Petugas UPT Metrologi Legal Diskoperindag Kota Malang saat melakukan tera ulang timbangan pedagang di Pasar Bareng, Kecamatan Klojen. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Petugas UPT Metrologi Legal Diskoperindag Kota Malang saat melakukan tera ulang timbangan pedagang di Pasar Bareng, Kecamatan Klojen. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Keberadaan pedagang nakal yang mengelabuhi timbangan di pasar-pasar tradisional rupanya masih kerap dijumpai. Meski tidak semua pedagang melakukan itu, tapi jika tidak dicegah, masyarakat akan merasa dikelabuhi saat berbelanja.

Ulah pedagang nakal yang dengan sengaja menambahkan pemberat dalam timbangan membuat kebutuhan yang dibeli konsumen menjadi tak sesuai takaran. Karena itu, setiap timbangan pedagang di pasar tradisional wajib dilakukan tera ulang minimal setahun sekali.

UPT Metrologi Legal Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Malang yang bertanggung  jawab memfasilitasi tera ulang timbangan di pasar tradisional. Selama tahun 2020, ada 22 pasar yang disasar petugas untuk dilaksanakan proses tersebut.

Salah satunya, Pasar Bareng di Kecamatan Klojen. Para pedagang menaruh timbangan mereka berjejer dan mengantre untuk ditera ulang oleh petugas.

"Pelayanan tera ulang di Pasar Bareng kami lakukan selama dua hari, selanjutnya berpindah ke pasar lainnya sesuai jadwal. Tera ulang ini dilakukan setiap satu tahun sekali untuk mengecek supaya sesuai dengan ketentuan," ungkap Vivi, salah seorang petugas tera ulang, Kamis (12/3).

Prosedur tersebut dilakukan dengan mengacu pada UU Nomor 2 tahun 1981 tentang metrologi legal. Ia menjelaskan, setiap alat ukur takar dan timbangan memang diwajibkan mengikuti tera ulang secara berkala. Untuk yang sudah ditera ulang, akan ada penanda khusus.

"Ini dilakukan juga untuk melindungi konsumen supaya tidak rugi, supaya merasa tidak ada kecurangan. Orang kalau beli ke pasar lebih puas kalau timbangannya benar dan akurat," imbuhnya.

Dalam melakukan tera ulang di pasar tersebut, petugas belum menemukan adanya kecurangan. Namun, ada beberapa alat timbangan yang dinilai sudah tak sesuai untuk digunakan karena termakan usia.

Jika ada temuan, petugas juga siap melakukan reparasi agar timbangan yang dimiliki pedagang sesuai dengan takaran, tanpa ada keganjalan.

"Kalau tidak cocok petugas siap melakukan reparasi. Kalau saat ini hanya masalah konstruksi timbangan akibat sudah termakan usia ya, karena pemakaian yang cukup lama," terangnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang pasar, Nanik Nuryani. merasa fasilitasi tera ulang yang dijalankan pemerintah dinilai sangat membantu pedagang. Apalagi, proses timbangan yang terus menerus dipakai setiap hari lama kelamaan juga akan menjadikan kelemahan. 

"Membantu sekali, kadang timbangan kan sudah tidak imbang karena aus. Tapi kalau sudah ditera ulang bisa imbang lagi," ungkapnya.