Wapres RI Ma'ruf Amin (pegang mik) bersama Bupati Malang Sanusi dan Gubernur Jatim Khofifah di sebuah acara (dok MalangTimes)
Wapres RI Ma'ruf Amin (pegang mik) bersama Bupati Malang Sanusi dan Gubernur Jatim Khofifah di sebuah acara (dok MalangTimes)

Angka kematian akibat virus Corona bertambah dari Minggu (22/3/2020) hingga Senin (23/3/2020). Yakni dari 48 orang menjadi 49 sebagaimana disampaikan juru bicara pemerintah penanganan corana Ahmad Yurianto.

Tingginya angka kematian itu pula yang membuat Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amien meminta ke MUI dan Ormas Islam lainnya untuk membuat fatwa terkait pengurusan jenazah pasien Corona.

Fatwa terkait itu, ucap Ma'ruf, bisa jadi pedoman para petugas ke depannya bila berhadapan dengan situasi demikian.
"Untuk mengantisipasi ke depan, saya meminta MUI dan ormas Islam untuk mengeluarkan fatwa. Kalau terjadi kesulitan mengurusi jenazah penderita Corona ini," ucapnya, Senin (23/3/2020).

Ma'ruf melanjutkan, kesulitan untuk pengurusan jenazah pasien Corona tentunya memiliki kesulitan lain. Dikarenakan situasi yang tak memungkinkan atau karena tak adanya petugas medis saat hal itu terjadi.

"Misalnya, kemungkinan untuk tidak dimandikan karena kondisi tak memungkinkan. Karena itu saya minta MUI dan ormas Islam membuat fatwa untuk dijadikan pedoman ke depannya," ucapnya.

Permintaan Wapres itu ternyata mendapat apresiasi dari masyarakat. Terutama, setelah adanya peristiwa kematian pasien Corona di Kabupaten Malang yang awalnya dinyatakan negatif, tapi hasil laboratorium menyatakan positif. Hal ini pula yang membuat warga sempat dibuat panik, setelah melakukan takziah hingga pengurusan jenazah.

Akun Zhang Fung, misalnya, menyampaikan apresiasinya atas permintaan Ma'ruf untuk MUI dan ormas Islam lainnya untuk membuat fatwa terkait pengurusan jenazah pasien Corona.

"sepakat pak wapres...agar tdk simpang siur ada baiknya fatwa MUI segera di terbitkan bos," tulisnya.
Akun lainnya, Monokotil, kurang begitu sepakat dengan permintaan Wapres itu. Menurutnya, bukan persoalan pengurusan jenazah yang perlu fatwa, tapi penanganannya untuk yang masih hidup.

"Tubuh itu dr tanah kembali ke tanah. Mau dibakar /dikubur intinya sama mempercepat proses kembali ke tanah kr kl tdk bs menimbulkan penyakit bg yg hdp. Jadi jangan dibkn ribet nunggu2 fatwalah. Yg terpenting penanganannya memenuhi standart kesehatan utk yg msh hidup. Tuhan Maha tahu melebihi Fatwa manusia," tulisnya.

Tak hanya meminta pembuatan fatwa pengurusan jenazah pasien Corona, Ma'ruf juga meminta hal terkait kebolehan orang menunaikan salat tanpa wudu dan tayamum.

Permintaan ini pun didasarkan pada kondisi nyata di lapangan, khususnya para petugas medis beragama Islam yang menggunakan alat pelindung diri (APD) selama berjam-jam saat menangani pasien terkait Corona.

"Dimungkinkan mereka tak bisa wudu dan tayamum dengan kondisi itu. Jadi saya minta ada fatwa kebolehan orang yang salat tanpa wudu dan  tayamum," ujarnya.

Dua hal itu, lanjutnya, menjadi penting diberi dasar berupa fatwa. Sehingga para petugas di lapangan ataupun masyarakat, bila tak ada petugas, memiliki pedoman terkait kedua hal itu.