Kedua pelaku SN dan FDS saat ditanya oleh Kapolres Tulungagung, tampak bangkai lumba-lumba (Joko Pramono/ JatimTIMES)
Kedua pelaku SN dan FDS saat ditanya oleh Kapolres Tulungagung, tampak bangkai lumba-lumba (Joko Pramono/ JatimTIMES)

Lumba-lumba selama ini dikenal sebagai hewan yang bersahabat dengan manusia. Keberadaanya pun juga dilindungi oleh undang-undang.

Namun berbeda dengan apa yang dilakukan oleh SN (53) warga dusun Sine Desa Kalibatur Kacamatan Kalidawir. Nelayan ini malah meperjualbelikan ikan lumba-lumba. Tak tanggung-tanggung setidaknya ada 9 ekor lumba-lumba jenis moncong panjang (Stenela Longinostris) yang ditemukan dalam keadan mati.

Mamalia laut itu selanjutnya dijual oleh pelaku SN pada FDS (19) yang merupakan pengepul ikan dan tetangga pelaku SN.

Penagkapan kedua pelaku berdasarkan informasi dari warga jika ada penampung ikan yang membeli ikan lumba-lumba. Berbekal informasi tersebut, polisi melakukan penyelidikan. Hasilnya didapati FDS yang membeli 9 ekor umba-lumba dengan kondisi sudah mati.

“Pelaku si SN ingin menjual ikan lumba-lumba ini (pada FDS),” ujar Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia.

Penangkapan keduanya dilakukan pada Kamis (20/3/20).

Awalnya SN mencari ikan tongkol di perairan selatan Jawa. Selama 3 hari melaut hasil tangkapanya hanya 8 kilo ikan tongkol. Selain ikan tongkol, pelaku SN juga mendapatkan 9 ekor lumba-lumba.

Sebelumnya pelaku juga pernah menjual ikan sejenis sekitar 2 tahun lalu. Namun hanya mendapatkan 1 ekor ikan lumba-lumba.

Ikan lumba-lumba ini dijual perkilo oleh SN pada FDS. Perkilonya dihargai 3-5 ribu dan dijual lagi oleh FDS seharga 6 ribu bperkilo.

“Rencananya perkilonya dijual 5 ribu rupiah,” tutur Kapolres.

Ikan lumba-lumba ini rencananya akan dijual lagi sebagai ikan bakar.

Mirisnya lagi, saat ditemukan sirip badan dan ekor ikan ini sudah dipotong. Selain 9 ekor ikan, petugas juga mengamankna jarring, linggis kecil dan pengait untuk mengangkat ikan lumba-lumba.

Atas perbuatanya , pelaku akan dijerat dengan pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf b uu ri no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun.

Sementara itu dari pengakuan SN dirinya tidak sengaja menangkap mamalia laut yang dilindungi itu. Dirinya mengaku awalnya hanya menangkap tongkol dengan menggunakan jarring. Saat jaringnya diangkat, SN mendapati sudah ada 9 ekor lumba-lumba yang menyangkut di jaringnya dalam keadaan mati.

“Lalu saya bawa pulang untuk dijual,” ujar SN.