Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

"Ini dunia tempat kita bermukim sementara untuk kita pelihara bersama bukan untuk ditaklukkan," Buya Syafi’i Maarif.

Buya Syafii melanjutkan: "Tetapi bukankah akan lebih baik kalau kita mau merenung untuk meningkatkan stamina spiritual agar terlihat lebih jelas keterbatasan manusia dalam memecahkan masalah-masalah hidupnya. Teknologi kedokteran makin canggih tapi jenis penyakit juga tak mau kalah"

Tuhan menunjukkan kekuasaaNya pada binatang kecil tak terlihat. Jadi jangan anggap remeh corona, di belakangnya ada Tuhan. Lihat saja, meski kecil daya gempurnya luar biasa. Tatanan politik rubuh. Tatanan ekonomi kolaps. Tatanan sosial luluh lantak, bahkan yang krusial tatanan syariat mengalami deskresi. Hanya binatang kecil, semua manusia dibikin sibuk dan harus patuh diam di rumah!

Wabah ini membuat kita diminta uzlah sebentar merenung kalau pun mau. Bahwa tidak semua bisa dilakukan tanpa pertolongan Tuhan. Tuhan menunjukkan kekuasaanNya lewat binatang kecil tak terlihat agar kita diuji, membenahi iman. Siapa beriman dan siapa ingkar.

Kita kerap datang ke tempat ibadat tapi seberapa sering kita ‘ketemu Tuhan’? Sebagian kita telah menempatkan Tuhan pada posisi seremonial belaka, tak lebih.

Apakah benar bahwa Tuhan hanya mau hadir di tempat-tempat keramaian, di majelisnya para habaib atau pada halaqahnya ustadz-ustadz berjanggut ?

Benarkah Tuhan telah ‘diklaim’ oleh 
sekelompok yang mengaku paling dekat, lantas menafikkan yang lain bahkan siapapun yang tidak sepemikiran meski se agama. Tuhan telah direduksi pada posisi yang amat sempit dari kemahaluasanNya.

Yang mengatakan bahwa ‘takutlah hanya kepada Allah jangan takut pada virus corona’ sesungguhnya tak punya stamina spiritual prima. Dia rapuh dan tak punya daya imun tauhid. Sebab melawan sunatullah atau bisa disebut ‘qaulu haqqin ala u’ridha bihi al baathil’. Pernyataan yang seolah olah benar tapi mengajak pada yang bathil.

Meniadakan ikhtiar, hanya menyandarkan kepada Allah adalah tanda iman rusak. Kalau begitu katakan padanya agar para dokter dan tenaga paramedis lainnya untuk melepas pakaian pelindung atau dia sendiri suruh mandikan jenazah kurban virus corona tanpa pelindung.

Berdiam diri di rumah. Shalat jamaah di rumah dan mengganti shalat Jumat dengan shalat dhuhur bukan tindakan melawan Tuhan atau malawan syariat, tapi justru bentuk ketaatan atas syariat yang ditetapkan.

Mengikat tali onta agar tidak lari atau mengunci sepeda motor agar tidak dicuri saat mengerjakan shalat bukan tindakan tidak tawakkal kepada Tuhan, tapi justru itu adalah sebentuk kepatuhan dan ketaatan kepada Tuhan yang sejati. Itulah spiritualitas yang prima.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar