Peringatan Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei 2020, diwarnai aksi PHK dan di rumahkannya para buruh. (Foto: twitter @kuasasiswa)
Peringatan Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei 2020, diwarnai aksi PHK dan di rumahkannya para buruh. (Foto: twitter @kuasasiswa)

Peringatan Hari Buruh atau yang biasa disebut MayDay di Indonesia saat ini sangat berbeda. Pandemi covid-19 berhasil membuat berbagai aksi demontrasi yang biasanya mewarnai hari buruh setiap tahunnya, nyaris tak ada atau terdengar.

Walau dari informasi, hari buruh 2020 akan tetap digelar aksi demontrasi, tapi tidak dapat terlaksana. Pasalnya, tuntutan yang akan dibawa para buruh diklaim telah diterima oleh Presiden Joko Widodo. Selain itu, pihak kepolisian juga melarang dengan tegas segala bentuk keramaian, yang salah satunya pelarangan aksi demontrasi.

Minus aksi di hari buruh 2020, berkebalikan dengan kabar dan informasi terkait aksi PHK atau pemutusan hubungan kerja oleh berbagai perusahaan.

 Dilansir dari Antara, terdapat beberapa perusahaan cukup besar yang berada di Indonesia melakukan PHK terhadap para buruh dengan jumlah yang cukup banyak. 

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa industri tekstil yang paling terdampak atas wabah pandemi Covid-19 yang telah menyerang Indonesia. 

Saat ini 80 persen perusahaan tekstil dan produk tekstil telah menghentikan aktivitas produksi. Tanpa ada insentif, sekitar 70 perusahaan tekstil akan bangkrut. Berikut ini rincian jumlah buruh yang terdampak pandemi Covid-19 ini, yakni 375 ribu buruh mengalami PHK; 1,4 juta buruh dirumahkan; dan 314.833 buruh di sektor informal terkena dampak. Jika di total lebih dari 2 (dua) juta buruh terdampak Covid-19, tidak bekerja dan tidak mendapat penghasilan.

Selain 2 (dua) juta buruh yang di PHK dan dirumahkan, masih terdapat sekitar 4 (empat) juta buruh yang masih harus bekerja dalam kondisi yang penuh khawatir tertular Covid-19, karena beberapa perushaan besar telah mengajukan ijin operasi di tengah penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah.

Ternyata rasa khawatir para buruh pun terjawab, dengan kejadian dua buruh pabrik rokok HM. Sampoerna yang terletak di kawasan Rungkut, Kota Surabaya meninggal dunia setelah sebelumnya ditetapkan sebagai PDP Covid-19 dan kedua buruh tersebut tak jujur.

Hal ini pun menuai tanggapan dari beberapa pejabat Surabaya, salah satunya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. “Sebetulnya dia (pasien) saat itu (status) sudah PDP. Tapi dia kerja, jadinya nulari (menularkan). Tapi mudah-mudahan enggaklah,” ujarnya dilansir dari Kompas TV, Kamis (30/4/2020).

Mendapati kejadian tersebut, pihak pabrik rokok HM. Sampoerna melaksanakan tes swab kepada 100 buruh di salah satu unit pabrik mereka. Sampoerna mengambil kebijakan untuk mewajibkan kepada seluruh buruh dan pegawai lainnya melakukan karantina mandiri, serta menutup operasional pabrik di Rungkut, Kota Surabaya untuk mencegah munculnya kluster baru Covid-19 di Provinsi Jawa Timur.

Selain pabrik rokok HM. Sampoerna, terdapat eberpa pabrik lainnya yang menjadi kluster baru di skala pabrik, yakni PT. Pemi yang merupakan pabrik komponen otomotif di Tangerang; PT. Denso yang merupakan pabrik AC di Bekasi; dan PT. Yamaha Music di Jakarta. Mendapati terjadi di penularan di pabrik tersebut, akhirnya pihak pabrik menutup sementara operasional pabrik.

ILO (International Labour Organization) atau Organisasi Buruh Internasional juga memprediksi jika pada kuartal kedua 2020 akan terdapat 1,6 Milliar pekerja sektor informal yang terancam kehilangan pekerjaannya akibat wabah pandemic Covid-19 yang disebabkan oleh pengurangan jam kerja yang dapat berimbas pada perpanjangan masa karantina.

ILO menjelaskan bahwa aka nada 436 juta usaha memiliki resiko tinggi terganggu pandemi Covid-19, yang terdiri dari 232 juta usaha eceran, 111 juta manufaktur, 51 juta akomodasi dan jasa makanan, serta 42 juta usaha properti dan beberapa kegiatan usaha yang lainnya.