Salah satu gang di RT 03 RW 02 Kelurahan Jelakombo, Kecamatan Jombang, terlihat terpasang portal bertuliskan Lockdown. (Foto : Adi Rosul/ JombangTIMES)
Salah satu gang di RT 03 RW 02 Kelurahan Jelakombo, Kecamatan Jombang, terlihat terpasang portal bertuliskan Lockdown. (Foto : Adi Rosul/ JombangTIMES)

Warga RT 03 RW 02 Kelurahan Jelakombo, Kecamatan/Kabupaten Jombang  menutup akses jalan masuk wilayahnya dengan portal. 

Penutupan jalan tersebut disebut sebagai cara untuk mencegah penyebaran virus corona atau covid-19 ke warga setempat. 

Ada dua gang masuk ke RT 03 RW 02 Kelurahan Jelakombo yang ditutup dengan portal kayu.

Yakni di Jalan Sultan Agung sebelah selatan dan sebelah utara. 

Jarak antara dua gang ini hanya berjarak 100 meter saja.

Tepat di tengah gapura masuk dua gang tersebut, dipasang portal kayu berbentuk papan berukuran 2x1 meter. 

Papan yang dipasang di tengah jalan itu hanya menyisakan sedikit ruas jalan, hanya cukup untuk dilalui satu kendaraan roda dua.

Di bagian depan papan terdapat banner bertuliskan "Lockdown Waspada Covid-19" dan di gang satunya juga tertulis "Karantina Wilayah" pada banner yang terpasang di bagian depan papan portal jalan. 

Selain itu, di dalam banner juga diberikan sejumlah imbauan. 

Yakni, warga dari luar harap lapor ke RT, tamu keluarga dari luar kota dimohon membawa surat keterangan sehat.

Pantauan di lokasi pada Rabu (1/4) siang, tidak terlihat kendaraan yang terlihat keluar masuk wilayah tersebut. 

Lingkungan pun tampak sepi, pintu rumah warga banyak yang ditutup rapat.

Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Jelakombo Fatoni menuturkan, tindakan warga menutup jalan masuk ini sebagai bentuk kewaspadaan warga di tengah ramainya penyebaran covid-19.

Penutupan akses masuk itu dilakukan warga sejak Selasa (31/3) kemarin.

"Ini sebagai kewaspadaan warga saja dan atas inisiatif warga juga. Karena dua hari yang lalu warga sini tidak mau ada warga luar yang masuk," ujarnya saat dikonfirmasi di kediamannya, Jalan Sultan Agung, RT 03 RW 02 Kelurahan Jelakombo, Jombang.

Dijelaskan Fatoni, penutupan akses masuk ke wilayahnya ini bukan sebagai arti warganya diisolasi atau melakukan karantina wilayah. 

Ia hanya membatasi warga dari luar yang masuk ke wilayahnya, terutama warga yang datang dari daerah terjangkit virus corona.

"Ini untuk menjaga warga dari luar kota biar tidak bebas masuk, hanya itu saja. Untuk kalimat yang ada di banner itu ada sedikit kesalahan, yang di atas itu. Bukan karantina, bukan lockdown bukan," ujarnya.

Ada 35 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami lingkungan tersebut. Namun, Fatoni menegaskan, bahwa warga setempat masih bisa keluar masuk melalui jalan tersebut. 

Hanya saja, warga yang datang dari luar diwajibkan melapor ke Ketua RT setempat.

"Warga masih bisa keluar masuk. Hanya saja kalau ada tamu dari luar, diwajibkan lapor ke RT sesuai imbauan dari kelurahan," kata Fatoni.

Menurut Fatoni, penutup jalan tersebut sudah mendapat dukungan dari pihak Kelurahan Jelakombo. 

Ia tetap akan melakukan penutupan jalan itu dengan batas waktu yang tidak ditentukan. 

"Ini tetap seperti ini, karena dari kelurahan sudah mengiyakan. Gak papa, bagus juga. Tapi kalimat yang di atas diganti bukan lockdown atau karantina,"

Sementara, Camat Jombang Muhdlor mengaku belum mengetahui adanya tindakan warga yang menutup akses jalan masuk untuk mencegah penularan virus corona itu. 

Ia memastikan bahwa Pemerintah Kabupaten Jombang, Camat hingga Kepala Desa atau Lurah tidak pernah mengeluarkan instruksi karantina wilayah atau lockdown.

"Untuk Kecamatan Jombang, mulai Bupati, Wakil Bupati sampai Camat dan Desa tidak pernah memberikan saran atau masukan apalagi sampai instruksi melakukan karantina wilayah," terang Muhdlor kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Jalan Dokter Soetomo, Kelurahan Jombatan, Jombang.

Muhdlor meminta kepada Lurah Jelakombo untuk menghentikan tindakan dari warga RT 03 RW 02, yang menutup akses jalan masuk dengan portal bertuliskan Lockdown dan Karantina Wilayah tersebut.

"Saya akan memberikan saran dan masukan untuk kepala desa atau lurah agar menghentikan karantina wilayah. Karena itu tidak menyelesaikan masalah," pungkasnya.(*)