Ilustrasi Golkar yang mengklaim Hanura telah merapat untuk berkoalisi. (Ist)
Ilustrasi Golkar yang mengklaim Hanura telah merapat untuk berkoalisi. (Ist)

Partai Golkar Kabupaten Malang mendulang 8 kursi di Pileg 2019 lalu. Hal ini membuat partai dengan logo beringin itu tak bisa mengusung paslonnya sendiri di Pilkada Kabupaten Malang  2020. 

Koalisi menjadi harga mati bila Golkar yang sejak awal mengusung dan mendukung penuh kader terbaiknya, Siadi, tetap ingin berlaga di kontestasi lima tahunan di Kabupaten Malang. Pasalnya, Golkar baru bisa menempatkan Siadi sebagai calon bupati di pilkada 2020 bila memiliki minimal 10 kursi. Partai berlogo beringin ini pun membutuhkan 2 kursi lagi untuk ikut berlaga nantinya.

Asa itu pun sepertinya bisa terwujud karena Partai Hanura telah bersepakat untuk bergabung dengan Golkar.  "Hanura telah bersepakat untuk bergabung dengan Golkar. Jadi, sudah ada 9 kursi. Kita tinggal butuh 1 kursi lagi untuk mengusung Pak Siadi," ucap Miskat, politisi Golkar yang menjabat sebagai wakil ketua DPRD Kabupaten Malang.

Klaim atas Hanura yang akan bergabung dan berkoalisi dengan Golkar tentunya menambah kepercayaan diri para kader beringin ini. Hanya butuh 1 kursi lagi, maka Siadi pun bisa berlenggang ke kancah pilkada 2020. Walau tentunya untuk itu, proses rekomendasi dari pusat harus turun terlebih dahulu.

Miskat pun optimistis harapan seluruh kader beringin untuk mengusung Siadi yang merupakan ketua DPD Golkar Kabupaten Malang dan juga anggota DPRD Jatim bisa diwujudkan. "Komunikasi dengan PPP, Demokrat, Gerindra dan NasDem terus dilakukan. Kalau semua atau salah satu parpol gabung ke kita, selesai sudah," ujarnya.

Walau belum bisa menjelaskan keempat peluang parpol itu bisa berkolisi dengan Golkar, dimungkinkan parpol dengan kursi sedikit seperti PPP dan Demokrat lebih memiliki peluang untuk bergabung dengan Golkar.  Pasalnya, dua parpol itu akan sangat sulit bila memaksakan diri mengusung kader atau calon yang daftar menjadi calon bupati. Maka, posisi calon wakil bupati pun dimungkinkan masih bisa terbuka.

Pun, Golkar sudah mematok harga mati bagi Siadi untuk maju menjadi calon bupati sejak awal. Sehingga untuk sementara ini tak mungkin, misalnya bila empat parpol di atas berkoalisi dengan Golkar dengan jatah calon bupati.

"Komitmen Golkar tetap running N1, tetap N1. Golkar satu nama sudah, Siadi. Nama Siadi sebagai calon bupati Malang juga sudah diajukan ke DPP,” ujar Miskat.

Dengan tekad bulat mengusung Siadi sejak awal itulah, Golkar dimungkinkan akan sulit untuk mengajak Gerindra maupun NasDem yang memiliki para bakal calon bupatinya sendiri. Bila pun ada skenario untuk berbagi, dengan tekad Golkar yang kuat mengusung Siadi, maka bakal calon dua parpol yang meraih sama- sama 7 kursi itu harus rela di posisi calon wakilnya.

Tapi, dari berbagai rumor di masyarakat, Golkar yang mengklaim sudah menggandeng Hanura akan lebih cocok mengintensifkan komunikasi dengan Demokrat atau PPP. Apalagi, misalnya ada rumor juga Siadi dipasangkan dengan Willem Petrus Salamena yang sedang mencari rekom dari Partai Demokrat. 

Golkar hanya butuh 1 parpol untuk bisa mengusung Siadi. Demokrat punya 1 kursi dan PPP 2 kursi. Bila kedua parpol ini merapat ke Golkar, maka pertarungan di pilkada 2020 di Kabupaten Malang akan semakin ramai.