Petani Jatikerto saat memperlihatkan sawahnya yang dirusak tikus dan membuat mereka meminta bantuan tingkat Kabupaten (dd nana)
Petani Jatikerto saat memperlihatkan sawahnya yang dirusak tikus dan membuat mereka meminta bantuan tingkat Kabupaten (dd nana)

Curahan hati para petani di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan yang mengalami gagal panen berkali-kali dikarenakan serangan hama tikus. Membuat Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang angkat bicara.

Pasalnya, dari penuturan petani di lokasi, pihak yang menanungi persoalan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Malang ini belum memberikan respons terkait wabah hama tikus itu. 

Dimana, hampir sekitar 100 hektar lawan persawahan dan perkebunan milik warga, rusak dan tak bisa panen.

Secara langsung Budiar Anwar, Kepala DTPHP Kabupaten Malang, melalui sambungan telepon, menyampaikan bahwa kondisi yang terjadi di areal persawahan petani di Jatikerto, sudah ada laporan masuk.

"Sudah ada laporan terkait itu, tapi memang kita juga belum bisa memberikan bantuan alat untuk membasmi hama tikus itu," ucap mantan Kabag Humas Kabupaten Malang ini, Kamis (2/4/2020) ke wartawan.

Budiar melanjutkan, alat pembasmi tikus atas saran Kementerian Pertanian, yaitu emposan tikus dengan bahan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon.

Alat itu dinilai efektif membasmi hama pengerat yang populasinya kian banyak dan menyerang areal persawahan. Seperti yang terjadi di wilayah Jatikerto dan sekitarnya.
Sayangnya, alat yang dibutuhkan para petani itu, masih belum bisa didistribusikan ke para petani yang membutuhkan. 

"Kita terkendala pelelangannya. Jadi alat belum bisa didistribusikan, inikan pengadaannya pakai APBD yang mewajibkan ada lelang," ujarnya.

Kondisi itu tentunya tak bisa membuat petani bernafas lega. Sehingga menurut Budiar, sementara waktu pihaknya akan segera menerjunkan petugasnya ke lokasi.

"Secepatnya saya instruksikan petugas untuk turun lapangan. Selain itu sebenarnya kita sudah punya yang namanya Gerdal (gerakan pengendalian) di tingkat kecamatan," ujarnya.

Gerdal yang dimaksud adalah gerakan pengendalian terkait persoalan pertanian yang dijalin oleh DTPHP bersama Muspika Kecamatan dan kelompok tani. 

Seperti diberitakan, para petani Jatikerto dilanda kerugian besar dengan serangan hama tikus di areal persawahan milik mereka. 

Berbagai upaya untuk meracun tikus, tak membuahkan hasil. Sebaliknya, para tikus semakin rakus memporak-porandakan tanaman padi petani. Bahkan berbagai tanaman lainnya, seperti jagung, cabai, dan lainnya di wilayah tersebut.

Misenan, petani Jatikerto, sudah berupaya berkali-kali untuk membasmi hama tikus di sawahnya itu. Tapi, tak mempan dan membuat tikus semakin rakus.

"Diracun sudah, tapi terus semakin banyak tikusnya. Kewalahan. Karena itu kami minta bantuan ke kabupaten untuk membasmi tikus ini," ucapnya.