Beberapa jurnalis saat wawancara kepada narasumber. (ist)
Beberapa jurnalis saat wawancara kepada narasumber. (ist)

Sejak mewabahnya virus Corona atau penyakit Covid-19 di China pada Desember 2019 lalu hingga sekarang, virus ini telah menginfeksi ratusan ribu orang hampir di seluruh penjuru dunia.

Berdasarkan data dari Worldometer hingga Minggu 29 Maret 2020, jumlah kasus di seluruh dunia telah mencapai angka 662 ribu infeksi, total kematian sebanyak 30.000 kasus, dan pasien sembuh sebanyak 141 ribu kasus.

Peningkatan jumlah kasus per hari dari pandemi virus Corona ini dapat menyebabkan kegelisahan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat luas.

Di tengah situasi krisis seperti ini, peran media sangat dibutuhkan untuk memberikan informasi yang akurat dan mendidik ke publik, selain juga untuk mengawal penanggulangan krisis dengan baik.

Di tengah wabah yang serius ini, profesi jurnalis atau wartawan sama pentingnya. Meskipun ada kekhawatiran akan terjangkit Corona, para jurnalis masih harus bergelut dengan tugas memberikan informasi ke masyarakat. 

Berita yang tepat, akurat, dan terpercaya harus terus dihasilkan agar masyarakat tak termakan isu hoaks yang menyesatkan.

Organisasi profesi kewartawanan mengeluarkan imbauan agar jurnalis mengurangi kegiatan fisik di luar, serta melengkapi dengan APD. Nyatanya, beberapa informasi harus tetap dicari di lapangan. Bahkan, dengan langkanya APD di pasaran, kalangan jurnalis menjadi kelompok yang berisiko terpapar Corona.

Anto Christian salah satu jurnalis di Kediri mengatakan, sebagai seorang jurnalis yang selalu bersinggungan dengan narasumber, terutama untuk kasus virus Corona, memang harus dilengkapi dengan APD. Dengan menggunakan masker dan sering cuci tangan, setidaknya dapat mengurangi resiko penyebaran virus Corona.

"Selain itu, dengan tidak mengurangi kinerja sebagai jurnalistik, maka dalam melakukan peliputan harus tetap mengedepankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak dengan narasumber," kata dia.

"Kami berharap di lapangan tidak banyak temuan, sebenarnya masih banyak ancaman yang membahayakan jurnalis ketika mereka meliput di tengah wabah virus Corona," ujarnya.

Kendati demikian, Anto mengingatkan jurnalis agar tidak meninggalkan tugasnya yakni menyampaikan informasi kepada publik. Menurutnya, informasi yang akurat dari jurnalis dibutuhkan masyarakat di tengah wabah Covid-19 yang semakin meningkat.

Sadar atau tidak, sebelum atau sesudah wabah ini heboh di masyarakat, jurnalislah yang sering melakukan kontak langsung ke narasumber, yang rata-rata rentan terpapar corona.

"Bukan sok kuat, pekerjaan jurnalis juga membutuhkan ketelitian dan keakuratan data. Bahkan, jika ada kegiatan konferensi pers yang mendesak, mau tidak mau jurnalis harus ikut, demi sebuah berita yang akurat," pungkasnya.