Wali Kota Malang Sutiaji didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko saat meninjau Posko Penanganan Covid-19 di Stasiun Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko saat meninjau Posko Penanganan Covid-19 di Stasiun Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Lalu lalang pergerakan orang di wilayah Kota Malang yang tak terdeteksi di tengah wabah pandemi Covid-19 menjadi hal yang perlu diwaspadai. Sebab, bukan tidak mungkin setiap orang bisa membawa penyebaran virus kepada yang lainnya.

Karenanya, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berupaya untuk sesegera mungkin wilayahnya dilakukan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Segala persiapan menyambut penerapan tersebut terus dilakukan. Wali Kota Malang Sutiaji didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko meninjau langsung posko penanganan Covid-19 di beberapa titik keramaian yang telah tersebar, hari ini (Senin, 6/4).

Wali Kota Malang, Sutiaji mengatakan semua lalu lalang seseorang di Kota Malang lebih diperketat sembari persiapan PSBB yang di sepakati bersama dengan dua kepala daerah lainnya, yakni Kota Batu dan Kabupaten Malang. Salah satunya, petugas kesehatan di area posko yang harus siap melakukan pengecekan suhu. Apabila ditemui ada yang bersuhu 38° celcius maka akan direkomendasikan ke Puskesmas terdekat.

"Sambil menunggu pemberlakukan (PSBB), maka kami siapkan. Mobilitas orang dari luar ini kita pantau. Kita akan lebih disiplin lagi orang yang dari luar, baik pakai mobil pribadi maupun pakai kendaraan-kendaraan atau transportasi umum. Akan kita lihat, cek satu per satu berkaitan dengan masalah suhu badan, dilihat kalau itu melebihi dari 38 maka sesuai dari protap Dinas Ksehatan harus direkomendasikan ke Puskesmas terkait," jelasnya.

Dalam tinjauannya ke beberapa posko, mulai dari Terminal Landungsari, Hawai Water Park, Terminal Arjosari, hingga Stasiun Malang ia ikut mengamati satu per satu perorangan yang mengakses area di sekitar posko dan melakukan cek suhu tubuh. Setidaknya, ditemui ada sekitar 5 orang yang bersuhu tinggi mencapai 38° Celcius.

"Karena kemungkinan besar nanti ada penumpukan (saat arus mudik). Hari ini saja tadi saya lihat ngetes langsung dengan tim petugas di lapangan itu sudah ada yang bersuhu 38, itu kurang lebih 5 orang. Saya suruh transit 15 menit dulu," terangnya.

Dari situ, pria yang akrab disapa Aji ini lebih lanjut menyatakan kondisi seorang dengan suhu tinggi harus dilakukan pemantauan yang lebih. Pihaknya, meminta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang jika ada indikasi gejala Covid-19 untuk tidak hanya direkomendasikan saja, melainkan bisa diantarkan ke Puskesmas terdekat untuk penanganan lanjutan.

"Kalau hanya direkomendasikan, tidak dipantau maka orang ini susah kendalinya. Maka saya minta kepada Dinas Kesehatan tolong ketika orang itu ada indikasi kesana (Covid-19) langsung dari supir Dinas Kesehatan mengantarkan ke Puskesmas terdekat. Biar ada penanganan secara khusus, dan tujuannya di RT RW mana biar itu ditracing," tandasnya.

Upaya penerapan PSBB yang disepakati tiga daerah Malang Raya mengacu pada amanat Peraturan Pemerintah (PP) nomor 21 tahun 2020. Saat ini, prosesnya masih dalam tahapan penyusunan instrument dari tim akademisi yang ditunjuk yakni Universitas Brawijaya (UB).

Selanjutnya, proses ini akan diajukan kepada Gunernur Jawa Timur, kemudian Gunernur yang menindaklanjuti ke Pemerintah Pusat melalui Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri).