Pasar Besar Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Pasar Besar Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Empat tahun mangkrak pasca-kebakaran besar 2016 silam, nasib Pasar Besar Kota Malang tak kunjung ada solusi. Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk segera melakukan revitalisasi hingga kini seakan mengambang.

Progres keputusan tim independen kajian konstruksi dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) apakah Pasar Besar akan direvitalisasi total atau hanya dibenahi, yang semula dijanjikan pekan ini rupanya belum menuai hasil.

Hal itu disampaikan Wali Kota Malang Sutiaji usai mengadakan pertemuan dengan tim independen ITS, manajemen Matahari Department Store, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Malang, dan anggota Komisi B DPRD Kota Malang di Balai Kota Malang hari ini (Kamis, 12/3).

"Dari tim ITS itu masih paparan awal. Ketika paparan, maka kami pun juga mendatangkan tim ahli. Sehingga nanti apa yang akan kami ambil, sikapnya itu berdasar pada pendukung itu," kata Sutiaji.

Artinya, baik pedagang maupun konsumen yang biasa beraktivitas di Pasar Besar Kota Malang masih belum bisa menikmati fasilitas yang memadai.

Dijelaskan, pihak Pemkot Malang  tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Karena itu, nilai kekuatan bangunan harus dilihat berdasarkan data dari beberapa kejadian yang dialami Pasar Besar Kota Malang.

"Nilai kekuatan bangunan, kuat apa tidak, itu kan dilihat dari sampling yang diambil. Tadi itu, dokumen-dokumennya belum makro. Pasar itu kan sudah tiga kali kebakaran. Bukti sampling yang diambil kemarin juga belum (disampaikan)," ungkap Sutiaji.

Dalam pertemuan tertutup yang berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam tersebut, pemkot juga menyodorkan data sandingan dari kejadian kebakaran Pasar Besar tahun 2010, 2013, hingga 2016.

Data tersebut sebagai upaya pertimbangan untuk menguatkan sampling yang diteliti  tim independen ITS sebelum memberikan final report revitalisasi Pasar Besar.

"Sandingan data itu kami berikan kepada tim ITS. Soalnya, kita tidak mau, nanti kalau dibangun, lalu 10 tahun kemudian (naudzubillah) roboh. Maka saya tidak bisa nah itu rekomendasi tim yang ini. Jadi, laporan itu menjadi bahan pertimbangan saya. Tentu bersama dengan Matahari," ucap Sutiaji.

Sayangnya, wali kota masih belum bisa memastikan kapan final report atau keputusan akhir terhadap kondisi Pasar Besar Kota Malang bisa direalisasikan. Hanya, dia meminta kepada manajeman Matahari untuk mempercepat hasil kajiannya. 

"Kami minta percepat. Namanya kami juga ada pihak ketiga. Dan dia (tim independen ITS) juga bukan kami yang bayar. Maka kami juga akan mendorong pihak Matahari supaya dipercepat," terangnya.

Saat ditanya seperti apa keinginan Pemkot Malang dalam penanganan Pasar Besar tersebut, Sutiaji menyebut hal itu harus berdasarkan kajian dan hukum yang ada. Pasalnya, untuk pasar itu, pemkot terikat perjanjian kerja sama (PKS) dengan pihak Matahari Department Store.

"Belum (apakah ingin dibangun ulang atau pembenahan saja). Karena saya bicara harus berlandaskan hukum. Kami masih ada dengan pihak ketiga. Ya, ngikuti kajian (hasil laporan akhir dari tim ITS)," tandasnya.

Sementara itu, baik tim independen ITS, pihak manajemen Matahari, dan anggota DPRD Kota Malang kompak enggan memberikan komentar berkaitan dengan pertemuan yang dilangsungkan tersebut.

"Ngapunten (maaf). Soalnya ini ada kesepakatan. Rapat ini tertutup dan satu pintu untuk informasi yang dikeluarkan. Jadi, kami belum berani untuk ngeluarkan statemen. Statemennya wali kota ya statemen kita bersama itu," kata anggota Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji.