Kecaman Trump ke WHO, dibalas oleh sindiran atas sikap AS terkait pandemi Covid-19 (Ist)
Kecaman Trump ke WHO, dibalas oleh sindiran atas sikap AS terkait pandemi Covid-19 (Ist)

Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mengungkapkan kemarahan ke WHO terkait wabah virus Covid-19 yang menghantam keras negaranya. Ia menyebut WHO telah merekomendasikan hal salah dan bergerak lamban dalam penanganan virus Covid-19 yang bermula dari China.

Trump pun mengancam akan secepatnya menghentikan atau menunda pasokan ke WHO yang selama ini kegiatannya sebagian besar dipasok AS. Seperti diketahui, AS memberikan bantuan ke WHO di tahun 2019 lalu, sebesar 400 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,4 triliun.

Tapi, dengan anggaran tersebut, kecam Trump, WHO sangat  sentris China. Dimana China di tahun yang sama hanya membantu WHO sebesar 44 juta dollar AS atau sekitar Rp 712,4 miliar.

Kecaman itulah yang membuat Kepala WHO, Tedros Adhanom, angkat bicara. Dirinya menegaskan, seperti dilansir South China Morning Post, Kamis (9/4/2020) WHO tak berpolitik dan tak berpihak pada satu negara.

"Berhenti melakukan politisasi pandemi Covid-19. Kita tak ingin memperkeruh suasana. Tak perlu juga menggunakan Covid-19 untuk mencetak koin politik," ucap Tedros menyikapi kecaman Trump.

Tedros melanjutkan, WHO tak melakukan politik apapun seperti yang dituduhkan oleh Trump. Kepentingan WHO adalah berusaha untuk terus memupuk kepedulian bagi umat manusia, terutama yang rentan terkena virus Covid-19.

"Kami peduli pada orang miskin. Kami peduli pada mereka yang rentan. Daripada meributkan hal itu, kita berharap AS dan China harus bersatu dan melawan musuh yang berbahaya ini. Tidak perlu menggunakan Covid-19 untuk mencetak poin politik," tegasnya.

Dikutip Reuter, Rabu (8/4/2020) Dr Bruce Aylward, penasihat senior induk kesehatan dunia, juga angkat bicara. Khususnya terkait kecaman Trump atas rekomendasi WHO yang menyarankan agar negara-negara tetap membiarkan perbatasan masing-masing terbuka meski ada wabah covid-19, pun dengan Beijing, China.

Aylward menyebut, pihaknya membutuhkan akses untuk bisa bekerja sama dan mendapatkan data mengenai apa yang mereka hadapi. Tak hanya dengan China, tapi juga dengan berbagai negara terdampak lainnya.

"Kerjasama kita tak spesifik dengan China. Tapi juga kami lakukan dengan negara terdampak lain seperti Spanyol dan lainnya," ujarnya.
Sedangkan Direktur Regional WHO untuk Eropa, Dr Hans Kluge, menyikapi ancaman AS untuk menghentikan bantuan, disebutnya bukan waktu yang tepat.

"Kami masih berada di fase akut pandemi. Jadi, waktunya tak tepat jika memotong anggaran," ucapnya.

Seperti diketahui, Trump melampiaskan 'frustasinya' atas dampak virus Covid-19 di negaranya. Dimana, AS, dari data Johns Hopkins, mencatat angka kematian  mencapai 17.217 jiwa per 8 April 2020. Sedangkan  jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 399.929 orang. AS kini menjadi episenter Covid-19 tertinggi di dunia, setelah awalnya Trump dengan pongah menyebut wabah tersebut adalah flu biasa. Serta menyebut virus Covid-19 yang menghantam Wuhan, China, adalah kabar hoaks.

 

<