan-setan dibelenggu.

Akan tetapi, sebenarnya, keistimewaan bulan Ramadan tak hanya soal religi saja. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa di bulan ini, frekuensi bencana alam gempa bumi paling sedikit jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain, khususnya di Jawa Timur.

Hal ini terungkap dalam Webinar 2020 PSKK UB (Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Univeritas Brawijaya) Sekolah Relawan Series bekerja sama dengan media online berjejaring MalangTIMES.com, Sabtu (9/5/2020). Webinar yang digelar dengan memanfaatkan aplikasi Zoom ini menghadirkan 3 narasumber, di antaranya Prof Drs Adi Susilo MSi PhD, M Fathoni SKep Ns MNS, dan Dr Intan Rahmawati MSi.

Pakar Kebumian dan Kebencanaan UB Prof Drs Adi Susilo MSi PhD meneliti bencana alam gempa bumi dari tahun 1970-2017 di bulan Qomariah/Jawa wilayah Jawa Timur. Penelitian pertama dibatasi dengan kekuatan gempa lebih besar dari atau sama dengan 3 Skala Richter. Nah, dari data yang ditampilkan Prof Adi, ada sejumlah 1.529 frekuensi gempa bumi di Jawa Timur.

"Dan yang menarik adalah, pada bulan Romadan paling kecil sendiri dan setelah itu meningkat lagi," ucap Guru Besar Geofisika Kebencanaan tersebut.

Dalam penelitian itu ditunjukkan frekuensi gempa di bulan Ramadan hanya sebanyak 87. Sementara, setelahnya, yakni bulan Syawal, frekuensi gempa melonjak menjadi 142.

"Kemungkinan aktivitas manusia di bulan ini (Ramadan) itu adalah kecil. Tetapi kita harus berhati-hati. Aktivitas manusia setelah lepas dari Romadan menuju Syawal ternyata gempa buminya semakin naik dan justru di Dzulhijjah ini sangat tinggi sekali (sebanyak 215)," papar Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) tersebut.

Sementara pada penelitian kedua dibatasi dengan kekuatan gempa lebih besar dari atau sama dengan 5 Skala Richter. Hasil penelitian kedua ini tidak menunjukkan bahwa bulan Ramadan memiliki frekuensi gempa terendah.

Namun demikian, frekuensi gempa di bulan Ramadan dengan skala lebih besar dari atau sama dengan 5 Skala Richter masih termasuk kategori yang sangat rendah dibandingkan bulan-bulan lain. Yakni menempati urutan ketiga terendah dengan jumlah 17.

Frekuensi gempa paling rendah ditempati bulan Rajab dengan jumlah 12. Sementara yang tertinggi tetap bulan Dzulhijjah dengan frekuensi gempa 74.

"Dari sini kita bisa tahu bahwa bulan itu pengaruhnya terhadap bumi lebih signifikan daripada matahari. Sehingga dari situ kita ini patut berhati-hati ketika bulan purnama dan sebagainya," tutur Geoscientist tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Adi juga mengajak kepada para audiens untuk tidak menganggap negatif apabila terjadi patahan bumi. Ditegaskan Prof Adi bahwa kita sebenarnya sangat perlu patahan.

"Tidak akan terjadi sebuah air terjun kalau tidak ada patahan di situ. Tidak akan terjadi sebuah mata air di pinggir lereng kalau tidak ada patahan. Patahan itu adalah jangan dibenci, jangan dihindari. Tetapi patahan itu kemanfaatannya juga sangat tinggi bagi kita semua," pungkasnya.