Budiono dan petani di Kecamatan Selopuro tetap tekun bertani tembakau Selopuro varietas lokal khas Blitar
Budiono dan petani di Kecamatan Selopuro tetap tekun bertani tembakau Selopuro varietas lokal khas Blitar

Indonesia telah diakui dunia sebagai salah satu negara penghasil tanaman tembakau terbaik. Kualitas tembakau lokal sangat diperhitungkan di pasar internasional. Hasil pertanian yang sering disebut sebagai "emas hijau (green gold)" ini banyak ditemui di berbagai wilayah di tanah air dengan ciri atau varietas unggulannya masing-masing.

Begitu pun Kabupaten Blitar. Sebagai daerah dengan tanah yang subur, di masa lampau Kabupaten Blitar pernah menjadi wilayah penghasil tembakau terbaik dengan menelurkan varietas bernama tembakau Selopuro. Tembakau ini pernah mendunia pada masa dasawarsa 1960-1970-an. Namun dalam perkembangannya, tembakau Selopuro tenggelam dan merosot popularitasnya karena kalah bersaing dengan varietas lain.

Sisa-sisa kejayaan tembakau Selopuro masih dapat dijumpai saat ini. Di daerah Kecamatan Selopuro, masih banyak petani tembakau dan penjual tembakau Selopuro. Meski rasanya tidak sama lagi karena bercampur dengan varietas tembakau lain, semangat mereka tidak surut dengan dalih melestarikan warisan leluhur.

Seperti diungkapkan Budiono, Ketua Kelompok Tani Kridha Laksa III Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro. Budi adalah petani yang sudah lebih dari 20 tahun bercocok tanam tembakau sebagai wujud melestarikan tradisi budaya leluhur. Di samping itu menurut dia tembakau lokal juga menjanjikan keuntungan jika ditekuni.

“Saya bertani tembakau sejak tahun 1997, saat tembakau Selopuro varietasnya masih alami. Mbah saya dulu petani tembakau tulen yang punya militansi tinggi. Disini (Selopuro) mayoritas petani bercocok tanam tembakau, karena pasar tembakau lokal masih menjanjikan. Penikmatnya orang yang suka merokok dengan nikotin tinggi,” ujar Budiono ditemui BLITARTIMES di rumahnya, Kamis (19/3/2020).

Sejak dulu  petani di Selopuro memiliki semangat tinggi dalam bercocok tanam tembakau meski kini varietas tembakau Selopuro tidak murni lagi. Belakangan varietas tembakau Selopuro rusak karena ulah pengepul dan pengrajang tembakau.

“Petani jual basah, dapat duit selesai. Tapi pengepul mencari tambah untung dengan mencampurkan gula di tembakau untuk nambah bobot. Ketika bobot bertambah akan nambah untung bagi mereka. Tapi hal ini akan berpengaruh terhadap rasa. Rusaknya karena setelah dirajang itu tembakau dicampur gula. Seingat saya tembakau Selopuro itu mulai rusak sejak tahun 2005. Kalau murni asli tembakau Selopuro itu bisa tahan sampai 5 tahun,” paparnya.

Faktor lain yang merusak rasa tembakau Selopuro adalah penggunaan pupuk. Menurut Budiono, pada jaman dulu petani Selopuro tidak banyak menggunakan pupuk kimia sehingga rasa tembakau Selopuro yang terkenal ampek tetap terjaga.

“Kalau orang dulu mbah saya itu pupuknya Cuma ZA dan ST dan rabuk. Kini kalau tembakau ingin gemuk di urea, di Amina dan kadang di Phonska. Kalau Phoska itu pasti gemuk, tapi rasanya berubah,” ujarnya.

Faktor budaya, sejarah, keuntungan dan kebiasaan merupakan faktor-faktor yang membuat petani Selopuro tetap bertahan bercocok tanam tembakau varietas lokal khas Blitar ini. Suka duka banyak dialami oleh para petani. Karena sudah mendarah daging, untung ataupun rugi mereka tetap bertahan.

“Banyak suka duka kami lebih dari 20 tahun bertanam tembakau Selopuro. Sukanya kemarin itu kami jual basah bisa untung Rp 10 juta, untungnya diatas bertanam padi. Dukanya kalau musim tidak tentu, seperti di tahun 2009 ketika hujan terus tidak ada panas akhirnya kalau jual pun murah. Tapi ajaibnya karena sudah budya, kami tetap menanam apapun kondisinya. Untuk mensiasati agar tetap untung, kami gunakan sistem tumpangsari dengan menanami Lombok,” jelas dia.

