Tebar Bibit Ikan Nila Kelompok Budidaya Ikan Ujung Samudra Banyuwangi Nurhadi Banyuwangi Jatim TIMES
Tebar Bibit Ikan Nila Kelompok Budidaya Ikan Ujung Samudra Banyuwangi Nurhadi Banyuwangi Jatim TIMES

Kelompok Budidaya Ikan  Ujung Samudra Lingkungan Kampung Ujung Kelurahan Kepatihan Banyuwangi, lahir sebetulnya berawal kegelisahan Dwi Sasongko, Salah Seorang tokoh masyarakat Kampung Ujung melihat sampah di saluran air dan  lahan kumuh yang menjadi pemandangan di lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Sasongko, kebiasaan dan budaya masyarakat yang membuang sampah seenaknya memotivasi dia untuk mencari bagimana cara yang efektif dan tepat agar orang segan untuk membuang sampah sembarangan. "Akhirnya kami membikin semacam kolam ikan mini atau semi tambak yang ada disepanjang saluran air dan di situlah ditebar bibit ikan Nila,  Kepiting Bakau, ikan gabus dan ikan lainnya," jelasnya.

Selanjutnya dia menuturkan dengan kondisi alam lingkungan yang ada  kebetulan daerah sini banyak semacam rumput dan lumut yang ini kadang dimakan oleh ikan. Dengan kondisi tersebut ikan yang ditebar bisa bertahan hidup walaupun tidak diberi makanan asalkan yang penting sirkulasi airnya baik,imbuh dia.

Dia berharap program pemanfaatan lahan untuk budidaya ikan tersebut membuat warga masyarakat bisa mencontoh. Apabila mereka tidak bisa memanfaatkan maka bersama kelompoknya mereka siap manfaatkan lahan yang ada karena bisa memberikan tambahan ekonomi bagi warga.

Sasongko menuturkan sampai saat ini Kelompok Budidaya Ujung Samudra Kampung Ujung Kelurahan Kepatihan Banyuwangi sudah menebar sekitar 700 ekor ikan nila mulai usia rata-rata usia 2 minggu. Kemudian ada Kepiting Bakau yang  rata-rata berumur 4 bulan. 

Dan Ikan Gabus bibit yang berusia 3 bulan dan bisa dipanen setelah sekitar 1 tahun, akan tetapi usia 5-6 bulan sudah bisa dikonsumsi.

Yang tidak kalah penting Lurah Kampung Mandar itu menambahkan pemanfaatan lahan untuk budidaya ikan merupakan terobosan untuk menangani dan mengatasi masalah sampah yang cenderung menyalahkan masyarakat yang ada di hilir sungai Kalilo tersebut.

"Pada dasarnya masalah di sini kan juga enggak lepas dari yang masalah di hulunya kan ada harapan masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Kami berharap masyarakat yang ada di hulu sungai tidak seenaknya membuang sampah dan sedikit sedikit warga di hilir yang disalahkan,"tegasnya.

Masyarakat Kampung Ujung saat ini sebetulnya masyarakatnya sudah tumbuh kesadaran. Akan tetapi apabila yang dari hulu membuang seenaknya sendiri, karena  lewat  muara Kalilo turunnya juga ke hilir dan sampai ke Kampung Ujung."Begitu di Kampung Ujung sudah jadi pengendapan yang sebenarnya  bukan disebabkan sampah warga, akhirnya Kampung Ujung jadi korbannya. Saatnya sama sama tanggung jawab lah,  yang dari atas juga yang dari hulu itu juga jangan buang seenaknya sendiri,"pintanya.

Sasongko menuturkan kondisi lingkungan sekitarnya yang sudah mulai bersih,  datang lagi sampah yang terbawa air.

Karena itu pada dasarnya usaha melarang warga tidak membuang sampah di Kalilo sudah berulangkali dilakukan. Mungkin dengan pemanfaatan lahan  untuk budidaya ikan di sepanjang sungai, setidaknya warga terpanggil untuk mendukung dan berpartisipasi menjaga  kebersihan dan kesehatan sungai serta ke depan mampu mengembangkan menjadi satu destinasi wisata di wilayah kota Banyuwangi bagi masyarakat setempat maupun wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.