Ilustrasi pergerakan IHSG (istimewa)
Ilustrasi pergerakan IHSG (istimewa)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun cukup dalam ke level 4.895,75 di tengah merebaknya Covid-19 pekan ini. Jika dihitung sejak awal tahun, IHSG turun 22.28 persen termasuk yang terdalam di antara bursa saham di Asia.

Di satu sisi, anjloknya pasar saham dapat dilihat sebagai peluang bagi investor untuk masuk dan berinvestasi. Dengan kata lain saat ini masyarakat harus mencermati dengan hati-hati apakah saat itu adalah saat yang tepat untuk berinvestasi.

Lalu bagaimana seharusnya yang harus dilakukan oleh investor? Head of Investment Specialist PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Freddy Tedja mempunyai tiga masukan yang bisa dilakukan.

1. Jangan mudah terpengaruh kondisi pasar

Pelemahan pada bursa-bursa saham di Asia yang dibebani oleh ketidakpastian wabah Novel Corona Virus (Covid-19), dan kejatuhan harga minyak dunia setelah OPEC gagal mencapai kesepakatan dengan sekutunya mengenai pemotongan produksi, turut berpengaruh ke kondisi pasar modal Indonesia sepanjang pekan ini.

Anjloknya IHSG yang diikuti dengan volatilitas tinggi membuat investor cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar saham. Pasar saham memang memiliki tingkat volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan pasar obligasi atau pasar uang.

"Kadang, pasar saham berada dalam tren penguatan (bullish), kadang dalam tren pelemahan (bearish), atau terkadang berada dalam pola mendatar (sideways). Untuk itulah pasar saham hanya cocok bagi investor yang memiliki profil risiko agresif dan memiliki horizon jangka panjang, dalam arti dana yang diinvestasikan tidak untuk digunakan dalam waktu dekat," kata Freddy Tedja. 

Menurut Freddy, saat IHSG mengalami penurunan akan muncul berita-berita pesimis yang mudah ditemui di berbagai media baik tertulis, daring (online), maupun berita-berita yang belum jelas kesahihannya yang menyebar lewat media sosial sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi investor awam. 

"Sebaliknya, ketika IHSG menguat kita pun dengan mudah pula akan menemukan berita dan analisa yang berlebihan memprediksi seberapa menguat IHSG akan berlanjut," ujarnya.

Kedua kondisi di atas terlalu optimis atau terlalu pesimis dapat menimbulkan kekhawatiran irasional ataupun eforia berlebihan bagi investor awam, terutama yang terbiasa dengan filosofi investasi. "Ikut saja apa yang orang lain lakukan," imbuhnya. Terlihat bahwa faktor lingkungan ini juga berperan signifikan dalam membentuk bias psikologi, kebiasaan investasi, atau persepsi dari seorang investor. 

2. Melihat potensi waktu tepat untuk berinvestasi

Sulit untuk menebak dengan pasti apakah IHSG masih akan terus melemah atau justru berbalik menguat. Namun yang sering terjadi adalah, ketika pasar saham turun, investor reksa dana saham takut pasar saham akan terkoreksi, sehingga memilih untuk menunda investasi.

Sebaliknya, ketika pasar saham menguat, investor reksa dana saham pun tidak berinvestasi karena takut pasar saham sudah kemahalan. "Kalau turun takut, naik takut, lalu kapan investasinya? Keputusan investasi seharusnya tidak dilakukan dengan cara menebak-nebak, karena pasar finansial memang tidak bisa ditebak," jelas Freddy. 

3. Lakukan investasi secara berkala

Bagi investor yang memiliki profil risiko agresif, memiliki tujuan jangka panjang, memiliki dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat, dapat berinvestasi secara berkala atau reguler tanpa memperhatikan pergerakan pasar naik atau turun.

Investasi secara berkala akan mengoptimalkan peluang yang dapat diraih, namun di saat yang sama bisa meminimalkan risiko yang terjadi dibandingkan berinvestasi sekaligus dalam jumlah yang sangat besar. 

Lalu bagaimana dengan investor yang memiliki profil risiko konservatif atau moderat? "Pilihan bisa ke reksa dana pendapatan tetap atau pasar uang. Jika ingin memperluas alokasi aset, menambah sedikit porsi investasi di reksa dana saham, maksimal 20%. Tentu kuncinya adalah lakukan investasi secara berkala," pungkasnya.