Tidak lagi murninya lagi varietas tembakau Selopuro diakui Budi memunculkan kebingungan di kalangan petani. Namun demikan seperti yang disampaikan Budi, faktor budaya dan tradisi menjadi pendorong bagi petani untuk menanam apapun kondisinya.

“Kita tahunya ya Selopuro, meski kita tak tahu lagi mana yang Selopuro jenis kedu lulang, jahe emprit, kenanga. Karena kemurnianya sudah tidak lagi terjamin. Sebelum varietas baru itu dilepas oleh dinas, untuk pembibitan benih kami lakukan sendiri, kami lakukan pembibitan semampu kita,” imbuhnya.

Sementara itu Mokhamad Mundir selaku PPL Desa Mandesan, menyampaikan pihaknya terus memberikan pendampingan kepada petani di tengah-tengah pasang surut tembakau Selopuro.

“Pasar tembakau Selopuro ini adalah pasar tengwe (nglingting dewe). Penikmat tembakau tengwe itu masih sangat banyak, mereka adalah penyuka nikotin tinggi. Beda dengan pabrik yang cari tembakau nikotin rendah. Oleh sebab itu kami terus pacu dan beri semangat para petani. Pasar dari tembakau Selopuro ini bukan pasar pabrik, tapi pasar tengwe yang larinya ke daerah. Kalau Selopuro ini larinya banyak ke Banyuwangi, yang di daerah atas di desa-desa. Orang disana suka tembakau Selopuro karena dirokok di daerah pegunungan rasanya mantap. Kalau lokal Blitar tembakau Selopuro banyak permintaan di Blitar selatan. Saya dengar sekarang pun di café-café mulai banyak tembakau lintingan, ini peluang bagus untuk tembakau Selopuro,” terang Mundir.

Kepala Bidang Pengembangan SDM Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, Himawan Prabowo, menegaskan salah satu program prioritas pemerintah daerah di sektor pertanian saat ini ialah memurnikan kembali varietas tembakau Selopuro. Tembakau Selopuro sendiri saat ini dalam pemurnian dan varietasnya rencana akan di-launching tahun 2021 mendatang.

Sub sistem agar tembakau lokal khas Blitar kembali menemukan jati dirinya juga dirintis Dinas Pertanian dengan membuka akses pasar untuk hasil produksi tembakau lokal.

“Rencana kami akan mempertemukan petani dengan pelaku pasar. Ada dari PT Djarum, Sampoerna dan lainnya. Karena apa? Kami melihat di daerah lain, tembakau lokal ini sangat laku karena tembakau lokal itu punya cita rasa dan aroma yang khas. Harapan kami setelah pertemuan dengan pelaku pasar, akan ada sinkronikasi antara petani dengan pelaku pasar. Apa yang dilakukan petani bisa sesuai dengan permintaan pasar dan hasilnya bisa langsung ditangkap oleh pasar. Untuk varietasnya, tembakau khas Blitar yakni tembakau Selopuro akan kita launching tahun 2021,” papar Himawan.

Menanggapi program Pemkab Blitar memurnikan varietas Tembakau, Budiono sebagai salah satu petani tembakau memberikan dukungan penuh. “Program dari dinas ini bagus sekali. Tapi kami juga ingin kedepan pengepul, pengrajang serta tengkulak untuk ikut diberikan sosialisasi. Agar apa?, agar mereka juga ikut menjaga kemurnian tembakau Selopuro. Jangan setelah nanti dimurnikan dan dilepas kemudian kami tanam tapi varietas tembakau Selopuro rusak lagi gara-gara ulah pengrajang, pengepul dan tengkulak. Dengan kemurnian alami tembakau Selopuro ini akan jadi ikon nya Blitar,” imbuh Budiono.

Harapan lain dari petani, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) bisa memberikan fasilitasi untuk pemasaran tembakau Selopuro. Ini agar kemurnian tembakau khas Blitar ini tetap terjaga setelah dimurnikan nanti.

“Hal terburuk ketika pengrajang tidak bisa masuk, harapan kami APTI bisa memberikan solusi untuk pemasaran. Agar kemurnian tembakau Selopuro ini terjaga,” pungkas Budiono.(*)