Ilustrasi (Foto: Shutterstock).
Ilustrasi (Foto: Shutterstock).

Upaya menekan angka penyebaran virus corona atau covid-19 hingga saat ini terus digencarkan pemerintah pusat. Pemberlakuan rapid test (tes cepat) di beberapa wilayah yang memiliki kasus covid-19 juga mulai dilakukan.

Kota Malang menjadi salah satu yang bakal ikut andil dalam pelaksanaan tes tersebut. Setidaknya, ada 420 alat rapid test yang diterima Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dari Provinsi Jawa Timur.

Humas Tim Satgas Covid-19 Kota Malang sekaligus Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menyatakan jumlah tersebut terbilang cukup terbatas. Karena itu, yang akan menjalani rapid test di Kota Malang diprioritaskan untuk golongan tertentu.

"Untuk Kota Malang itu rapid test-nya terbatas. Kami hanya mendapatkan dari Kementerian Kesehatan lewat provinsi itu 420 alat. Jadi, nanti ada tiga sasaran yang diprioritaskan," ujarnya, Senin (30/3).

Ketiga sasaran yang akan dilakukan rapid test covid-19 itu yakni tenaga kesehatan, petugas pelacak atau tracing, dan orang dengan risiko (ODR). "Prioritas itu untuk tenaga kesehatan yang merawat PDP (pasien dalam pengawasan), kemudian yang melakukan tracing, dan yang memiliki kontak erat risiko tinggi yang belum diperiksa swab-nya," imbuh Husnul.

Lebih lanjut, ia menyampaikan saat ini masih dilakukan pendataan berkaitan dengan jumlah yang akan melakukan tes cepat untuk selanjutnya menyusul jadwal pemeriksaan yang direncanakan dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Pemkot Malang.

"Kami masih menyiapkan dengan keterbatasan rapid test-nya itu. Menyesuaikan dengan daftar-daftar sasaran tersebut. Kami minta (data) dari teman-teman yang ada di puskesmas yang sering melakukan tracing ataupun yang di rumah sakit yang merawat PDP. Setelah itu, nanti disesuaikan dan dijadwalkan untuk pemeriksannya," tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, melalui rapid test tersebut, nantinya reaksi dari kekebalan tubuh seseorang akan terlihat apakah ditemukan bakteri atau tidak. Namun, belum ditentukan bakteri yang terkandung merupakan pembawa virus corona atau covid-19.

"Kalau ada reaksi, berarti ada bakteri. Tapi, belum tentu positif covid-19. Maka nanti yang selanjutnya dilakukan tahapan lagi untuk melihat bakteri itu disebabkan oleh apa," ungkapnya.