Mamik Endarni (jilbab merah) menunjukan bau pelindung yang akan disumbangkan kepada tenaga medis (Joko Pramono for Jatim Times)
Mamik Endarni (jilbab merah) menunjukan bau pelindung yang akan disumbangkan kepada tenaga medis (Joko Pramono for Jatim Times)

Petugas medis merupakan garda terdepan menghadapi wabah corona (covid-19) yang tengah melanda Indonesia saat ini. 

Sayang di balik perjuangan petugas medis ini mereka menemui sejumlah hambatan, termasuk kekurangan alat pelindung diri (APD), seperti masker, baju pelindung sarung tanga dan sebagainya.

APD sangat penti ng bagi petugas medis yang menangani pasien covid-19. 

Dengan menggunakan APD, petugas medis bisa melindungi mereka dari covid-19 saat penanganan pasien.

Untungnya ditengah krisis APD, masih ada pengusaha yang berjiwa sosisal dengan menyumbang 10 APD berupa baju pelindung.

Adalah IIs Rahmawati, pengusaha pembuat kantong dessicant untuk keperluan industry dan eco bag packaging dengan brand Tulip Craft itu menyumbangkan 10 ribu APD untuk petugas medis.

Usahanya sendiri sudah dikirim ke sejumlah negara seperti Turki, Brazil, Amerika, hingga Jerman.

Tak mudah menemui Iis Rahmawati yang saat ini bermukim di Bogor. 

Untuk keperluan produksi APD di Tulungagung diserahkan pada kakaknya, Mamik Endarni.

Tempat produksi usaha Iis, satu tempat dengan rumah Mamik Endarni yang beralamat RT 04, RW 05 Dusun/Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru. 

Sehingga, mempermudah Mamik, sebagai kepala produksi dalam memantau kinerja para pekerjanya.

Meski saat ini usahanya di bidang packaging sedang sepi, namun tak menghalangi niatnya untuk menyumbangkan 10 ribu APD.

"Awalnya mau berkontribusi dalam menghadapi Pademi Covid-19. Setelah berfikir terdapat stock bahan baku yang ada, lantas kami (Tulip Craft) inisiatif untuk membuat APD. Setelah contoh diterima pihak IDI, mereka menerima," jelasnya.

Sembari menunggu pengiriman dibuka kembali, dia dan Iis yang melihat dampak Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, dan bahkan membuat sejumlah tenaga medis mengalami kesulitan mendapat APD tambahan, membuat tergerak hatinya untuk membantu. 

Lantas, diputuskan membantu pemerintah dengan donasi APD berupa baju pelindung kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang ada di Bogor. Tawaran, ini pun dengan senang hati menerima.

APD yang digunakan berupa baju pelindung dengan bahan spunbond polypropylene merupakain material non woven sama seperti yang digunakan dalam disposable masker yang biasa dioakai sehari-hari. 

Sampel baju APD ini telah di konsultasikan dan dietujui dengan IDI kota Bogor baik Model dan bahan material yang di gunakan.

Lantaran kebutuhan APD ini mendesak, pihaknya tak hanya memaksimalkan 80 penjahit dan pekerja bagian sablon dan potong miliknya, tapi juga membuka relawan dari penjahit dari beberapa wilayah di Tulungagung yang mau ikut andil dalam kegiatan sosial ini.

Pihaknya rela mengeluarkan biaya tambahan untuk upah jahit bagi relawan yang membantunya. 

Tentunya, dengan pedoman jahit yang ditetapkan. 

Yakni kebersihan, kerapihan jahit, dan ketepatan menjahit.

"Ada tiga kelompok penjahit relawan yang mau membantu. Saya kasih ketentuan, dan upahnya yang telah di tentukan per bajunya, karena ini sosial ya," jelas wanita yang berprofesi sebagai guru di SDN 1 Bendosari ini.

Mamik sebagai kepala produksi optimis 10 ribu APD bakal selesai dalam waktu seminggu. 

Mamik berharap, upaya donasi APD ini bisa membantu tim medis seluruh Indonesia yang tengah berupaya menangani pasien Covid-19.

"Doakan kami bisa segera menyelesaikannya dalam waktu seminggu ini," jelasnya.

Sementara itu, Iis Rahmawati yang dihubungi Koran ini mengatakan langkah yang diambilnya merupakan murni untuk membantu tim medis yang sekarang mengalami keterbatasan APD.

Disinggung bagimana jika ada permintaan bantuan APD, khususnya dari Tulungagung ? Iis sapaan akrabnya itu mengatakan jika dia masih dibutuhkan, dia siap akan produksi lebih banyak.

"Doakan kami dimampukan. Dampak corona tidak seberapa dibandingkan dampak yang menimpa tenaga medis. Peran ini kami ambil sesuai kapasitas kami," tuturnya.