Peta terbaru titik kerawanan penyebaran Covid-19 di Jatim
Peta terbaru titik kerawanan penyebaran Covid-19 di Jatim

Jumlah pasien positif Covid-19 di Jatim kembali bertambah. Jum'at (27/3) pihak Pemprov Jatim mengumumkan ada 66 orang positif dari satu hari sebelumnya yang hanya berjumlah 59 orang. Sehingga ada penambahan 7 orang positif.

Selain penambahan pasien positif, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) juga ikut bertambah. Jumlah ODP di Jatim mencapai 3.781 orang, sementara PDP 267 orang.

Tambahan tujuh orang positif Covid-19 tersebut 1 berasal dari Kabupaten Lumajang, 1 Kabupaten Malang, 1 Kota Malang, 1 Jember, 1 Kota Batu, dan 2 dari di Situbondo.

"Jadi tambahan 7 positif dari 6 wilayah berbeda. Di antaranya sebelumnya tidak ada yang terjangkit kini terjangkit seperti Situbondo, Jember dan Batu," terang Khofifah.

Ditanya kemungkinan Jawa Timur Lockdown, Khofifah kembali bertanya. "Lockdown yang bagaimana? Atau hanya sekedar diisolasi?," terang orang nomor satu di Jatim ini.

Yang jelas kata dia soal Lockdown atau tidaknya suatu daerah mengikuti pemerintah pusat. "Kami ikut pemerintah pusat saja, satu garis komando," imbuhnya.

Ditanya perihal perantau yang mulai banyak mudik ke Jatim saat ini terutama dari Jakarta, Khofifah meminta Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak yang menjawab. Seperti diketahui bersama Jakarta merupakan daerah terparah terpapar Covid-19 saat ini.

"Kontrol orang datang dan pergi sebenarnya ada di transportasi publik yang beroperasi. Kami juga dilakukan pemantauan," kata Emil.

Dia mencontohkan pada terminal yang dikelola Pemprov Jatim. Setiap ada bus yang datang maka penumpangnya akan mendapatkan pemeriksaan di ruang transit setelah turun. 

"Artinya ada upaya untuk memastikan proses kepergian itu tidak menjadi tempat yang sangat beresiko penyebaran Covid-19. Ini ranah ranah yang kita ikuti sesuai dengan arahan dari pusat bahwasanya transportasi publik harus tetap melayani masyarakat," lanjutnya.

Emil juga mengakui bahwa saat ini memang sedang ada peningkatan arus. "Tetapi arahnya kita adalah bagaimana memastikan bahwa transportasi publik sebut beroperasi dengan standar mitigasi risiko Covid-19 sesuai dengan apa yang telah diterapkan," kata dia.

Emil menambahkan untuk transportasi publik harus tetap beroperasi melayani masyarakat. "Karena kan ini juga berkaitan dengan hal-hal yang sangat penting ada juga yang berkaitan dengan logistik barang dan juga arus penumpang. Ini juga untuk hal-hal yang sangat urgent," imbuhnya.